Fluktuasi Harga Saham Bumi Resources Diduga "Digoreng" - SEKTOR TAMBANG MASIH SURAM

Jakarta – Melemahnya harga komoditas tambang sepanjang semester I/2012, ternyata memukul kinerja sejumlah emiten perusahaan tambang yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pasalnya, di tengah pemintaan ekspor menurun, yang diperparah lagi kebijakan regulasi pembatasan ekspor bahan mentah tambang mineral juga membebani penjualan. Harga saham Bumi Resources diketahui berfluktuasi tajam belakangan ini.

NERACA

Data Kementerian Perdagangan menunjukkan ekspor batu bara turun 19% menjadi 137 juta ton pada semester I/2012. Angka tersebut setara dengan 74,4% dari produksi batu bara nasional yang mencapai 184 juta ton. Bila perusahaan tambang lain harus merevisi target, lantaran kinerjanya terkoreksi dan juga pergerakan sahamnya, sebaliknya berbeda dengan pergerakan saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).

Managing Research dari Indosurya Asset Management Reza Priyambada mengatakan, ada yang aneh pada pergerakan harga saham emiten pertambangan milik grup Bakrie ini. Pasalnya, pergerakan sahamnya di akhir Juli naik lumayan dari posisi penutupan 19 Juli 2012 sebesar Rp 310 terus mengalami kenaikan hingga Rp 420 di 24 Juli 2012 dan masih berlanjut hingga 6 Agustus 2012 di level Rp 500.

Menurut dia, tidak wajar jika kondisi kinerja perusahaan sedang menurun, namun harga sahamnya bisa melejit dari harga Rp 310 dan di lepas di harga Rp 500,”Ada indikasi "goreng menggoreng" saham,”katanya kepada Neraca di Jakarta, Minggu (12/8).

Reza mengatakan, cara ini sengaja dilakukan agar saham Bumi Resources terlihat aktif yang nantinya akan menarik perhatian pelaku pasar lainnya untuk masuk. Padahal dari sisi operasionalnya, perusahaan tambang milik grup Bakrie ini belum berproduksi semua.

Kemudian dari sisi kinerja, pemasukannya masih mengandalkan dari dividen Newmont. Sementara kontribusi dari Newmont, kata dia, mengalami penurunan karena produksi & permintaan di Newmont nya juga sedang melemah.

Pihak BRMS, kata Reza, harus segera mengklarifikasikan ada atau tidak adanya berita terkait dengan pergerakan sahamnya yang di luar kebiasaan. Apalagi Bursa Efek Indonesia (BEI) sendiri sudah mengawasi dan memberikan teguran.

Menurut dia, sebenarnya yang lebih tepat lagi BEI harus meminta klarifikasi dulu dari para pihak-pihak yang "mempermainkan" saham tersebut. Karena yang mempermainkan saham-saham tersebutkan investor institusi atau perorangan yang secara bersama-sama menggerakkan saham tersebut. “Nah, mereka bermain saham kan lewat sekuritas. Jadi, panggillah sekuritas yang disinyalir terdapat transaksi saham tersebut. Klo dari emiten kan mereka gak ada hubungannya dengan pergerakan saham di bursa,” ungkapnya.

Investor Harus Jeli

Merespon hal tersebut, investor diminta harus lebih jeli dan waspada terhadap kebenaran atas rumor yang beredar. Investor, kata Reza jangan terlalu suka bermain spekulatif bila tidak memiliki dana yang mencukupi. Pasalnya, saham-saham tersebut disinyalir ada Bandar yang mempermainkannya.

Tapi masalahnya, pihaknya tidak tahu siapa saja Bandar tersebut dan bagaimana kekuatan bandar dalam menggerakkan harga, “Jadi, intinya bandar jangan dilawan. Lebih baik masuk ke saham yang sudah pasti bisa terbaca pergerakannya dan dipahami bisnisnya,”tandasnya.

Kemudian dia juga mengakui sulit memastikan kapan harga saham pertambangan akan naik kembali seiring dengan penurunan harga batu bara selama enam bulan pertama tahun ini. Pasalnya harga saham-saham pertambangan sangat sensitif terhadap perkembangan yang ada. “Saat mulai banyak beredar berita positif, maka harga saham-saham tambang sedikit rebound, tapi nanti kalau ada brita negatif lagi, pasti mining kena dampak jual,” jelasnya.

Reza menuturkan, justeru dengan adanya krisis di pertambangan seperti sekarang ini, investor akan pindah ke saham-saham lain yang scara jangka panjang masih ada peluang naik. “Kalau di tambang, mereka lebih jangka pendek, dan hanya memanfaatkan momen waktu banyak berita positif saja,” ujarnya.

Sementara Fund Manager, menurut Reza, akan mengurangi bobot di sektor tambang agar tidak tergerus return portofolionya karena pegang saham-saham tambang. “Mereka bisa kurangi dan tambah ke bobot sektor lainnya atau masuk ke pasar obligasi sebagai penyeimbang,” pungkasnya.

Dampak Krisis Eropa

Analis dari PT Panin Sekuritas Tbk, Fajar Indra mengatakan, faktor utama kurang memuaskan kinerja perusahaan pertambangan adalah permintaan global yang dipicu oleh krisis Eropa dan perlambatan ekonomi China. "Karena permintaan berkurang, stok melimpah, maka harga turun,”ujarnya.

