Denda Emiten Capai Rp 5,49 Miliar di Semester I-2012 - Banyak Terlambat Laporan Keuangan

NERACA

Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan, sanksi denda atas keterlambatan penyampaian laporan keuangan emiten sepanjang semester pertama 2012 mencapai Rp 5,49 miliar atau naik dibandingkan tahun lalu sebesar Rp 5,25 miliar.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI Hoesen mengatakan, keterlambatan penyampaian laporan keuangan mengalami tren meningkat. Dimana dari priode kuartal pertama tidak diaudit 2012 yang terlambat mencapai 74 emiten bila dibandingkan priode yang sama tahun lalu ada 57 emiten, “Hal yang sama juga terjadi pada kuartal kedua 2012, juga meningkat jadi 29 emiten diantaranya dua emiten obligasi dan sisa saham dari priode sama tahun lalu ada 24 emiten,”katanya di Jakarta kemarin.

Menurutnya, faktor meningkatnya keterlambatan laporan keuangan karena penerapan aturan baru soal Pedoman Standar Aturan Keuangan (PSAK) yang baru. Pasalnya, hal itu tidak semua emiten dapat langsung menyesuaikan penerapan PSAK.

Namun Hoesen mengharapkan, emiten dapat meningkatkan kedisiplinannya dan dapat menyelesaikan permasalahan keterlambatan tersebut sehingga tidak mempengaruhi image emiten dan pasar modal. Oleh karena itu, dirinya meminta kepada emiten untuk meningkatkan kedisiplinan terutama dalam penyampaian laporan keuangan dan informasi.

Berikutnya, setiap pelanggaran dan denda yang diberikan kepada emiten akan diumumkan kepada publik. Terlebih laporan keuangan dan keterbukaan informasi ini merupakan salah satu alat perlindungan terhadap investor.

Jenis sanksi yang dikenakan Bursa terkait keterlambatan penyampaian laporan keuangan, yakni peringatan tertulis untuk keterlambatan sampai 30 hari. Kemudian, peringatan tertulis kedua dan denda Rp50 juta (terlambat 60 hari).

Lalu, peringatan tertulis ketiga dengan denda Rp150 juta (sampai 90 hari), dan suspensi efek perusahaan tercatat di bursa (terlambat lebih dari 90 hari). Sementara, terkait emiten yang di suspensi selama dua tahun yakni PT Katarina Utama Tbk (RINA), pihak BEI mengaku akan menindaklanjuti penghapusan saham perusahaan itu.

Diketahui, PT Katarina Utama telah mengubah nama menjadi PT Renewable Power Indonesia,”Batas waktunya hingga 1 September 2012 mendatang untuk memenuhi kewajibannya menyampaikan laporan keuangan," ujarnya. (bani)

BERITA TERKAIT

PTPN V Kucurkan Rp 1,6 Miliar Peningkatan Pendidikan

PT Perkebunan Nusantara (PTPN) V mengucurkan anggaran sebesar Rp1,6 miliar melalui program hibah dana bina lingkungan untuk meningkatkan fasilitas pendidikan…

Pentingnya Literasi dan Edukasi Keuangan untuk Mahasiswa

Pentingnya Literasi dan Edukasi Keuangan untuk Mahasiswa NERACA Jakarta - PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (“WOM Finance” atau “Perseroan”), hari…

Industri Tekstil Indonesia Bidik Ekspor Senilai US$14 Miliar - Sepanjang 2018

NERACA Jakarta – Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional diyakini mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap penerimaan devisa dari ekspor…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Perkuat Bisnis Digital - Astra Hadirkan Tiga Platform Digital

NERACA Jakarta – Keseriusan PT Astra Internasional Tbk (ASII) mengembangkan bisnis digital diwujudkan dengan mendirikan usaha dibidang fintech. Memanfaatkan pertumbuhan…

Antam Mulai Operasikan Pabrik di Tayan

Memanfaatkan sisa di akhir tahun 2018, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) atau Antam terus mengoptimalkan produksi dan menggenjot penjualan…

Lepas 22,57% Saham Ke Publik - Darmi Bersaudara Bidik Dana IPO Rp 22 Miliar

NERACA Jakarta - Perusahaan perdagangan kayu, PT Darmi Bersaudara akan melepas 22,57% sahamnya dalam penawaran umum perdana atau Initial Public…