Kebangkitan Industri Dirgantara

Oleh: Munib Ansori

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Industri penerbangan nasional pernah mengecap masa keemasan pada medio 1990-an. Namun usai diterpa badai krisis ekonomi 1998, industri strategis ini mati suri, bahkan nyaris menemui ajalnya. Pun dua windu kemudian, setelah berganti presiden sebanyak empat kali, industri pesawat terbang nusantara belum mampu mengangkasa kembali.

Adalah Presiden ketiga RI BJ Habibie yang mengambil inisiatif untuk kembali menerbangkan industri pesawat di negeri ini. Saking gregetannya, perintis industri dirgantara Indonesia itu bertekad untuk meneruskan program pesawat terbang N 250. Pengembangan N-250 yang merupakan pesawat regional komuter turboprop rancangan asli IPTN (sekarang PT Dirgantara Indonesia) rencananya bakal dilanjutkan dengan pesawat jet penumpang N-2130.

Lewat PT Ragio Aviasi Industri (RAI), Habibie “turun gunung” untuk mengembalikan masa keemasan industri pesawat terbang yang dulu pernah disegani di dunia. Pengembangan N 250 ini akan didanai PT RAI bentukannya bersama dua perusahaan swasta yakni PT Ilhabi Rekatama milik Ilham Akbar Habibie dan PT Modal Elang milik mantan Dirut PT BEI Erry Firmansyah.

Rencananya, PT RAI akan memakai jasa dari PT Dirgantara Indonesia dan BPPT untuk uji desain, mesin dan sebagainya. SDM yang dimiliki PT DI dan BPPT juga akan dipakai dalam mengembangkan pesawat komersial. Yang juga menggembirakan, Habibie memastikan, perusahaan pesawat ini nantinya bukan milik keluarganya, tapi untuk masyarakat Indonesia.

Tentu saja, tekad dan upaya mantan orang nomor satu di Indonesia itu patut didukung semua pihak. Industri penerbangan Tanah Air sesungguhnya sangat potensial untuk dihidupkan kembali karena negeri ini memiliki aset SDM dan teknologi yang cukup besar. Bahkan, putra-putri terbaik dalam ilmu penerbangan yang sudah lama bekerja di perusahaan asing niscaya akan kembali ke Indonesia guna membantu mewujudkan impian hadirnya pesawat terbang nasional.

Dengan jumlah konsumen pemakai jasa penerbangan naik 15% dan jarak wilayah Indonesia yang cukup jauh, maka kebangkitan industri pesawat terbang nusantara akan mempunyai makna yang membanggakan. Maka, PT DI sebagai perusahaan BUMN strategis harus bersinergi dengan tekad pihak swasta ini. Apalagi angin segar dari kemungkinan adanya sinergi itu juga dibarengi dengan restrukturisasi PT DI yang pada akhir tahun ini menerima penyertaan modal negara (PMN) sebesar Rp1 triliun dari yang direncanakan Rp2,06 triliun.

Itu sebabnya, restrukturisasi PT DI harus dipercepat. DPR sudah menyetujui PMN ini. Sehingga Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Perekonomian, serta Kementerian Keuangan harus secepatnya memberikan lampu hijau pencairan dana tersebut.

Di titik ini, Presiden harus turun tangan dengan lekas menandatangani Peraturan Pemerintah (PP) restrukturisasi PT DI. Jika Presiden turun tangan, dana PMN akan cepat bisa dipakai untuk pembelian mesin baru agar dapat meningkatkan kapasitas produksi perseroan. Dengan begitu, era kebangkitan industri dirgantara nasional segera tiba.

BERITA TERKAIT

Arahkan Kredit Perbankan ke Industri Kreatif

    NERACA   Solo - Asosiasi Industri Animasi dan Kreatif Indonesia (AINAKI) mengeluhkan industri perbankan dan lembaga keuangan formal…

APCI: Permendag 84/2017 Berpotensi Membunuh Industri Kretek Nasional

APCI: Permendag 84/2017 Berpotensi Membunuh Industri Kretek Nasional NERACA Jakarta - Asosiasi Petani Cengkih Indonesia (APCI), yang menaungi sekitar 1,5…

Kemenperin Dorong PGN Amankan Kebutuhan Energi - Topang Pertumbuhan Industri 2018

Kemenperin Dorong PGN Amankan Kebutuhan Energi Topang Pertumbuhan Industri 2018 NERACA Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong badan usaha di…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Pemerintah Tidak Terbuka Dengan Utang - Oleh : Edy Mulyadi Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Ngutang lagi. Kali ini berjumlah US$4 miliar dalam bentuk penerbitan global bond. Ada tiga seri global bond yang diterbitkan, masing-masing bertenor…

Finansial BUMN Konstruksi Jebol

  Oleh: Bhima Yudhistira Adhinegara Peneliti INDEF   Ambisi membangun infrastruktur ternyata membutuhkan pengorbanan yang cukup besar. BUMN di sektor…

Produk Impor dan Produk Domestik

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri   Dari sisi pasokan, baik produk impor maupun produk dalam negeri keduanya…