Meskipun Lesu, MI Makin Marak Rilis Produk Baru - Equatur Rilis Reksa Dana Campuran

NERACA

Jakarta – Meskipun industri reksa dana tahun ini diperkirakan lesu, rupanya tidak membuat ciut manajer investasi (MI) meluncurkan produk baru reksa dana untuk menarik nasabah. Salah satunya yang dilakukan Equator Investments meluncurkan Reksa Dana campuran. Rencananya, Equator akan bekerja sama dengan Deutsche Bank sebagai bank kustodian.

Direktur Utama PT Equator Investments Howard Chu mengatakan, peluncuran reksa dana tersebut merupakan penerbitan reksa dana perdana setelah MI tersebut diakuisisi oleh Equator Capital Partners, “Kami memperkirakan akan adanya peningkatan volatilitas pasar modal sehingga kami membuat reksa dana yang fleksibel yang diharapkan dapat memberikan kinerja terbaik dalam kondisi tersebut, serta dapat berkembang terus dalam kondisi ketidakpastian ini,”katanya di Jakarta, Rabu (15/8).

Dia menjelaskan, dalam produk reksa dana campuran dana minimum investasi awal untuk kepemilikan unit adalah Rp500 ribu dan Rp500 untuk investasi selanjutnya. Howard menambahkan, kondisi Indonesia sangat menjanjikan dimana pasar modal Indonesia termasuk salah satu pasar modal dengan top performance selama tiga tahun berturut-turut.

Namun demikian, ketidakpastian yang melanda kawasan Eropa bersamaan dengan potensi mundurnya pertumbuhan di China mengakibatkan risiko investasi yang lebih tinggi di masa mendatang."Kebijakan investasi dari portofolio adalah 1-79 persen pada efek saham, 1-79 persen pada efek hutang dan 1-79 persen pada instrumen pasar uang," ujarnya.

Sebelumnya, Presdir PT Schroder Investment Management Indonesia Michael T Tjoajadi pernah bilang, jika industri reksa dana lesu hal itu terlihat dari pergerakannya akhir tahun lalu sampai saat ini, “Industri reksa dana almost flat sejak akhir tahun sampai sekarang. Menurut saya ada kecenderungan orang berhati-hati,”ungkapnya.

Menurutnya, hal tersebut erat kaitannya dengan kondisi di Eropa yang saat ini sedang dilanda krisis ekonomi. Alasan itupulalah, yang membuat sejumlah investor berhati-hati untuk berinvestasi. "Investor berhati-hati untuk melakukan investasi yang lebih agresif di reksa dana,”tandasnya.

Dia mengaku, kondisi pasar juga terpantau sepi, imbas dari krisis yang terjadi di Eropa. Namun, sepinya pasar tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia. Namun menurutnya, lesunya capital market global maupun regional menjadi peluang bagi capital market Indonesia untuk mempersiapkan diri menyambut masuknya aliran dana asing dengan cara meningkatkan likuiditas pasar.

Lanjut Michael T Tjoajadi, peningkatan likuiditas pasar ada beberapa caranya seperti dengan memperbanyak Initial Public Offering (IPO), right issue atau peningkatan porsi pemegang saham publik.

Hal senada juga pernah disampaikan, analis riset PT Infovesta Utama Edbert Suryajaya, ada beberapa faktor yang mempengaruhi pergerakan kinerja reksa dana pada paruh pertama tahun ini, “Faktor tersebut yakni krisis utang yang terjadi di Yunani yang melebar ke Spanyol dan Italia. Di samping itu, isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada awal tahun ini memberi imbas negatif terhadap pergerakan bursa," paparnya. (bani)

BERITA TERKAIT

Loop Arema Jadi Wahana Baru di Kota Malang

Loop Arema yang dibangun Telkomsel di kawasan Taman Singha Merjosari Kota Malang menjadi wahana baru untuk menyalurkan hobi bagi warga…

Bukalapak Rilis Tujuh Produk Reksa Dana Baru

NERACA Jakarta - Melihat tingginya minat investor terhadap produk reksa dana yang tersedia di BukaReksa, kini Bukalapak kembali menghadirkan tujuh…

Mandiri Investasi Bakal Rilis Tiga KIK EBA - Targetkan Dana Kelola Tumbuh 20%

NERACA Jakarta – Tahun depan, PT Mandiri Manajemen Investasi (Mandiri Investasi) menargetkan pertumbuhan total dana kelolaan atau asset under management…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pelindo III Cari Modal di Pasar US$ 1 Miliar

Guna mendanai ekspansi bisnisnya lebih agresif lagi, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III berencana menggalang dana dari pasar modal pada 2018…

Lagi, LPPF Buka Gerai Baru di Surabaya

Perluas penetrasi pasar, PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) membuka gerai baru berkonsep specialty store kedua di Pakuwon Mall Surabaya.…

Jasa Armada Pangkas Jumlah IPO Jadi 20%

Pilih cara aman atau konservatif agar saham IPO terserap di pasar, PT Jasa Armada Indonesia menurunkan jumlah saham yang di…