Jumlah Uang Palsu Naik

Jumlah Uang Palsu Naik

Jakarta –Bank Indonesia (BI) mengatakan mayoritas uang yang dipalsukan adalah pecahan Rp100.000. Bahkan tercatat, hingga Juni tahun ini, peredaran uang palsu mencapai 4 lembar dalam 1 juta lembar uang. "Pecahan yang sering dipalsukan adalah yang Rp 100.000, di tahun 2009 ada 36.377 lembar, di tahun 2010 ada 146.366, 2011 ada 61.357 dan 2012 ada 21.497 lembar," kata Direktur Departemen Pengedaran Uang Bank Indonesia, Adnan Djuanda di Bank Indonesia.

Diakui Adnan, meski sudah ada Undang Undang Mata Uang yang melarang dan memberi sanksi berat bagi siapa saja yang membuat dan mengedarkan uang palsu. Namu belum membuat efek jera bagi para pelaku. "Pada tahun 2012 ini bulan Juni, ada 4 lembar per 1 juta," ungkapnya

Namun, walau demikian jika dibandingkan negara Eropa dan Amerika, Adnan mengatakan, Indonesia masih tergolong belum begitu mengkhawatirkan. "Kalau dibandingkan negara lain kita belum terlalu gawat, Euro, US Dollar lebih tinggi dari kita, apalagi US$, itu kan internasional, lebih dari 20-30 lembar per 1 juta," katanya.

Lebih lanjut Adnan memetakan, ibukota Jakarta merupakan tempat dominan beredarnya uang palsu dengan prosentase sebesar 28% atau sebanyak 11.758 lembar. "Penyebaran terbesar terjadi di DKI dan Banten, tahun 2012, 11 758 ribu atau 28%, Jabar 9879 (24,05%), Jatim 8815 (21,46%), Lampung sebanyak 1759 (4,28%) dan daerah lain seperti Jateng," imbuhnya.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution mengatakan metode pemalsuan uang makin canggih setiap tahun, sehingga masyarakat diharapkan makin waspada terhadap peredaran uang palsu jelang Lebaran. "(Peredaran uang palsu) tidak bisa dibilang marak, tapi ada metode yang lebih canggih. Itu kan selalu ada upaya-upaya (pemalsuan) seperti itu," ujarnya

Darmin mengatakan Bank Indonesia telah merancang dan mencetak uang dengan sedemikian rupa, sehingga tidak mudah untuk dipalsukan tapi kejadian pemalsuan uang selalu terjadi dan sulit untuk dicegah. "Pada waktu kita merancang uang, (dalam pemilihan) bahan kertasnya, pengamannya, dan sebagainya, itu juga sebenarnya merupakan bagian dari upaya supaya tidak mudah dipalsukan atau ditiru," ujarnya.

Darmin membantah bahwa peredaran dan pemalsuan uang saat ini sedang lazim terjadi namun upaya tersebut memang sering terjadi, serta berulang terus setiap tahun terutama menjelang hari raya. "Sebetulnya kita sudah tahu kejadian-kejadian yang anda sebutkan tadi tapi jangan menganggap itu sudah marak. Dan itu memang selalu ada orang yang mencoba (memalsukan uang) itu," imbuhnya

Untuk itu, Bank Indonesia terus melakukan sosialiasi kepada masyarakat agar mampu mengenali tekstur dan tanda-tanda uang asli agar mampu membedakan uang palsu secara kasat mata. "Cara kita melakukan sosialisasi kepada masyarakat supaya jangan tertipu," pungkasnya. **ria

BERITA TERKAIT

Investasi Pasar Modal di Kalbar Meningkat - Catatkan 9.566 Jumlah Investor

NERACA Pontianak - Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) cabang Pontianak, Taufan Febiola mengatakan, per 31 Januari 2018 sudah…

Bitcoin Gagal Jadi Mata Uang

      NERACA   London - Bitcoin (BTC) telah gagal sebagai mata uang yang diukur berdasarkan acuan-acuan atau tolak…

Utang Luar Negeri Indonesia Naik 10,1%

      NERACA   Jakarta - Jumlah utang luar negeri Indonesia di akhir 2017 meningkat 10,1 persen (tahun ke…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Suku Bunga Acuan Diprediksi Naik Kuartal IV

      NERACA   Jakarta - Chief Economist PT Bank UOB Indonesia Enrico Tanuwidjaja memprediksi suku bunga acuan atau…

AAJI Dorong Asuransi Manfaatkan Aplikasi Digital

      NERACA   Bali - Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mendorong anggotanya untuk mengoptimalkan pemanfaatan aplikasi teknologi digital…

Bank Mandiri Bidik Pertumbuhan KPR 15%

    NERACA   Jakarta - PT Bank Mandiri Persero Tbk membidik pertumbuhan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dapat mencapai 15…