Perjanjian CEPA Diminta Akomodasi Nasib Pekerja

NERACA

Jakarta - Perwakilan serikat buruh dan serikat pekerja di Indonesia menyambut baik rencana Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (CEPA) antara Indonesia dan Uni Eropa. Namun dalam perjanjian tersebut perlu dipastikan nasib dan kepentingan pekerja diperhatikan.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan, bahwa sosialisasi CEPA kepada serikat pekerja sangat penting. Sebab pekerjalah yang akan merasakan dampak langsung ketika investasi masuk ke Indonesia jika CEPA jadi ditandatangani.

“Kami ingin menghimpun masukan dari pelaku usaha di daerah, asosiasi-asosiasi industri, dan perwakilan serikat pekerja tentang rencana CEPA dengan Uni Eropa. Masukan-masukan ini akan disampaikan kepada pemerintah sebagai bahan pertimbangan dalam negosiasi CEPA. Melalui konsultasi seperti ini, diharapkan CEPA dapat mengakomodasi seluruh pemangku kepentingan. Tidak seperti ASEAN-China Free Trade Agreement yang cenderung merugikan kita,” ujarnya dalam acara sosialisasi CEPA Indonesia-Uni Eropa yang digelar APINDO bersama perwakilan serikat pekerja Indonesia di Jakarta Selasa (14/8).

Sementara, Wakil Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Brunei Darussalam, dan ASEAN Colin Crooks menekankan, perlunya upaya untuk menggali lebih dalam potensi perdagangan dan investasi antara Indonesia dan Uni Eropa. Uni Eropa, adalah mitra dagang terbesar ketiga bagi Indonesia. Meskipun Uni Eropa sedang dilanda krisis ekonomi, ekspor-impor antara Indonesia dengan Uni Eropa masih tumbuh. Sekarang nilainya mencapai lebih dari US$ 30 miliar. Indonesia sendiri mengalami surplus perdagangan sebesar US$ 8 miliar per tahun.

Uni Eropa sendiri sedang melakukan diversifikasi ke pasar-pasar baru, tetapi menginginkan dijalinnya CEPA untuk mengamankan akses jangka panjang ke Uni Eropa. Dalam hal investasi, Uni Eropa adalah sumber investasi terbesar kedua bagi Indonesia. “Meski demikian, Indonesia baru memperoleh 1,6% dari investasi Uni Eropa di Asia. Investasi ini bisa diperbesar jika Indonesia dan Uni Eropa menjalin CEPA,” jelas Colin.

Tenaga Kerja Informal

Dari sisi ketenagakerjaan, dia menyoroti besarnya jumlah angkatan kerja Indonesia yang mencapai 117 juta dengan tingkat partisipasi kerja 68%. Sayangnya, meski tingkat pengangguran Indonesia menurun 6,6%, tapi kualitas lapangan kerja yang tersedia masih relatif rendah. 62% tenaga kerja Indonesia diserap di sektor informal dengan kesejahteraan dan jaminan sosial yang kurang memadai. “CEPA dapat berkontribusi pada penciptaan lapangan kerja baru di sektor formal melalui jalur perdagangan dan investasi,” ungkap Colin.

Lebih lanjut Colin memaparkan, CEPA berpotensi meningkatkan ekspor Indonesia ke Uni Eropa di sektor-sektor padat karya, antara lain minyak kelapa sawit, produk perkayuan, tekstil, garmen, dan alas kaki, perikanan dan makanan, dan lain-lain. Peningkatan ekspor berarti kenaikan produksi yang menambah penyerapan tenaga kerja di sektor-sektor terkait. CEPA berpotensi meningkatkan impor Indonesia dari UE berupa barang modal, antara lain permesinan dan peralatan industri bagi peningkatan nilai tambah industri nasional. Pengembangan industri bernilai tambah akan menciptakan lapangan kerja dengan upah yang lebih tinggi.

Perusahaan-perusahan Uni Eropa, lanjut Colin, mengutamakan pengembangan SDM (pelatihan) dan kesejahteraan (standar upah tinggi) pekerja dalam jangka panjang. Selain itu, ungkapnya, perusahaan-perusahaan Uni Eropa juga memberi manfaat bagi lingkungan dan masyarakat melalui Corporate Social Responsibility (US$ 500 juta selama 2011).

Direktur Jenderal Kerja Sama Industri Internasional Kementerian Perindustrian Agus Tjahajana, mengatakan, negosiasi CEPA dengan Uni Eropa merupakan suatu langkah panjang. Beberapa studi tentang CEPA, kata Agus, sudah dimulai namun belum cukup. Sebagai ketua tim perunding, Agus mengharapkan masukan semua pihak agar CEPA dapat mendatangkan keuntungan bagi kedua pihak. “CEPA adalah kerja sama untuk tumbuh bersama. Oleh karena itu kita harus mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan kita. Kami juga akan melibatkan kalangan akademisi untuk menganalisis berbagai aspek kerja sama ini,” tandasnya.

BERITA TERKAIT

PLUT-KUMKM, Mengubah Mindset Pekerja Menjadi Wirausaha

Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) KUMKM di Kabupaten Sukabumi mulai dibangun pada 2013 dan diresmikan Menteri Koperasi dan UKM saat…

Kenaikan Suku Bunga Diminta Tidak Besar - Berdampak Negatif Ke Pasar Saham

NERACA Jakarta – Menyesuaikan nilai tukar rupiah yang terus terkoreksi terhadap dollar AS, Bank Indonesia (BI) mau tidak mau akan…

Soal Gaji BPIP, Kader Diminta Tenang

NERACA Jakarta - Gaji para pejabat Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP) sempat menimbulkan polemik di masyarakat lantaran gaji yang terlampau…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Ini Jurus Wujudkan Indonesia Jadi Kiblat Fesyen Muslim Dunia

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus berupaya mewujudkan visi Indonesia untuk menjadi kiblat fesyen muslim dunia pada tahun 2020. Peluang…

Laporan Keuangan - Satu Dekade, Kemenperin Raih Opini WTP Berturut

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian kembali meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk laporan keuangan…

Dukung Industri 4.0 - Kemenperin Usul Tambah Anggaran Rp 2,57 Triliun

  NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian mengusulkan tambahan anggaran pada tahun 2019 kepada DPR RI sebesar Rp2,57 triliun. Anggaran tersebut…