Diversifikasi Pangan Harus Digalakkan

Ketidakseriusan pemerintah dalam mengolah pangan ini terlihat jelas saat krisis kedelai melanda negeri ini. Kedelai sebagai bahan baku tempe yang merupakan makanan pokok sebagian besar penduduk Indonesia ternyata tidak dapat dipenuhi pemerintah, sehingga harus impor kedelai dari negara lain.

Ketergantungan impor kedelai ini terungkap dari data BPS, yang dalam lima bulan pertama tahun ini Indonesia mengimpor 750.100 ton kedelai senilai US$ 424,2 juta. Negara pengimpor terbesar datang dari Amerika Serikat, yaitu 721.100 ton senilai US$ 401,6 juta.

Kemudian, impor dari Malaysia 26.000 ton kedelai senilai US$ 20,8 juta dan Kanada sebanyak 1.525 ton senilai US$887.000 dalam lima bulan terakhir ini. Sementara menurut data BPS, pada 2011 produksi kedelai lokal hanya 851.286 ton atau 29% dari total kebutuhan. Dengan begitu, Indonesia harus impor kedelai 2.087.986 ton untuk memenuhi 71% kebutuhan domestik.

Jelas, fakta tersebut sulit diterima akal sehat. Sebagai negara merdeka yang memiliki tanah luas dan subur, negeri ini ternyata tidak bisa berdaulat dalam soal pangan. Sebab itu, wajar harus ada koreksi terhadap kebijakan pemerintah di bidang pangan ini.

Bagaimanapun, ketidakseriusan pemerintah untuk membawa bangsa kita keluar dari krisis pangan menjadi permasalahan pokok sehingga produktivitas pertanian petani menjadi rendah. Ini jadi penyebab utama rendahnya produktivitas pertanian bukan akibat soal teknis, seperti kekeringan atau faktor cuaca yang selama ini sering menjadi dalih pembenar pemerintah, tetapi murni karena tidak adanya kebijakan politik kemandirian pangan secara nasional.

Di sisi lain, makin menyempitnya lahan pertanian akibat konversi lahan atau alih fungsi lahan pertanian menjadi nonpertanian, juga menjadi salah satu faktor tersendiri yang dapat menurunkan produksi bahan pangan pertanian.

Padahal, kalau kita ingat krisis pangan 2007–2008, setidaknya pemerintah cepat tanggap mengubah cara pandang pangan nasional. Krisis pangan saat itu cukup memberi pelajaran penting apakah krisis serupa bakal terulang atau tidak. Dan sekarang jadi kenyataan krisis pangan terjadi lagi di Indonesia.

Kita melihat ancaman krisis pangan dari krisis energi dan spekulasi di pasar komoditas juga belum sepenuhnya hilang. Walau harga BBM di pasar internasional cenderung menurun, krisis energi bisa setiap saat meledak jika peta geopolitik di negara produsen berubah. Hal ini pasti berdampak tak menentu bagi Indonesia, apalagi neraca ekspor-impor pangan Indonesia hingga sekarang masih negatif.

Pada saat yang sama, impor membuat kita kian tergantung pada pangan dari luar negeri. Sebab itu, kunci keberhasilan melawan krisis pangan adalah melakukan diversifikasi pangan segera dilakukan. Potensi pangan seperti sagu, sukun, dan ubi kayu yang relatif lebih tahan pada musim basah yang berkepanjangan wajar perlu digalakkan.

Negeri ini memang memiliki potensi yang besar untuk memberi pangan dunia. Sangat disayangkan dan ironis, jika potensi yang luar biasa itu tidak dimanfaatkan se-optimal mungkin. Jangan hanya menggantungkan pada pangan impor yang sejatinya dapat diproduksi di bumi Indonesia.

BERITA TERKAIT

Infrastruktur, Harga Pangan dan Bansos Diklaim Membaik - KINERJA 3 TAHUN PEMERINTAHAN JOKOWI-JK

  NERACA Jakarta – Pemerintah kabinet kerja genap berumur tiga tahun. Selama tiga tahun dalam kepemimpinan Presiden Joko Widodo dan…

Produksi Lele Bioflok Sokong Suplai Pangan Berbasis Ikan

NERACA Sleman- Menteri Kelautan dan Perikanan yang diwakili Sekjen KKP, Rifky E Hardijanto melakukan panen perdana budidaya lele sisitem bioflok…

Proses Politik, Ekonomi dan Sosial Budaya Harus Selaras

Fauzi Aziz, Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri Transformasi Indonesia memang tidak bisa lepas dari proses politik, proses ekonomi dan proses…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

Awas Korupsi di Desa

Membanjirnya anggaran negara ke desa pada hakikatnya bertujuan mulia, yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Namun pada kenyataannya, banyak aparat…

Apresiasi Kinerja Jokowi-JK

Memasuki usia ke-3 tahun pemerintahan Jokowi-JK, masyarakat sudah merasakan dinamika pembangunan yang positif. Tidak heran jika pemerintah mengklaim pertumbuhan ekonomi,…

Komitmen Anies-Sandi Ditunggu

  Pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Salahuddin Uno akhirnya resmi memegang tampuk kepemimpinan birokrasi pemerintahan Provinsi DKI Jakarta. Kita mendukung…