Laba Indo Tambangraya Tumbuh 20,16% di Semester I-2012

NERACA

Jakarta – Sepanjang semester pertama 2012, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) mencatatkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik perusahaan naik 20,16% menjadi US$246,74 juta dibandingkan periode yang periode yang sama 2011 sebesar US$205,33 juta.

Informasi tersebut disampaikan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin. Disebutkan, penjualan bersih perseroan naik 24,12% menjadi US$1,20 miliar YoY dari US$970,31 juta. Harga pokok penjualan perseroan naik menjadi US$798,16 juta YoY dari US$629,46 juta.

Sementara laba kotor perseroan naik menjadi US$406,19 juta pada paruh pertama 2012 dari periode yang sama 2011 sebesar US$340,84 juta. Beban penjualan perseroan naik menjadi US$66,84 juta YoY dari US$39,83 juta. Laba bersih per saham dasar yang dapat diatribusikan kepada pemilik perusahaan naik menjadi 0,22 pada semester pertama 2012 dari semester pertama 2011 sebesar 0,18.

Kemudian total liabilitas perseroan turun dari US$497,67 juta pada 31 Desember 2011 menjadi US$493,86 juta pada 30 Juni 2012. Ekuitas perseroan turun menjadi US$1,02 miliar pada 30 Juni 2012 dari 31 Desember 2011 sebesar US$1,08 miliar. Kas perseroan turun menjadi US$531,96 juta pada 30 Juni 2012 dari 31 Desember 2011 sebesar US$612,41 juta.

Sebagaimana diketahui, PT Indo Tambang Raya Mega Tbk menargetkan produksi sebesar 27 juta ton tahun ini. Sementara target penjualan akan mengikuti hasil produksi. Biasanya perseroan menargetkan kenaikan produksi sekitar 10% dari target sebelumnya.

Tahun ini kenaikan 2 juta ton disebabkan antara lain turunnya target produksi untuk Jorong karena turunnya jumlah reserve dan untuk Kitadin Embalut. Saat ini perseroan masih fokus dalam proses land compensation. Tapi secara long term, kenaikan ditargetkan per tahun kurang lebih sebanyak 10%.

Saat ini Jurong sedang mengalami penurun produksi. Menurut perseroan, penurunan produksi Jorong memang disebabkan reserve Jorong yang rendah sekitar 6 juta ton per akhir tahun 2011. Resource Jorong memang cukup banyak yaitu sebesar 144 juta ton, namun sebagian besar dari resource tersebut terletak dibawah sungai, sehingga untuk mengaksesnya dibutuhkan pengalihan sungai yang merupakan hal yang rumit karena mempertimbangkan masalah lingkungan. (bani)

BERITA TERKAIT

Sriboga Raturaya Bidik Dana US$ 150 Juta - Gelar IPO di Semester Satu 2018

NERACA Jakarta - Minat perusahaan untuk mencatatkan sahamnya di pasar modal cukup besar, kali ini datang dari pengelola jaringan resto…

Ekonomi Banten Triwulan-III Tumbuh 5,62 Persen

Ekonomi Banten Triwulan-III Tumbuh 5,62 Persen NERACA Serang - Ekonomi Provinsi Banten triwulan III/2017 tumbuh 5,62 persen (yoy), lebih tinggi…

Aset Bank Umum Di Jambi Tumbuh 4,75%

  NERACA   Jambi - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jambi menyebutkan, aset perbankan umum yang beroperasi di provinsi itu…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

MCAS Bukukan Penjualan Rp 1,1 Triliun

PT M Cash Integrasi Tbk (MCAS) sepanjang sebelas bulan pertama tahun ini mengantongi angka penjualan sebesar Rp1,1 triliun atau meningkat…

Generali Meriahkan Insurance Festival 2017

Sebagai wujud dukungan terhadap program pemerintah dalam meningkatkan literasi dan inkluasi keuangan, Generali Indonesia turut meramaikan Insurance Festival 2017 yang…

WTON Targetkan Pendapatan Tumbuh 20%

Optimisme tahun depan akan jauh lebih baik kondisi perekonomian dalam negeri, memacu PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) menargetkan pertumbuhan…