Keselamatan Pemudik

Oleh: Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Libur Lebaran telah berakhir, arus balik para pemudik juga sudah mulai terjadi sejak kemarin hingga akhir pekan ini seiring mulai beraktivitasnya perekonomian. Pegawai negeri sipil (PNS) dan swasta sudah mulai masuk bekerja. Namun, sepanjang libur Lebaran tahun ini jumlah tingkat kecelakaan lalu lintas di jalur mudik ternyata meningkat lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.

Berdasarkan data Polda Metro Jaya mencatat telah terjadi 152 kasus kecelakaan di wilayah hukum Polda Metro seperti Jakarta, Depok, Bekasi, dan Tangerang. Jumlah ini menurun 8% dari tahun sebelumnya yang mencapai 166 kasus. Sementara Posko Nasional Angkutan Lebaran Terpadu 2012 Kementerian Perhubungan, mencatat angka kecelakaan pada Hari Raya Idul Fitri 2012 mencapai hingga 3.600 kasus. Besaran angka kecelakaan tersebut tercatat sejak H-8 atau 11 Agustus 2012 hingga H+1 atau 21 Agustus 2012.

Dari 3600 kecelakaan yang ada, menyebabkan 638 orang meninggal. Kemudian 994 orang mengalami luka berat dan 3.444 orang mengalami luka ringan. Dari kecelakaan itu pula, kerugian materi mencapai Rp 7,4 miliar. Tentunya, selalu tingginya tingkat kecelakaan lalu lintas saat mudik dan arus balik bukanlah sebuah prestasi, tetapi menjadi catatan buruk bahwa negeri ini belum berhasil membebaskan pemudik dari ancaman kecelakaan fatal.

Meskipun, faktor utama kecelakaan adalah human error (kesalahan pengemudi) karena rendahnya kedisiplinan berlalu lintas, bukan serta merta pemerintah lepas tanggung jawab. Pasalnya, pemerintah dituding membuat pembiaran atas mereka yang mudik dengan risiko kecelakaan tinggi, seperti pemudik motor yang membawa lebih dari dua penumpang tidak pernah ditindak sesuai hukum yang berlaku.

Atas dasar itulah, pemerintah dinilai tidak tegas dalam menegakkan hukum, khususnya para pemudik motor yang membawa bawaan melebisi kapasitasnya. Maka tidak heran, sepanjang tahun tiap lebaran hampir 70% dari kendaraan yang terlibat kecelakaan adalah sepeda motor.

Sejatinya, pemerintah bisa belajar dari pengalaman mudik lebaran dan arus balik tahun lalu untuk memberikan kenyamanan, jaminan keselamatan pemudik dan menekan angka kecelakaan lalu lintas. Namun ironisnya, tingkat kecelakaan masih terus terjadi karena pemerintah lemah dan tidak serius dalam pengawasan serta evalusi selama penanganan mudik lebaran.

Kemudian maraknya mudik bareng gratis yang dilakukan perusahaan swasta dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai agenda tahunan belum juga menekan tingkat kecelakaan lalu lintas. Alasannya, banyaknya program mudik bareng selama ini tidak dibarengi pula dengan agenda balik bareng dari daerah.

Oleh karena itu, tidak heran jika animo masyarakat melakukan mudik gratis kurang karena penyediaan arus balik gratis tidak dilakukan. Selain itu, pemerintah sejatinya dapat lebih peka dalam persoalan tahunan ini, misalnya mampu menyediakan layanan angkutan umum gratis baik darat, udara dan laut. Langkah ini dilakukan sebagai subsidi langsung bagi rakyat kecil untuk menikmati mudik gratis secara aman, nyaman dan aman sampai di tujuan. Semoga!

BERITA TERKAIT

PENINGKATAN KESELAMATAN BERKENDARA

Kanan ke kiri. Direktur Blue Bird Tbk Adrianto Djokosoetono bersama Country Manager Essilor Indonesia Peter Pelnis dan GM Essilor Indonesia…

Keselamatan Penerbangan Indonesia Peringkat 55 Dunia

JAKARTA, Keselamatan penerbangan Indonesia menempati posisi 55 ranking dunia. Dari hasil On Site Visit ICAO Coordinated Validation Mission (ICVM) Organisasi…

Kondisi Kesehatan dan Keselamatan Kerja Indonesia Memprihatinkan

  NERACA   Jakarta - Aliansi Rakyat Peduli K3 menilai kondisi kesehatan dan keselamatan kerja (K3) di Indonesia masih sangat…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Pemerintah Tidak Terbuka Dengan Utang - Oleh : Edy Mulyadi Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Ngutang lagi. Kali ini berjumlah US$4 miliar dalam bentuk penerbitan global bond. Ada tiga seri global bond yang diterbitkan, masing-masing bertenor…

Finansial BUMN Konstruksi Jebol

  Oleh: Bhima Yudhistira Adhinegara Peneliti INDEF   Ambisi membangun infrastruktur ternyata membutuhkan pengorbanan yang cukup besar. BUMN di sektor…

Produk Impor dan Produk Domestik

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri   Dari sisi pasokan, baik produk impor maupun produk dalam negeri keduanya…