Defisit NPI Bisa Perlemah Rupiah

NERACA

Jakarta---Gara-gara Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mengalami defisit 3,1 % dari Produk Domestik Brutto (PDB). Maka kemungkinan hal ini akan berpengaruh pada tekanan rupiah atas dollar AS di awal pekan ini. “Defisit NPI ini, sedikit di atas ambang batas aman defisit NPI yaitu 3 % dari PDB,” kata ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Lana Soelistianingsih di Jakarta,13/8

Menurut Lana, defisit neraca transaksi berjalan membengkak menjadi 6,9 miliar dollar AS dari triwulan sebelumnya 3,2 miliar dollar AS. Sedangkan neraca modal dan finansial tercatat surplus sebesar 5,5 miliar dollar AS tetapi tidak cukup mengkompensasi defisit pada transaksi berjalan.

Defisit NPI ini terjadi selama empat triwulan berturut-turut sejak triwulan ketiga tahun 2011 lalu, tetapi dalam sumber defisit dari transaksi berjalan telah terjadi selama 3 bulan berturut-turut. "Tekanan terhadap NPI ini berpotensi membuat pelemahan rupiah," ujarnya

Yang jelas, para analis memperkiraka pekan ini, kurs rupiah bergerak dengan kecenderungan konsolidasi melemah. Pergerakan rupiah akan cenderung sideways dan berada di level yang ketat.

Analis dari BNI unit Treasury, Klara Pramesti menduga para pelaku pasar sudah merasakan liburan sehingga aktivitas agak menurun menjelang Lebaran. Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diprediksi akan lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal.

Lebih jauh kata Klara, untuk faktor eksternal pekan ini, risk aversion diprediksi masih akan menyelimuti pasar. Beragam rilis data ekonomi yang akan keluar pekan depan antara lain angka produk domestik bruto kuartal kedua Perancis, Jerman, Spanyol, dan zona Eropa. Semua data tersebut diprediksi akan lebih rendah dari periode sebelumnya. Hal ini diperkirakan turut menambah tekanan dollar AS atas rupiah, pekan ini.

Nilai tukar rupiah ditutup relatif stabil di Rp 9.478 per dollar AS (kurs tengah Bloomberg) pada akhir perdagangan pekan lalu. Sementara itu sebagian besar bursa Asia ditutup turun, tetapi bursa Indonesia (IHSG) masih naik dan minyak mentah melemah harganya.

Bursa global ditutup bervariasi pada akhir perdagangan minggu lalu. Kemungkinan pasar Asia akan variatif pada perdagangan hari ini. Rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran Rp 9.480-Rp 9.500 per dollar AS. Pada pekan lalu, kurs rupiah bergerak dengan kecenderungan melemah pada kisaran Rp 9.445-Rp 9.485 per dollar AS.

Beberapa waktu lalu, data ekonomi Indonesia menunjukkan angka produk domestik bruto kuartal kedua yang secara tidak terduga di atas ekspektasi dan naik dari periode sebelumya, berhasil mengangkat rupiah. Hasil lelang deposito berjangka, SUN, dan Sukuk yang mengalami kelebihan permintaan juga ikut menguatkan rupiah. **cahyo

BERITA TERKAIT

Nilai Tukar Rupiah di 2018 Diprediksi Kisaran Rp13.600

      NERACA   Jakarta - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memproyeksikan rata-rata nilai tukar rupiah…

Jamur Ini Diklaim Bisa Lawan Penyakit di Usia Lanjut

Kandungan dua antioksidan jamur yang sangat tinggi yakni ergothioneine dan glutathione, berpotensi membantu melawan penyakit-penyakit yang muncul seiring bertambahnya usia,…

MAKI Sesalkan Edward Soeryadjaya Belum Bisa Dihadirkan

MAKI Sesalkan Edward Soeryadjaya Belum Bisa Dihadirkan NERACA Jakarta - LSM Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) menyesalkan majelis hakim Pengadilan…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Soal E-Money, Bank Mandiri Kerjasama dengan 12 Bank

      NERACA   Jakarta - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (Bank Mandiri) telah menjalin kesepakatan strategis dalam bidang…

Perbankan Diminta Realisasikan Targat Satu Juta Rumah

  NERACA   Jakarta - Sejak digulirkannya program satu juta rumah oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemenpupera), target…

ADB Dukung Bisnis Inklusif Di Indonesia

  NERACA   Jakarta - Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) mendukung bisnis inklusif di Indonesia melalui investasi untuk sektor…