Harga BBM Dinilai Mengada-Ngada - Dalam UU Migas

NERACA

Jakarta—Masyarakat mempertanyakan masalah penetapan harga bahan bakar minyak (BBM) dan Pertamax dalam Undang-Undangan Minyak dan Gas Bumi (Migas). "Jadi ketika UU Migas yang tentang harga BBM itu dibatalkan, lalu dibuat kaki-kaki baru bahwa yang dimaksud BBM itu Premium, Pertamax bukan BBM. Saya bilang ini mengada-ada," kata Pengamat Ekonomi dari Universitas Gajah Mada (UGM) Revrisond Baswir di Jakarta, Kamis,9/8.

Dengan pemisahan kategori antara BBM dan Pertamax, Revrisond menilai terjadi persoalan dalam penetapan harga masing-masing bahan baker tersebut. "Pertamax kan BBM juga, lalu harga BBM boleh dikendalikan, namun Pertamax diserahkan ke mekanisme persaingan," ujarnya.

Menurut Dosen FE UGM ini, melambungnya harga Pertamax karena mengikuti harga pasar membuat pemerintah berupaya menghilangkan produk Premium dan menggantinya dengan Pertamax. "Pemerintah berusaha meniadakan Premium. Jadi, ini yang kita lihat sekarang, ada indikasi kuat sekali bahwa pemerintah ingin konsumsi Premium ditekan sedemikian rupa, lalu konsumsi Pertamax yang digenjot," ungkapnya

Untuk itu, ahli pada uji materi UU Migas ini meminta ketegasan kepada pemerintah untuk membedakan kategori yang tergolong dalam BBM, yang akan memengaruhi kebijakan harga Pertamax yang akan diserahkan ke mekanisme pasar atau dikendalikan pemerintah.

Sementara itu, PT Pertamina (Persero) mendata, realisasi penyaluran BBM subsidi sampai Agustus ini telah jebol empat persen dibandingkan dengan kuota yang disepakati dalam APBN-P 2012 sebesar 40 juta kiloliter (kl). "Realisasi penyaluran BBM PSO sudah over empat persen secara total, kalau di Jabodetabek saja premium sudah over 38 persen," kata Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Hanung Budya di Jakarta.

Menurut Hanung, sampai bulan ini, Pertamina telah menyalurkan premium sekira 24 juta kl. Dia bersama pemerintah sendiri bukannya tidak menghitung jebolnya kuota BBM subsidi ini, Hanung menyebut sampai akhir tahun, realisasi penyaluran BBM subsidi bisa mencapai 42-44 juta kl, lebih tinggi dibandingkan penyaluran BBM tahun 2011 lalu di 41,7 juta kl. "Kalau enggak ditambah kuota, habisnya pertengahan November untuk solar dan premium. Kalau aftur masih bisa karena penyalurannya masih," terangnya

Terkait dengan program pembatasan BBM subsidi sendiri, Hanung menyebut bahwa rencana tersebut akan berjalan sesuai dengan rencana seperti pelarangan menggunakan solar bagi kendaraan pertambangan mulai September mendatang. "Pelarangan penggunaan BBM PSO di Jawa Bali untuk kendaraan dinas sudah efektif, kita sedang monitoring seberapa peningkatan. Sampai saat ini belum signifikan memang karena masih terlalu awal, tapi yang kita harapkan ada penurunan dan peningkatan penggunaan pertamax," pungkasnya. **cahyo

BERITA TERKAIT

BPS Sumsel Catat Harga Daging Ayam Turun

BPS Sumsel Catat Harga Daging Ayam Turun NERACA Palembang - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga daging ayam di Sumatera…

Harga Bawang dan Cabai di Sukabumi Anjlok

Harga Bawang dan Cabai di Sukabumi Anjlok NERACA Sukabumi - Harga bawang dan cabai di pasar tradisional Kota Sukabumi, Jawa…

Yusril: Misrepresentasi dalam Kasus SAT Tidak Ada dan Tidak Pernah Terjadi

Yusril: Misrepresentasi dalam Kasus SAT Tidak Ada dan Tidak Pernah Terjadi NERACA Jakarta - Pengacara senior Yusril Ihza Mahendra mengemukakan…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Tol JORR Berlakukan Contraflow Sampai 3 Oktober

      NERACA   Bekasi - PT Jasa Marga (Persero) Tbk melakukan uji coba rekayasa lalu lintas 'contraflow' atau…

Ekspor Kakao Diproyeksikan Tumbuh Hingga 10% - Permintaan Tinggi

      NERACA   Jakarta – Di tengah pesimisme sebagian pengusaha sektor perkebunan akan kinerja ekspor pada penghujung tahun…

PT Lintas Marga Sedaya Raih Pembiayaan Rp8,8 Triliun

    NERACA   Jakarta - PT Lintas Marga Sedaya (LMS), menerima pembiayaan sindikasi sejumlah Rp8,8 triliun. Pembiayaan sindikasi ini…