Kualitas Gizi Anak Masih Rendah

NERACA

Perkembangan pada periode awal pertumbuhan manusia akan berdampak permanen yang akan dibawa sampai dewasa, bahkan sampai tua. Karena itu periode awal pertumbuhan ini menjadi perhatian penting bagi para ahli kesehatan.

Mereka sengaja mengadakan diskusi lintas sektoral terkait perbaikan gizi nasional demi percepatan pencapaian tujuan MDGs #4 dan #5, di Kementerian Kesehatan pada 14 Agst.

Dalam sambutannya,Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia Prof.dr. Ali Ghufron Mukti,MSc, Ph. D, mengatakan, gangguan perkembangan pada periode awal pertumbuhan akan berdampak permanen. Karena itu, intervensi yang tepat pada kelompok usia tersebut memberikan dampak besar pada kualitas sumber daya manusia kedepannya.

Laporan tahunan ke-13 ini memfokuskan pada fakta bahwa terdapat 170 juta anak di dunia yang tidak mendapatkan gizi yang mereka perlukan dalam masa 1.000 hari pertama sejak kehamilan sebuah periode emas dalam menentukan pertumbuhan dan perkembangan kesehatan mereka di masa mendatang.

Malnutrisi pada anak merupakan salah satu ancaman terbesar bagi kemampuan anak untuk bertahan hidup. Anak yang kurang gizi akan memiliki kemampuan rendah dalam melawan penyakit, ketidak mampuan untuk prestasi di sekolah dan pada akhirnya gagal mengembangkan seluruh potensi mereka secara maksimal.

Country Director Save the Children Indonesia, Ricardo Caivano mengatakan, investasi dalam solusi-solusi gizi sangat di perlukan, agar kesehatan untuk ibu hamil dan anak, serta dalam jangka panjang dapat memperbaiki perkembangan anak dan potensi masa depan mereka.

Kesehatan ibu dan anak merupakan faktor yang sangat penting dalam membantu pecapaian tujuan pembangunan. Generasi yang sehat dan cerdas adalah anak-anak yang memperoleh gizi sejak berada dalam kandungan ibu mereka.

Oleh karena itu, pengetahuan dan pemahaman tentang pentingnya gizi untuk kesehatan ibu dan anak adalah esensial dan perlu terus ditanamkan dalam benak masyarakat Indonesia melalui berbagai cara. Yaitu mempercepat penurunan angka kurang gizi pada ibu dan anak berkontruksi pada pencapaian MDG 4 (mengurangi angka kematian anak) dan MDG 5 (meningkatkan kesehatan ibu hamil).

Masalah penting yang terjadi di banyak negara, termasuk di Indonesia adalah memberikan perhatian terhadap tingginya angka kematian ibu dan anak pada saat atau setelah proses melahirkan yang sekaligus menjadi bagian dari pencapaian MDGs.

Sedangkan, data nasional Indonesia menyebutkan masalah neonatal masih tinggi dengan menyumbang 46,2% kematian bayi. Kematian pada bayi ini di sebabkan oleh pendarahan ketika sedang melahirkan sebesar 30%, eklamsia 25%, dan infeksi sebesar 12%.

Permasalahan kematian ibu dan anak di Indonesia dipicu oleh berbagai hal termasuk malnutrisi, kemiskinan, dan rendahnya pengetahuan ibu tentang gizi untuk anak-anak mereka, di tambah tradisi yang justru membuat ibu tidak boleh mengkonsumsi makanan bergizi, masi terus berlangsung di berbagai negara di dunia termasuk Indonesia.

Masalah ini membentuk siklus malnutrisi yang terus terjadi dari generasi ke generasi berikutnya, sehingga terciptalah sebuah generasi yang tidak sehat dan kurang mampu memanfaatkan seluru potensi yang dimilikinya secara maksimal.

Dr. Trisnawati Gandawijaya menegaskan, laporan dari stage of the World's Mothers 2012 ini memberikan sejumlah rekomendasi. Pertama, fokus pada pemberian gizi di 1000 hari pertama memperbesar cakupan enam intervensi, pemberian ASI, makanan pelengkap ASI, zat besi, vitamin A, zinc/iseng, dan menjaga kebersihan.

Ditambah memperkuat cakupan dan pengetahuan para pekerja kesehatan dari masyarakat dengan investasi yang minimum serta kesehatan dirinya sendiri dan anaknya. Membentuk kaloborasi lintas sektor mulai dari pembuat kebijakan, pihak swasta, komunnitas, dan pihak terkait lainnya untuk melakukan tindakan nyata guna memperbaiki kesehatan ibu dan anak, terutama praktek menyusui.

"Kami berharap langkah-langkah ini dapat menghentikan jutaan anak dari ancaman kematian akibat malnutrisi."

dengan setiap ibu diberikan kemampuan untuk memberikan gizi yang paling dibutuhkan oleh bayi selama 1000 hari pertama keidupannya secara alami, yaitu dengan pemberian ASI.

BERITA TERKAIT

KPK: Pemimpin Terjebak Korupsi Karena Integritas Rendah

KPK: Pemimpin Terjebak Korupsi Karena Integritas Rendah NERACA Wonosobo - Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Saut Situmorang mengatakan sejumlah…

Riset Genetika dan Pendampingan Difabel - FK Unswagati Tingkatkan Kualitas Calon Dokter

Riset Genetika dan Pendampingan Difabel FK Unswagati Tingkatkan Kualitas Calon Dokter NERACA Cirebon - Tidak banyak kampus di negeri ini…

Sumbangan Devisa Pariwisata Masih Terbatas

      NERACA   Padang - Bank Indonesia (BI) menilai sumbangan sektor pariwisata terhadap cadangan devisa Indonesia, masih relatif…

BERITA LAINNYA DI KESEHATAN

Menkes Ingatkan Apotek dan Apoteker Hanya Jual Obat dengan Resep Dokter

Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengingatkan apoteker hanya menjual obat dengan resep dokter guna mencegah penyebaran obat ilegal dan penyalahgunaan obat.…

Anak Sekolah Paling Rentan Terkena DBD

Anak-anak sekolah menjadi kelompok yang paling rentan terkena penyakit demam berdarah dengue."Anak-anak dari pagi dan siang duduk dalam ruang kelas…

Kemenkes Jadikan Kulon Progo Lokasi Demonstrasi Vaksinasi HPV

Kementerian Kesehatan menjadikan Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), melaksanakan program demonstrasi vaksinasi Human Papilloma Virus (HPV), pemicu kanker…