Exploitasi Energi Targetkan Pendapatan Rp 2 Triliun - Akuisisi PT Tenaga Listrik Bintan

NERACA

Jakarta – Mengandalkan penjualan batu baradan pembangkit listrik, PT Exploitasi Energi Indonesia Tbk (CNKO) optimis mampu merealisasikan target pendapatan 2012 sebesar Rp triliun. Terlebih, sepanjang semester pertama tahun ini perseroan mencatatkan pendapatan senilai Rp 1,2 triliun.

Presiden Direktur & CEO PT Exploitasi Energi Indonesia Tbk (CNKO) Henry Sitanggang mengatakan, pendapatan sepanjang semester pertama sebagian besar diperoleh dari penjualan batu bara dengan persentase 90% dan sisanya penjualan listrik,”Untuk tahun ini, target pendapatan akan mencapai Rp2 triliun dari penjualan batu bara dan pembangkit listrik,”katanya di Jakarta kemarin.

Menurutnya, untuk meningkatkan kapasitas produksi batu bara dan listrik, perusahaan yang dulunya bernama PT Central Korporindo Internasional Tbk ini melirik saham PT Tenaga Listrik Bintan (TLB) senilai Rp48 miliar dan 5 pembangkit listrik minihidro. Saat ini masih dilakukan due diligence.

Adapun TLB adalah salah satu perusahaan swasta yang menandatangani proyek power purchase agreement (PPA) dengan PT PLN untuk membangun PLTU di Tanjung Pinang, Bintan dengan kekuatan 2x10,8 MW. CNKO berencana mengakuisisi 60% saham TLB yang saat ini masih dimiliki PT Sakti Mas Mulia senilai RP48 miliar.

Gandeng Investor Strategis

Selain itu, perseroan juga menggandeng investor strategis untuk mengembangkan usaha tambang dan pembangkit listrik."Kita akan menggandeng beberapa negara yang masih strategic investor terhadap bisnis batu bara dan energi, dan kebanyakan mereka berasal dari luar negeri," ungkap Henry Sitanggang.

Adapun beberapa negara yang tengah dibidik perseroan sebagai investor strategis adalah Korea, Vietnam, Thailand, India, dan Filipina. "Negara-negara ini akan kita ajak kerjasama untuk mendanai beberapa proyek untuk masuk melalui rights issue yang akan kita lakukan November mendatang," tuturnya.

Di samping itu, perusahaan juga berencana menyelesaikan proyek 5 pembangkit listrik minihidro di Sumatera, Jawa dan Sulawesi dengan target kapasitas 100 MW. “Bila akuisisi tersebut jadi, kami bisa mencatat penjualan listrik per tahun hingga Rp2 triliun,” lanjutnya.

CNKO bergerak di bidang pertambangan, pengolahan dan penjualan batu bara. Setelah listing di BEI pada 2001, perusahaan mulai merambah bisnis pembangkit listrik bertenaga uap yang menggunakan batu bara sebagai bahan bakar.

Perusahaan yang berdiri sejak 1999 itu, kini memiliki sebuah unit pengolahan batu bara di Tanah Laut, Kalimantan Selatan dengan kapasitas 250 ton/jam. Selain itu, perusahaan memiliki tiga unit pembangkit listrik dengan kapasitas masing-masing 2x7 MW, di tiga lokasi, yaitu Pangkalan Bun (Kalimantan Tengah), Rengat (Riau), dan Tembilahan (Riau).

Per tanggal 14 Oktober 2011, pembangkit listrik yang berlokasi di Pangkalan Bun secara resmi sudah beroperasi secara komersial, tetapi dua pembangkit listrik lainnya hingga saat ini masih dalam proses pembangunan dan diperkirakan selesai pada 2013. “PLTU di Riau masih dalam proses konstruksi tetapi semua barang modal sudah siap,” tambahnya.

Selama ini, pasar batu bara dan energi listrik yang diproduksi oleh CNKO diserap untuk kebutuhan nasional dengan pembeli terbesar adalah PT Perusahaan Listrik Negara.

Terbitkan Rights Issue

Sebelumnya, CNKO akan menggelar penawaran umum terbatas II dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue untuk meraup dana maksimal Rp2,7 triliun. Rencananya, perusahaan energi ini akan melepas 5,4 miliar saham dengan nilai maksimal Rp500 per saham.

Disebutkan, perseroan akan menggunakan dana tersebut untuk mengembangkan bisnis di bidang batu bara dan energi, melalui akuisisi PT EBI. Dana akuisisi akan digunakan EBI untuk mengakuisisi lima perusahaan senilai Rp2,3 triliun dan sisanya sebesar Rp400 miliar bakal digunakan untuk modal kerja EBI setelah akuisisi.

Untuk melaksanakan rights issue, CNKO akan meminta persetujuan rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 27 September 2012. Rights issue ini akan dilakukan pada Oktober 2012 dengan arranger PT Danareksa Sekuritas.

CNKO juga menyiapkan anggaran belanja Rp430 miliar tahun ini untuk modal kerja pertambangan batu bara dan konstruksi pembangkit listrik.Dana tersebut akan diambil dari kas internal dan pinjaman perbankan. “Kami menyiapkan Rp150 miliar untuk modal kerja pertambangan batu bara dan Rp280 miliar untuk konstruksi PLTU. Sebagian besar dana akan diperoleh dari perbankan,” ujarnya. (bani)

BERITA TERKAIT

Pertamina Konsisten Kembangkan Energi Terbarukan

      NERACA   Jakarta - PT Pertamina (Persero) secara konsisten mengembangkan energi baru dan terbarukan bagi masyarakat Indonesia…

Kemenperin Dorong PGN Amankan Kebutuhan Energi - Topang Pertumbuhan Industri 2018

Kemenperin Dorong PGN Amankan Kebutuhan Energi Topang Pertumbuhan Industri 2018 NERACA Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong badan usaha di…

PTBA Bidik Pendapatan Tumbuh 20% di 2018 - Garap Proyek PLTU Mulut Tambang

NERACA Jakarta – Optimisme membaiknya harga tambang batu bara di tahun depan, menjadi sentimen positif bagi emiten tambang untuk memacu…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pelindo III Cari Modal di Pasar US$ 1 Miliar

Guna mendanai ekspansi bisnisnya lebih agresif lagi, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III berencana menggalang dana dari pasar modal pada 2018…

Lagi, LPPF Buka Gerai Baru di Surabaya

Perluas penetrasi pasar, PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) membuka gerai baru berkonsep specialty store kedua di Pakuwon Mall Surabaya.…

Jasa Armada Pangkas Jumlah IPO Jadi 20%

Pilih cara aman atau konservatif agar saham IPO terserap di pasar, PT Jasa Armada Indonesia menurunkan jumlah saham yang di…