Hilirisasi Industri Rotan Tingkatkan Ekspor Mebel

NERACA

Jakarta – Beberapa waktu lalu, rotan hampir mengalami sunset industry karena kekurangan bahan baku akibat dibukanya kran ekspor bahan baku rotan mentah sejak tahun 2005. Terjadinya kelangkaan bahan bahan baku rotan akibat adanya ekspor rotan secara besar-besaran pada 2 bulan terakhir di November dan Desember 2011 sebelum pemberlakuan Permendag No. 35/2011 yaitu 1 Januari 2012.

Hal ini terlihat dari data ekspor rotan pada tahun 2011 yang mencapai 39.445 ton, kira-kira satu per tiga adalah merupakan kontribusi ekspor rotan dalam bulan November dan Desember. Kelangkaan rotan juga terjadi karena adanya peningkatan permintaan rotan dari luar negeri, yang berakibat meningkatnya permintaan ekspor dan mulai meningkatnya permintaan produk rotan di dalam negeri.

Namun, menurut Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Benny Wachyudi, setelah dilakukan hilirisasi, ekspor produk rotan pada 3 bulan pertama 2012 memperlihatkan peningkatan yang signifikan dibandingkan dengan tahun 2011. Lebih jauh lagi Benny memaparkan, 3 bulan pertama 2011 ekspor produk jadi rotan (furnitur dan kerajinan) mencapai US$ 36,07 juta dan sampai dengan Desember 2011 mencapai US$ 201,1 juta.

Sementara pada tiga bulan pertama 2012 sudah mencapai US$ 58,2 juta. Bahkan kalau dilihat dari ekspor produk rotan dari bulan ke bulan menunjukkan tren yang terus meningkat, dan diperkirakan ekspor produk rotan pada tahun 2012 akan mencapai US$ 275 juta atau meningkat sebesar 36,8%.

Bahkan, ujar Benny, sudah ada beberapa kompetitor dari negara lain yang tidak bisa memenuhi permintaan furniture rotan dan meminta produsen dari Indonesia untuk memenuhi pesanannya. Terlebih lagi, kini sudah mulai kembali kontak dagang antara industri furniture rotan dengan pembeli dari luar negeri yang selama ini tidak melakukan pembelian dan mulai ada gairah wirausaha baru di bidang industri hasil rotan, dengan adanya larangan ekspor rotan.

Hal senada juga diungkapkan oleh, Sekretaris Eksekutif Asosiasi Mebel Kayu dan Rotan Indonesia (AMKRI ) Maulana S Jaelani. Ia meyakinkan bahwa ekspor rotan pada lima bulan terakhir lebih baik ketimbang saat ekspor bahan baku rotan dibuka. "Sejumlah pembeli dari Amerika Serikat sudah kembali ke Cirebon, Solo, Surabaya dan beberapa perusahaan di Jakarta," kata Maulana.

Produksi Mebel

Sebelumnya terdapat penurunan jumlah ekspor produk rotan akibat penutupan ekspor bahan baku rotan ke luar negeri pada 2011. Terkait upaya peningkatan produksi mebel rotan. Maulana menjelaskan, akan didukung oleh sekitar lima perusahaan asal China yang berencana memindahkan pabrik mebel rotan ke Surabaya dan Cirebon.

Selain itu sejumlah perusahaan mebel rotan asal Jerman dan Vietnam juga tertarik berinvestasi di Indonesia, yang rencananya juga bertempat di daerah Surabaya dan Cirebon. Dengan jumlah investor di bidang mebel rotan tersebut diharapkan bisa meningkatkan nilai ekspor mebel rotan dan menambah lapangan kerja di dalam negeri.

Maulana mengatakan, sejumlah perusahaan tersebut ada yang sudah membeli atau menyewa tanah untuk pabrik dengan nilai investasi untuk satu perusahaan sekitar Rp100 miliar. Dalam rangka antisipasi pelaksanaan kebijakan pelarangan ekspor bahan baku rotan,untuk mencegah “issue” penumpukan rotan akibat sebagian rotan yang sebelum diekspor dialihkan untuk ke dalam negeri.

Kementerian Perindustrian melakukan meningkatkan pemanfaatan produk rotan seperti furnitur untuk instansi Pemerintah dengan pengiriman Surat Menteri Perindustrian kepada Kementerian lainnya maupun kepada Gubernur. Selanjutnya surat tersebut sudah ditindaklanjuti dengan surat Menteri Dalam Negeri kepada Gubernur dan Bupati/Walikota.

Memperkenalkan produk furnitur rotan untuk sekolah SD & SMP dengan pengadaan meja dan kursi melalui CSR perusahaan dengan target 30.000 set. Mengembangkan industri pengolahan rotan di daerah sumber bahan baku.

Meningkatkan peran resi gudang untuk menampung bahan baku rotan. Mendorong lembaga pembiayaan untuk pengadaan bahan baku rotan, sebagai contoh beberapa pengusaha di sentra produksi rotan akan membentuk lembaga pengadaan bahan baku khususnya koperasi dalam rangka mengantisipasi meningkatnya pasokan bahan baku rotan.

BERITA TERKAIT

Pemerintah Gencarkan Implementasi Program e-Smart IKM - Industri Kecil dan Menengah

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Industri Kecil dan Menengah (IKM) kembali menggelar Workshop e-Smart IKM…

Industri Galangan Kapal Perlu Manfaatkan Peluang Tol Laut - Dunia Usaha

NERACA Jakarta – Pemerintah telah mengalokasikan anggaran bagi pembangunan kapal-kapal negara untuk memenuhi kebutuhan moda transportasi laut di dalam negeri.…

Sektor Industri Desak Pemberantasan Spekulan Gas

NERACA Jakarta – Dukungan terhadap pemberantasan praktik calo (trader) pada tata niaga hilir gas bumi terus bergulir, menyusul tingginya harga…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Penanaman Modal di Sektor Riil - Indonesia Pacu Tiga Sektor Manufaktur Jepang Tambah Investasi

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian fokus mendorong para pelaku industri Jepang skala menengah untuk terus berinvestasi di Indonesia. Terdapat tiga…

Mencari Alternatif Langkah Penyelamatan Perusahaan Negara

NERACA Jakarta - Rencana pemerintah membentuk induk perusahaan (holding) Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terus mendapat kritik dari sejumlah akademisi…

Industri Kecil dan Menengah - Pemerintah Gencarkan Implementasi Program e-Smart IKM

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Industri Kecil dan Menengah (IKM) kembali menggelar Workshop e-Smart IKM…