Pertumbuhan Industri Dikhawatirkan “Terlalu Panas” - Impor Masih Menggila

NERACA

Jakarta – Pertumbuhan industri nasional yang saat ini mencapai 6,7% sudah terbilang baik. Namun semua pihak tidak boleh terlena lantaran saat ini produk impor yang masuk cukup tinggi, tidak terkecuali mesin dan komponen untuk Industri Kecil dan Menengah (IKM).

“Kalau pertumbuhan industri IKM tingggi akan tetapi kemampuan memenuhi kebutuhan seperti mesin peralatan dikhawatirkan overheated,” kata Kepala Badan Pengembangan Industri Kecil (Bapik) Kementerian Perindustrian Atih Suryati di Jakarta, Senin (13/8).

Lebih jauh lagi Atih mengungkapkan, backup oleh pemerintah melalui peningkatan kemampuan mesin peralatan industri sangat diperlukan. Sehingga tumbuhnya industri tidak sepenuhnya tergantung dengan teknologi luar. “Inilah yang menjadi pekerjaan rumah kita, untuk lebih meningkatkan riset dan teknologi ke depannya. Dukungan tehnologi lokal sangat diperlukan,” tambah Atih yang pada saat bersamaan dikukuhkan menjadi Profesor Riset Badan Pengkajian Kajian Iklim dan Mutu Industri.

Sementara itu, Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kemenperin Euis Saedah menyambut baik pengukuhan kepada Atih. Selain menjadi narasumber untuk Direktorat IKM, riset-riset dilakukan Atih sangat dibutuhkan untuk mengembangkan IKM kedepannya.

“Saya akan melibatkan Prof Atih dalam program pengembangan industri kecil dan menengah di kawasan timur. Kami akan menghilirisasi singkong dan sagu untuk lebih dikembangkan,” tambahnya.

Ke depan sambung Euis akan mengidentifikasi bagaimana menghilirisasi beberapa umbi-umbian dan kacang-kacangan. “Sebagai keprihatinan Ibu Atih akan bahan baku impor yang banyak seperti terigu kedelai, nanti coba kita teliti karena separuh penelitian sudah ada di badan litbang di balai Agro,” jelasnya.

Perkuat Industri Domestik

Di tempat berbeda Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi dan Pembangunan Firmanzah mengungkapkan, peluang untuk memperkuat industri domestik Indonesia masih terbuka lebar. Sebab, pertumbuhan investasi baik penanaman modal asing (PMA) maupun penanaman modal dalam negeri (PMDN), terus meningkat signifikan. "Tingginya investasi baik PMN maupun PMDN mengindikasikan mulai meningkatnya kembali peran industri nasional," kata dia.

Dia mengatakan, realisasi investasi Indonesia selama semester I-2012 mencapai Rp148,1 triliun dengan PMDN sebesar Rp 40,5 triliun atau naik 22,7 % dari periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara PMA sebesar Rp107,6 triliun atau naik sekitar 30,4% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Realisasi investasi tersebut, menurut Firmanzah, ekuivalen dengan 52% dari target 2012 sebesar Rp76,7 triliun untuk PMDN dan Rp206,8 triliun untuk PMA.

Guru Besar Fakultas Ekonomi UI itu juga menjelaskan pertumbuhan industri pengolahan non-migas telah melampaui pertumbuhan nasional, yaitu sebesar 6,83% dengan nilai ekspor industri non-migas berjumlah US$ 122,18 miliar atau 60% dari total ekspor nasional. "Pada akhir 2012, pertumbuhan industri pengolahan non-migas diharapkan bisa mencapai 7,05 % dan pada 2013 tumbuh sebesar 8,02 %," ujarnya.

Menurut dia, kontribusi sektor industri terhadap PDB Indonesia pada 2011 sebesar 24,28% . Industri kecil masih mendominasi sebanyak 3,8 juta unit dan industri besar berjumlah 24.232 unit dengan total serapan tenaga kerja sebesar 14,54 juta orang.

Firmanzah mengemukakan perkembangan industri pengolahan non-migas diarahkan untuk membangun basis industri hilir, khususnya dalam meningkatkan nilai tambah industri. "Peningkatan nilai tambah pengolahan barang mineral seperti bauksit, nikel, bijih besi dan tembaga perlu terus dilakukan," ujarnya.

Begitu pula program hilirisasi untuk pengolahan hasil perkebunan seperti CPO, karet, cokelat, hasil pertanian, peternakan dan perikanan, menjadi keniscayaan untuk membangun struktur industri berbasis unggulan komparatif.

Dia juga memandang perlunya proporsi ekspor barang mentah Indonesia terus dikurangi agar mendapat nilai tambah, tenaga kerja dan lapangan usaha baru terus berkembang dalam sistem rantai nilai produksi. Pada saat yang sama, keinginan sejumlah investor baik dalam negeri maupun asing berinvestasi di sektor manufaktur harus sepenuhnya didukung oleh sumber daya manusia yang kompetitif. Untuk itu optimalisasi lembaga-lembaga penelitian dan riset nasional perlu diintensifkan untuk menunjang proses industrialisasi nasional.

Fiz, sapaan akrab Firmanzah, menegaskan bahwa persoalan "hard infrastructure" seperti jalan, jembatan, pelabuhan dan listrik serta "soft structure" berupa birokrasi, perizinan, regulasi dan ICT, menjadi prioritas untuk diselesaikan demi mempertahankan kinerja ekonomi saat ini.

BERITA TERKAIT

CIPS: Lindungi Petani, Waktu Impor Beras Harus Tepat

NERACA Jakarta – Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman mengatakan, pemerintah perlu mempertimbangkan waktu impor beras…

BEI Dorong Perusahaan di Babel Go Public - Optimalkan Pertumbuhan Ekonomi

NERACA Pangkalpinang – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) perwakilan Kepulauan Bangka Belitung mendorong perusahaan di daerah menawarkan sebagian saham kepada…

Pemkab Lebak Mampu Kendalikan Laju Pertumbuhan Penduduk

Pemkab Lebak Mampu Kendalikan Laju Pertumbuhan Penduduk NERACA Lebak - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak, Provinsi Banten, mampu mengendalikan laju pertumbuhan…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Revolusi Industri 4.0 Buka Peluang Dongkrak Keterampilan SDM

NERACA Jakarta – Era revolusi industri 4.0 membuka kesempatan bagi sumber daya manusia (SDM) di sektor manufaktur untuk memiliki keahlian…

RI dan Korsel Berkolaborasi Untuk Sukseskan Industri 4.0

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian RI dan Dewan Riset Nasional untuk Ekonomi, Kemanusiaan, dan Ilmu Sosial atau National Research Council…

Penanaman Modal - Industri Korea Selatan Kuatkan Komitmen Investasi US$ 446 Juta

NERACA Jakarta – Sejumlah industri manufaktur Korea Selatan dari berbagai sektor, menyatakan minatnya untuk segera menanamkan modalnya di Indonesia. Komitmen…