Dampak negatif juga dirasakan oleh emiten tambang mineral lain yang tidak hanya mengalami penurunan harga jual, tetapi juga terkena imbas regulasi pembatasan ekspor material mentah. "Tidak seperti batubara yang digunakan untuk energi, mineral lain sangat tergantung manufaktur di negara tujuan ekspor," tutur Fajar.

Menurut dia, perlambatan ekonomi di negara tujuan dapat menekan permintaan mineral dari Indonesia, terutama timah yang biasa dibeli oleh China dan Eropa. Kendatipun demikian, dia memprediksikan kemungkinan rebound saham emiten batubara terjadi pada semester kedua tahun ini. "Saya yakin ada rebound pelan-pelan karena biasanya produksi kuartal ke-3 perusahaan batubara mencapai nilai maksimum. Dan ada sejumlah emiten yang worth buying" jelasnya.

Keyakinan yang sama juga disampaikan Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Bob Kamandanu, optimis pada kuartal IV-2012 harga batu bara akan rebound. Namun, harga tidak akan bisa sampai menyentuh US$100 per ton. “Mungkin sekitar US$90 per ton,” ungkapnya.

Sementara Dewan Pakar Masyarakat Investor Sekuritas Seluruh Indonesia (Missi) Johanes Soetikno menuturkan, di dalam bursa saham menganut asas equilibrium. Di mana apabila salah satu kinerja emiten turun dan kemudian harga saham turun, maka itu akan mempengaruhi peta industri.

Adapun pasar tambang Indonesia di luar negeri, dia menilai masih cukup bagus. Pasalnya, Indonesia termasuk nomor satu untuk tambang, dan untuk timah sendiri nomor dua. “Selama power plannya masih bagus, masih menggunakan batu bara, demand-nya masih akan tetap ada, meskipun saat ini dikatakan terpuruk,”tegasnya.

Sebagai informasi, data Kementerian Perdagangan mengungkapkan, bauksit mengalami penurunan yang cukup drastis, dari 2,36 juta ton pada Mei menjadi tidak ada ekspor sama sekali. Sedangkan, ekspor nikel mengalami penurunan 78%, pada Juni ekspor nikel hanya 572.106 ton, dibandingkan Mei yang mencapai 2,8 juta ton.

Sedangkan untuk ekspor tembaga anjlok 98% dari 193.941 ton pada Mei menjadi 20.000 ton pada Juni. Sementara ekspor batu bara turun dari 30 juta ton menjadi 26 juta ton pada periode yang sama. Kondisi ini dirasakan pula PT Adaro Energy Tbk (ADRO), terpaksa merevisi target produksi tahunan sebesar 5% akibat volume penjualan paruh pertama tahun ini merosot ke 23,69 juta ton dibandingkan dengan 24,02 juta ton pada periode sama 2011.

PT Atlas Resources Tbk juga terkena dampak negatif yang tercermin pada penurunan laba bersih menjadi US$847.000 selama semester I/2012. Perolehan tersebut anjlok 64,4%% dari US$2,38 juta pada periode sama tahun lalu. Penurunan laba bersih juga dialami oleh PT Bukit Asam Tbk akibat penumpukan pasokan dan harga komoditas yang lebih rendah. Selama 6 bulan pertama 2012, emiten berkode PTBA itu meraup laba bersih senilai Rp1,56 triliun, turun 3% dari Rp1,61 triliun pada periode sama tahun lalu. Melihat kondisi ini, dipastikan sumbangan sektor pertambangan terhadap pendapatan negara akan turun. didi/lia/novi/ ardi/bani

BERITA TERKAIT

BIPI Raup Cuan di Infrastruktur Tambang - Tren Kenaikan Harga Batu Bara

NERACA Jakarta –Keyakinan membaiknya harga batu bara di tahun depan, mendorong PT Benakat Integra Tbk (BIPI) menggenjot pendapatan dari bisnis…

BI Dorong Jakarta Tingkatkan Anggaran Sektor Pariwisata

    NERACA   Jakarta - Anggaran pemerintah DKI Jakarta untuk sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dinilai perlu ditingkatkan karena…

BUMN Migas Vs BUK Migas, Mana Lebih Efisien? - PENGELOLAAN SEKTOR ENERGI

NERACA Jakarta – Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Satya Widya Yudha berharap pemerintah tidak buru-buru merealisasikan pembentukan induk usaha…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Skema Lelang Gula Rafinasi Dinilai Tidak Efektif

  NERACA Jakarta – Lembaga Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menyatakan distribusi gula rafinasi melalui mekanisme lelang dinilai tidak…

DAMPAK KENAIKAN SUKU BUNGA THE FED - BI Pertahankan Bunga Acuan 4,25%

Jakarta-Meski Bank Sentral AS (The Fed) menaikkan suku bunga acuannya 0,25%, Bank Indonesia tetap mempertahankan suku bunga acuan "7-Day Reverse…

PENGELOLAAN SEKTOR ENERGI - BUMN Migas Vs BUK Migas, Mana Lebih Efisien?

NERACA Jakarta – Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Satya Widya Yudha berharap pemerintah tidak buru-buru merealisasikan pembentukan induk usaha…