Rupiah Terus Tertekan Melemah - “BI Ragu Intervensi”

NERACA

Jakarta—Tekanan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) makin kuat. Sehingga rupiah diprediksi terus mengalami pelemahan pada perdagangan hari ini. Bahkan apresiasi Rupiah kemungkinan diperdagangkan pada level Rp9.490-Rp9.500 per dolar. "Dari dalam negeri, adanya lelang term deposit (TD) valuta asing (valas), belum mampu mengangkat rupiah," kata analis valuta asing, Rahadyo Anggoro, di Jakarta,15/8

Menurut Rahadyo, pelemahan tersebut dipengaruhi oleh sentimen eksternal. Dia menjelaskan, rilis data produk domestik bruto (PDB) Jepang yang lebih buruk ketimbang perkiraan akan membuat investor melarikan dananya pada dolar AS.

Rahadyo menambahkan, BI juga ragu untuk melakukan intervensi karena rupiah masih bergerak di range sempit. Selain itu, BI juga menjaga cadangan devisa ditengah neraca pembayaran yang defisit.

Sekadar informasi, neraca pembayaran Indonesia (NPI) pada semester II-2012 mengalami defisit 3,1% dari Produk Domestik Brutto (PDB). Defisit ini, menjadi penekan pergerakan rupiah atas US$

Sebelumnya, Analis Samuel Sekuritas, Lana Soelistianingsih mengatakan apresiasi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah kemarin. Meski begitu, pelemahan nilai tukar rupiah atas dolar AS masih terbatas.

Lana mengungkapkan bursa global melemah akibat menurunnya data pertumbuhan ekonomi Jepang dan Uni Eropa (UE)di bawah ekspektasi. "Rupiah melemah, bergerak pada kisaran antara Rp9.490-Rp9.520 per USD," ungkapnya

Menurut Lana, ekonomi Jepang tumbuh di bawah ekspektasi untuk kuartal II-2012. Jepang hanya tumbuh 0,3 % qtq atau 1,4 % yoy, di bawah ekspektasi yaitu 0,7 % qtq atau 2,3 % yoy. "Sementara itu pada triwulan ke-1 2012 lalu masih bisa tumbuh 1,3 % qtq. Dengan perkembangan ini, pertumbuhan 2012 diperkirakan sebesar 1,4 %, di bawah ekspektasi 2,7 %," jelasnya

Pelambatan ekonomi Jepang ini di antaranya karena melemahnya permintaan dari Uni Eropa disertai menguatnya mata uang yen, sehingga ekspor Jepang turun baik dari sisi volume dan daya saing harga barang Jepang.

Menurut Bloomberg, rupiah diperdagangkan dengan kurs tengah Rp9.483 per USD, merosot 2 poin dari sebelumnya. Adapun kisaran perdagangan harian berada pada Rp9.460-Rp9.516 per USD. Sementara menurut Bank Indonesia (BI), rupiah berada pada kisaran Rp9.490 per USD, turun 10 poin, dengan kisaran perdagangan Rp9.443-Rp9.537 per USD. **

BERITA TERKAIT

Kinerja Saham PGN Belum Masih Tertekan - Holding BUMN Migas Dibentuk

NERACA Jakarta - Menteri BUMN Rini Soemarno menargetkan pembentukan holding BUMN migas terwujud pada triwulan-I tahun 2018.”Setelah holding BUMN industri…

KPK dan Pemerintah Terus Tertibkan Izin Tambang

KPK dan Pemerintah Terus Tertibkan Izin Tambang NERACA Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya…

Kemenkop Terus Dorong Gerakan Kewirausahaan Nasional

Kemenkop Terus Dorong Gerakan Kewirausahaan Nasional NERACA Pekanbaru - Deputi Bidang Pengembangan SDM Kementerian Koperasi dan UKM Prakoso BS menekankan…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

OJK Kedepankan Kepentingan Nasional - Penerapan Basel III

      NERACA   Jakarta - Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan kerangka Basel III akan diterapkan dengan…

BI Paparkan 4 Tantangan Generasi Muda - Gelar GenBI Leadership Camp 2017

      NERACA   Bogor – Bank Indonesia (BI) mencatat ada empat tantangan utama yang harus disikapi oleh generasi…

Sequis Mencatat Kinerja Keuangan Positif di Kuartal III/2017

  NERACA   Jakarta - Director & Chief Agency Officer PT Asuransi Jiwa Sequis Life Edisjah menjelaskan, Sequis Life kembali…