Investor Bakal Gampang Akses Data Emiten - SISTEM PELAPORAN TERPADU DI BURSA

NERACA

Jakarta - Rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) ingin menerapkan sistem pelaporan keuangan dan informasi terintegrasi (extended business registry limited/XBRL), ditanggapi positif oleh analis bursa. Lektor Kepala FE Universitas Pancasila, Agus S Irfani menilai, kajian otoritas bursa mengenai sistem ini sangat bagus. Pasalnya, tujuan utama dari sistem ini adalah mencegah terjadinya laporan keuangan secara parsial.

“Parsial di sini maksudnya sering terjadi perbedaan antara laporan keuangan yang di audit dan nonaudit,” ujar Agus kepada Neraca, Selasa (14/8). Lebih lanjut dia menuturkan, sistem ini baiknya segera diterapkan. Akan lebih baik jika sistem tersebut ditambahkan dengan whistleblowing system serta auditor independen oleh Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK).

“Tujuannya efisiensi pasar modal Indonesia. Di luar negeri saja bisa, berarti di sini juga harus bisa,” tambahnya. Tak hanya itu saja. Alasan sistem ini harus diterapkan adalah untuk mengurangi adanya private information.

Agus mengungkapkan, saat ini masih banyak informasi dari perusahaan terbuka yang seharusnya dipublikasikan tapi faktanya tidak. Dengan berjalannya sistem ini maka tidak ada satu pihak pun yang bisa merahasiakan informasi dan bisa mengendalikan pasar.

Dia mengatakan sistem XBRL sudah dipakai di Bursa Hong Kong, Jepang, Korea Selatan, dan China. Khusus China, Agus menjelaskan bahwa negeri Panda itu mempunyai dua bursa. “Saya istilahkan bursa A untuk perdagangan investor lokal dan bursa B untuk perdagangan investor asing. Nah, bursa B ini sudah menerapkan sistem XBRL,” jelasnya.

Namun sisi lain, dirinya berharap adanya otoritas moneter yang mampu mengatur sistem ini. Pasalnya, Bapepam-LK masih sibuk bertransformasi menjadi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Lalu, diperlukan juga instrumen serta sumberdaya manusia (SDM) mumpuni.

“Yang terpenting komitmen. Kalau instrumen dan SDM-nya saja masih kurang, percuma saja. Jangan sampai menyia-nyiakan sistem ini yang bisa memakan biaya besar,” tegas dia.

Disiplin Emiten

Senada dengan Agus, pengamat pasar modal FEUI Irwan Adi Ekaputra menambahkan, masalah keterbukaan informasi dan ketepatan waktu sangatlah vital. Oleh karena itu, dirinya sangat mendukung diterapkannya sistem tersebut.

“Pasar modal itu intinya di dua hal, ketepatan waktu disclosure dan disiplin melaporkan kinerja di keterbukaan informasi. Nah, yang menjadi pertanyaan, apakah para emiten ini sudah mampu apa belum?” ujarnya, kemarin.

Lebih lanjut dirinya menjelaskan, yang dimaksud mampu di sini adalah sikap disiplin emiten dalam melaporkan laporan keuangan mereka. Karena selama ini masih banyak emiten yang telat dalam menyampaikan laporan kinerjanya.

Dia juga mengungkapkan, langkah pertama yang harus dilakukan pihak otoritas bursa melakukan kajian mendalam, seperti studi banding ke bursa luar negeri yang sudah menerapkan sistem XBRL ini, lalu mensosialisasikan kepada shareholder.

Action Cepat

Penerapan disiplin dan ketepatan waktu dalam penyampaian laporan keuangan juga disampaikan pengamat hukum pasar modal Indra Safitri. Menurut dia, Bursa Amerika Serikat (Wall Street) dapat dijadikan contoh. Dijelaskannya, jika laporan keuangan satu emiten telat, apalagi sampai di audit kembali. Itu sudah indikator awal pelanggaran serius pasar modal.

“Mereka langsung investigasi karena ada dugaan mengelabui publik. Jadi action-nya sangat cepat,” tukas dia. Lebih lanjut Indra menghimbau, baik BEI maupun Bapepam-LK, harus menegakkan hukum serta pengawasannya dengan ketat dan tegas.

Andaikata ditemukan pelanggaran hukum maka harus diproses terlebih dahulu. “Pelanggaran dimaksud antara lain memanipulasi laporan keuangan atau pelanggaran terhadap aturan pasar modal,” tandasnya.

Sebelumnya, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Hoesen menuturkan, penggunaan sistem XBRL tersebut telah digunakan di banyak negara, salah satu Hongkong. Penerapan sistem XBRL tersebut juga rekomendasi lembaga internasional seperti lembaga pasar modal internasional (Securities and Exchange Commission/SEC).

"Kami sedang memikirkan untuk pelaporan keuangan menggunakan sistem XBRL. Dalam sistem tersebut ada satu standar bahasa yang dipakai dalam teknologi XBRL," ungkap dia. Hoesen juga menambahkan, realisasi penerapan sistem XBRL tersebut paling cepat dilakukan dalam waktu dua tahun.

Penerapan sistem XBRL itu agar keterlambatan penyerahan laporan keuangan dapat dikurangi. Hal itu dikarenakan masih banyak emiten yang terlambat menyerahkan laporan keuangannya. Bahkan salah satu grup yang dinilai sering terlambat menyampaikan laporan keuangan.

"Walaupun memang kami juga memahami untuk grup yang memiliki anak usaha yang jumlahnya besar dan lini bisnisnya heterogen. Tentu induk usaha dari grup ini membutuhkan waktu untuk menyajikan laporan keuangan secara konsolidasi,” pungkasnya. didi/bani/ardi

BERITA TERKAIT

Bursa Minta Tidak Libur Saat Pilkada

Memasuki tahun politik, dimana bakal dilakukannya pemilihan kepala daerah (Pilkada) secara serentak pada tanggal 27 Juni yang akan datang, pihak…

Kapitalisasi Pasar di Bursa Tumbuh 0,24%

NERACA Jakarta - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat indeks harga saham gabungan (IHSG) dalam sepekan menjelang libur panjang Idul…

Warga Soloraya Didorong Jadi Investor SWAT

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyambut baik langkah "initial public offering" (IPO) atau penjualan sebagian saham yang dilakukan oleh perusahaan…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

SETELAH TERTUNDA SEJAK MARET 2018 - Peluncuran OSS Tunggu Putusan Presiden

Jakarta- Setelah tertunda pelaksanaannya sejak Maret hingga kini, Menko Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, rencana peluncuran sistem perizinan terpadu secara…

PENGUSAHA KHAWATIR PERLAMBATAN EKONOMI - IMF: Perang Dagang AS-China Tingkatkan Risiko

Jakarta-Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund-IMF) mengingatkan, kebijakan Presiden AS Donald Trump yang menyatakan perang dagang dengan China dapat meningkatkan…

BANK DUNIA TURUNKAN PROYEKSI PERTUMBUHAN EKONOMI 2018 - Kebijakan “Pre-Emptive” Redam Gejolak Pasar

Jakarta-Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan, kebijakan pre-emptive (menyerang) dengan menaikkan tingkat suku bunga mendahului The Fed ternyata cukup efektif dalam…