Harga Karet Anjlok, Tiga Negara Produsen Resah

NERACA

Jakarta – Penurunan harga karet alam dalam beberapa bulan terakhir ini terjadi karena adanya perlambatan pertumbuhan ekonomi di China dan Jepang, serta pertumbuhan ekonomi yang negatif pada triwulan ke-2 di kawasan Uni Eropa. Akibat lemahnya permintaan karet dari negara-negara tersebut, maka pasokan karet alam di pasar berjangka menjadi berlebihan dan membuat harga karet terus mengalami penurunan.

Hal ini mengakibatkan tiga negara produsen karet alam dunia yang tergabung dalam kerja sama International Tripartite Rubber Council (ITRC), yaitu Indonesia, Malaysia dan Thailand telah melakukan pertemuan di Bangkok, Thailand, beberapa waktu lalu untuk membahas upaya pengembalian harga karet alam di pasar internasional yang dikhawatirkan akan terus menurun, karena melihat indikasi dari penurunan harga sudah terjadi selama beberapa bulan terakhir.

Menteri Perdagangan RI Gita Wirjawan menyatakan dukungannya terhadap hasil pertemuan ITRC untuk adanya kebijakan mengimplementasikan Agreed Export Tonnage Scheme (AETS) dan Supply Management Scheme (SMS). Harga karet alam saat ini sudah pada tingkat yang sangat mengkhawatirkan dimana pada 14 Agustus 2012 telah menyentuh US$ 279,52 per kg. Harga tersebut menurun jauh dibandingkan harga tertinggi yang pernah dicapai selama tahun 2012, yaitu pada 12 Maret 2012 sebesar US$ 387,93 per kg.

Pengendalian Produksi

SMS merupakan pengendalian produksi karet di hulu atau di tingkat perkebunan untuk jangka panjang melalui peremajaan, diversifikasi kebun, peningkatan konsumsi di dalam negeri dan tidak membuka lahan perkebunan baru. Sementara, AETS adalah mekanisme pengetatan pengurangan pasokan karet alam di pasar dunia pada saat terjadi kelebihan pasokan, sementara permintaan sedikit.

Dengan menyepakati pelaksanaan AETS dan SMS secara bersama, Indonesia, Malaysia dan Thailand berharap harga karet alam akan membaik. Ketiga negara tersebut juga sepakat untuk mendukung upaya-upaya pengendalian harga agar komoditas karet mampu memberikan imbalan yang wajar bagi para petani. “Langkah ini diharapkan akan menyeimbangkan kembali suplai dan permintaan dunia akan karet alam yang dihasilkan ketiga negara, sehingga petani karet mendapatkan remunerasi yang lebih seimbang antara biaya produksi dan harga jual,” jelas Gita melalui keterangan tertulis yang diterima Neraca, kemarin.

Implementasi dari AETS dan SMS ini rencananya akan dimonitor secara penuh oleh ITRC Monitoring and Surveillance Committee. Sekilas Mengenai Skema Stabilisasi Harga Karet oleh ITRC International Tripartite Rubber Council (ITRC) merupakan kerja sama tiga negara produsen utama karet alam dunia, yaitu Indonesia, Malaysia dan Thailand, dalam menindaklanjuti Deklarasi Bali yang disepakati pada 12 Desember 2001.

Naik Tahun Depan

Secara terpisah, Ketua Umum Dewan Karet Indonesia Azis Pane meyakini bahwa pada tahun 2013 harga karet diprediksi akan naik menjadi US$3,5 per kg dari harga saat ini yang berkisar pada harga US$2,3 – US$ 2,6 per kg. Menurut dia, pada akhir tahun 2012 ini bisa saja harga karet naik menjadi US$3,5 per kg apalagi jika suplai karet dari Indonesia dikurangi untuk pasar ekspor dunia.

Kebijakan pembatasan ekspor karet yang disepakati oleh tiga negara penghasil karet tersebsar dunia yaitu Indonesia, Thailand, dan Malaysia dinilai azis juga efektif untuk meningkatkan harga karet. "Jadi nanti bisa naik, jadi sekarang kita tahan dulu barangnya sesuai hukum supply and demand,” kata Azis.

Dia juga mengingatkan kepada produsen karet dari Indonesia untuk berhati-hati dalam melakukan pembatasan penjualan karet. Ini dikarenakan Thailand diam-diam melakukan penjualan melalui perbatasan. "Karena itu kami minta agar Thailand tidak lagi membuang karetnya lewat perbatasan, karena percuma saja dong pembatasan itu,” pungkasnya.

BERITA TERKAIT

Inklusi Kesadaran Pajak, Menuju Negara Mandiri Finansial

Oleh: Dewi Damayanti, KPP Pratama Jkt Kebon Jeruk Dua DJP *) Pajak sebagai tulang punggung pembangunan menyimpan masalah krusial yang…

Indonesia Pacu Tiga Sektor Manufaktur Jepang Tambah Investasi - Penanaman Modal di Sektor Riil

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian fokus mendorong para pelaku industri Jepang skala menengah untuk terus berinvestasi di Indonesia. Terdapat tiga…

Tertib di Tiga Tahun Pemerintahan Presiden Jokowi

Oleh: Joko Setiabudi, Mahasiswa Pasca Sarjana FISIP- UI Menjelang tiga tahun masa pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Tren Neraca Perdagangan Ikan Kerapu Tercatat Positif

NERACA Jakarta- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat dalam kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir (2012 – 2016) neraca perdagangan kerapu…

Perdagangan Internasional - Kinerja Ekspor Non Migas Terkoreksi 6,09 Persen di September

NERACA Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya penurunan kinerja ekspor Indonesia pada September 2017 sebesar 4,51 persen dari…

Kemudahan Impor Tujuan Ekspor - Kemenperin Beri Masukan Kebijakan KITE Bagi IKM

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) mengusulkan beberapa langkah strategis untuk mendukung pelaksanaan…