Impor Mesin Otomotif Diperkirakan US$ 2 Miliar - Sepanjang 2012

NERACA

Jakarta - Hingga akhir tahun ini, impor mesin otomotif di dalam negeri diperkirakan mencapai US$2 miliar seiring meningkatnya permintaan mobil baru. “Dengan pertumbuhan pasar mobil yang terus membaik, impor mesin otomotif diprediksi menyentuh angka US$2 miliar. Untuk tahun lalu, impor mesin otomotif sekitar US$5 miliar,” kata Direktur PT Astra Otoparts Tbk, Gustav A. Husein di Jakarta, Kamis (9/8).

Sedangkan Menteri Perindustrian, M.S Hidayat mengatakan, industri otomotif telah memanfaatkan fasilitas pembebasan bea masuk (BM) impor peralatan dan mesin impor melalui PMK 76/2012. “Dalam waktu dekat, pemerintah akan mengeluarkan regulasi untuk mengatur insentif lain di bidang otomotif, yakni insentif fasilitas pembebasan BM impor komponen yang belum bisa diproduksi di Indonesia,” katanya.

Pemerintah menurut Hidayat, tengah menyiapkan regulasi yang mengatur insentif pembebasan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) untuk mobil hybrid impor. “Jangan sampai, setelah diberi insentif selama dua tahun impor dan fasilitas-fasilitas pendukung, ternyata banyak alasannya. Tidak jadi investasi, padahal mereka sudah memanfaatkan pasar di Indonesia dan harus terbukti dulu fasilitas produksinya di sini dan ada teknologinya,” paparnya.

Hidayat menambahkan, pihaknya fokus memperkuat industri komponen otomotif di dalam negeri. Saat ini, tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) komponen otomotif rata-rata telah mencapai 85%. “Sisanya yang 15% lagi hanya masalah waktu, akan bisa kita penuhi. Yang belum bisa diproduksi adalah transmisi, mesin, dan axle,” tandasnya.

Bea Nol Persen

Pemerintah resmi memberlakukan pembebasan bea masuk mesin dan komponen otomotif mulai pada 21 Juni 2012. Pembebasan bea masuk tersebut ditetapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK)Nomor 76/MK.011/2012, merupakan perubahan atas PMK nomor 176/PMK.011/2009.

Dalam pemberlakuan tersebut, Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) dengan bebas mengimpor mesin dan komponen mobil ke Indonesia tanpa dikenakan biaya sepeserpun. Pemberlakuan tersebut otomatis disambut baik oleh sejumlah pelaku industri otomotif di Indonesia.

Direktur Honda Surabay Center (HSC) Rudy Surjanto, menyampaikan, pemberlakuan bea masuk tersebut belum bisa mempengaruhi harga jual mobil di Indonesia, salah satunya Honda. Dalam proses penjualan Honda, pihaknya melalui Honda Prospect Motor (HPM) menggunakan skema yang disepakati melalui Asean Free TradeArea (AFT).

“Sejauh ini masih belum ada perubahan harga karena kami pake skema Asean. Aturan mengenai pembebasan bea masuk ini tidak langsung mempengaruhi harga jual mobil di Indonesia. Akan tetapi, aturan yang dirilis pemerintah akan merangsang industri otomotif yang berujung pada pembukaan lapangan kerja,” ujarnya.

Kendati demikian, ia menegaskan akan menyesuaikan harga jual mobil Honda di Indonesia jika terjadi perubahan kebijakan AFTA akibat pemberlakuan bea masuk impor di Indonesia terhadap komponen mesin otomotif. Dia optimistis pemberlakuan bebas bea masuk impor tersebut berdampak positif bagi masyarakat. “Akan ada penyesuaian harga kalau ada penurunan kembali dan sesuai dengan kesepakatan AFTA,” tandasnya.

Seperti diketahui, pembebasan bea masuk ini diyakini pemerintah akan memberi stimulus bagi industri komponen kendaraan bermotor. Terutama bagi pengembangan produk mobil murah dan ramah lingkungan. Peraturan ini, juga akan memberikan kepastian hukum bagi perusahaan yang telah memperoleh fasilitas pembebasan bea masuk, tapi belum merealisasi seluruh importasi barang dan bahan dalam waktu empat tahun.

BERITA TERKAIT

BNI Syariah Bukukan Laba Rp246 miliar

      NERACA   Jakarta - BNI Syariah membukukan laba bersih Rp246 miliar pada triwulan III-2017, tumbuh 14,6 persen…

Bank Sumut Targetkan Kelola Dana Nasabah Prioritas Rp400 miliar

      NERACA   Medan - Bank Sumut menargetkan jumlah nasabah prioritas hingga akhir 2017 mencapai 300 dengan total…

SiLPA Mencapai Rp600 Miliar Lebih - Piutang Tagihan PAD Depok Naik Rp442,9 M

SiLPA Mencapai Rp600 Miliar Lebih Piutang Tagihan PAD Depok Naik Rp442,9 M NERACA Depok - ‎Kondisi format APBD Kota Depok…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Perdagangan Internasional - Kinerja Ekspor Non Migas Terkoreksi 6,09 Persen di September

NERACA Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya penurunan kinerja ekspor Indonesia pada September 2017 sebesar 4,51 persen dari…

Kemudahan Impor Tujuan Ekspor - Kemenperin Beri Masukan Kebijakan KITE Bagi IKM

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) mengusulkan beberapa langkah strategis untuk mendukung pelaksanaan…

Tingkatkan Daya Saing - Standar Keamanan Produk Perluas Ekspor Mamin

NERACA Jakarta – Pengembangan inovasi dan penerapan standar keamanan produk mampu memacu daya saing industri makanan dan minuman (mamin) nasional…