Tambal Sulam Penanganan Mudik Lebaran

Momentum libur Lebaran menjadi kesempatan emas bagi masyarakat kelas bawah untuk ikut mudik gratis yang biasanya marak dilakukan oleh perusahaan-perusahaan swasta ataupun pemerintah. Dengan mudik gratis, setidaknya masyarakat tidak perlu lagi bersesak antri berebut tumpangan dan yang terpenting bisa menekan ongkos mudik. Setiap tahunnya, masalah mudik selalu saja menyisakan masalah yang tidak pernah tuntas, mulai soal tarif, kemacetan, transportasi, hingga tingkat kriminalitas.

Masalah mudik yang belum teratasi adalah kenaikan tarif diatas kewajaran. Alasannya, sederhana karena hukum pasar disaat permintaan meningkat, tentunya kebutuhan tiket juga meningkat. Kondisi ini pula yang dirasakan mengganggu pemudik yang terpaksa harus bayar dua kali lipat beli tiket mudik, disamping calo tiket yang masih beredar. Sejatinya, maraknya perusahaan yang melakukan mudik gratis tiap tahunnya bisa menekan besarnya biaya tarif mudik dan menekan tingkat kecelakaan lalu lintas, khususnya pemudik sepeda motor. Tetapi sejauh ini fenomena mudik gratis hanyalah sebagai kegiatan seremonial yang tidak menyelesaikan masalah menekan tingkat kecelakaan lalu lintas.

Kepolisian RI mencatat, hingga H-7 lebaran 2012, jumlah kecelakaan lalu lintas telah mencapai 979 kejadian. Dari jumlah ini, sebanyak 170 orang dilaporkan meninggal dunia, 207 orang mengalami luka berat dan 872 orang mengalami luka ringan. Selain itu, kerugian material dari seluruh kecelakaan ini mencapai Rp 2,6 miliar dan sebagian terjadi di jalur Pantai Utara Jawa.

Menurut Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Danang Parikesit, fenomena mudik gratis yang disediakan berbagai perusahaan tidak akan memberikan alternatif menarik bagi masyarakat pemilik sepeda motor. Pasalnya, ketiadaan moda transportasi untuk arus balik.

Tiap tahunnya, tingkat kecelakaan lalu lintas saat mudik selalu meningkat hingga arus balik. Tentunya, persoalan ini bukan semata tugas Kepolisian mengawal dan menekan kecelakaan lalu lintas, tetapi perlu adanya edukasi lebih dalam bagi pengendara dalam displin berlalu lintas, khususnya pengedara sepeda motor. Karena biasanya tingkat kecelakaan yang tinggi saat mudik adalah pengedara sepeda motor.

Tiap tahun yang mati konyol karena sepeda motor lebih dari 20000 orang. Sebenarnya jumlah korban kecelakaan sepeda motor sudah jauh melebihi penderita HIV AID atau jumlah korban kecelakaan pesawat terbang. Oleh karena itu, sudah saatnya pemerintah harus memberikan layanan umum yang murah, nyaman, aman dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Tradisi mudik di Indonesia, lebih pada persoalan sosial ekonomi di daerah lantaran tidak terciptanya lapangan pekerja, sehingga memicu terjadinya urbanisasi. Seandainya, pemerintah daerah mampu menciptakan lapangan pekerja yang lebih banyak dan mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang merata, tentunya tidak adalagi urbanisasi yang besar dengan permasalahan kusut soal mudik.

BERITA TERKAIT

Koordinasi jadi Kunci Sukses Penyelenggaraan Angkutan Lebaran

      NERACA   Jakarta - Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menyatakan kunci sukses terhadap penyelenggaraan angkutan Lebaran seperti…

PENANGANAN SEMBURAN GAS LIAR

Sejumlah pekerja mengoperasikan RIG Besmindo di lokasi sumur Pagedangan, Tukdana, Indramayu, Jawa Barat, Rabu (10/1). Untuk menangani bertambahnya titik semburan…

KPK Sampaikan Penanganan Perkara Setya Novanto

KPK Sampaikan Penanganan Perkara Setya Novanto NERACA Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyampakan sejumlah kegiatan dalam penanganan kasus dugaan…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Kebijakan Harus Taat Azas

Pemerhati Industri dan Perdagangan, Fauzi Aziz   Definisi secara umum, kebijakan adalah suatu tindakan yang diambil melalui sebuah keputusan untuk…

Estimasi Risiko Proyek Infrastruktur

    Oleh: Ariyo DP Irhamna Peneliti INDEF   Pemerintah memiliki ambisi yang sangat besar untuk mengejar ketinggalan infrastruktur kita.…

Keniscayaan Kompetisi dan Kolaborasi

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri   Tidak ada kompetisi, dunia akan sepi. Tanpa ada kompetisi ilmu pengetahuan…