Delisting Disarankan Jadi Pilihan Terakhir - Dinilai Merugikan Investor

NERACA

Jakarta - Penerapan penghapusan pencatatan saham (delisting) terhadap emiten bermasalah seyogyanya menjadi pilihan terakhir yang dilakukan Bursa Efek Indonesia (BEI), lantaran akan merugikan investor karena mereka tidak bisa menjual saham yang sudah dibeli kepada siapa pun, terkecuali ke pemilik perusahaan itu sendiri.

“Delisting adalah pilihan terakhir kalau cara-cara yang lain seperti suspensi atau dikeluarkan dari perdagangan, tidak berhasil dilakukan. Sikap ini memang tegas tapi sisi lain merugikan investor," ujar pengamat pasar modal Budi Frensidy kepada Neraca, Selasa (14/8).

Dia melanjutkan, yang dimaksud rugi di sini apabila investor masih memegang saham emiten yang sudah di-delisting, maka nilainya nol. “Akibatnya, ya, saham tersebut tidak bisa dijual ke pasar kecuali ke negotiated market," ungkapnya.

Namun demikian, Budi berpendapat bahwa investor memang bisa mendapatkan uangnya kembali, dengan syarat, jika utang mereka dapat direstrukturisasi. "Mungkin memang ada kesalahan dari manajemen. Seperti melakukan kecurangan, atau penjualannya memang tidak bisa sebesar sebelumnya," tambah dosen FEUI ini.

Terkait sikap otoritas bursa yang terkesan tidak tegas, Budi menilai itu lebih dikarenakan kebijakan delisting merupakan pilihan terakhir untuk dijalankan. "BEI kan mau memperbesar jumlah emiten. Tentu kalau tidak ada masalah, ya, tidak akan ada delisting. Kecuali tidak ada itikad baik dari manajemen untuk memperbaiki kinerja," ucap Budi.

Sebagaimana diketahui, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Hoesen pernah bilang, pihaknya sedang mengkaji untuk melakukan forced delisting PT Renewable Power Indonesia Tbk (dahulu bernama PT Katarina Utama Tbk). Pasalnya perseroan tidak pernah membukukan laba sejak 2010 lalu.

Kemudian, Hoesen melanjutkan, manajemen Renewable sudah tidak membukukan pendapatan, beban usaha serta beban administrasi bank di tahun yang sama. Pada kuartal II-2012, perseroan membukukan rugi bersih sebesar Rp47,2 juta atau sedikit lebih baik bila dibandingkan dengan periode yang sama di 2011 yang mencetak kerugian mencapai Rp4,1 miliar.

Namun, rugi bersih di 2011 sudah mencapai Rp37,8 miliar, dan rugi bersih setahun sebelumnya Rp77,53 miliar. Sejak 18 Juli 2012, perseroan telah menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) dan Luar Biasa (RUPSLB) dan melakukan pergantian nama perusahaan serta pergantian kepemimpinan perusahaan. Sebelumnya, BEI juga menyatakan akan melakukan forced delisting terhadap PT Davomas Abadi Tbk karena dinilai tidak kooperatif dalam menyerahkan laporan keuangan 2011. [ria/ardi]

BERITA TERKAIT

Moody’s Naikkan Peringkat XL Axiata - Profil Keuangan Dinilai Stabil

NERACA Jakarta – Meski pencapaian kinerja keuangan di kuartal pertama 2018 tidak terlalu positif dengan laba bersih terkoreksi 63% dari…

Warga Soloraya Didorong Jadi Investor SWAT

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyambut baik langkah "initial public offering" (IPO) atau penjualan sebagian saham yang dilakukan oleh perusahaan…

Ini Pilihan Tempat Menginap di Bandung

Bandung menjadi "pelarian" bagi warga Jakarta yang ingin liburan sambil merasakan hawa dingin. Di musim libur, seperti Lebaran, Paris van…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Profil Keuangan Dinilai Stabil - Moody’s Naikkan Peringkat XL Axiata

NERACA Jakarta – Meski pencapaian kinerja keuangan di kuartal pertama 2018 tidak terlalu positif dengan laba bersih terkoreksi 63% dari…

Laba Bersih BULL Melesat Tajam 109,72%

NERACA Jakarta – Di kuartal pertama 2018, PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 109,72% menjadi…

Indo Straits Incar Pendapatan US$ 20,91 Juta

NERACA Jakarta – Tahun ini, PT Indo Straits Tbk (PTIS) menargetkan total pendapatan sebesar US$ 20,91 juta. Operations Director PT…