Pemerintah Dinilai Lemah Lindungi Investor Lokal

NERACA

Jakarta – Pemerintah dituding belum menunjukkan sikap keberpihakan terhadap kepentingan nasional terhadap kasus sengketa dengan pengusaha asing yang menjadi mitranya dalam berinvestasi.

Hal tersebut disampaikan pengamat hukum internasional Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana. "Ini bukan soal diskriminatif atau tidak, namun sikap keberpihakan seperti ini sangat penting dilakukan negara terhadap kepentingan nasional"katanya di Jakarta kemarin.

Menurutnya, sikap pemerintah terhadap kepentingan nasional masih lemah dan hal ini dialami investor dalam negeri pada PT Kaltim Parna Industri anak perusahaan Mitsubishi dari Jepang. Disebutkan, mitranya dari Jepang melakukan penggelapan produk amonia dan mengelola perusahaan secara tidak patut, sehingga pemilik saham dari pihak Indonesia selama belasan tahun tidak pernah menerima deviden.

Selain itu, kasus yang sama juga terjadi pada PT Audio Sumitomo Techno Indonesia (ASTI) di Semarang yang memperlakukan karyawannya secara tidak professional sehingga membuat serikat pekerjanya melakukan aksi demo di Kedutaan Besar Jepang.

Dia juga berpendapat bahwa terkait dengan pengelolaan atau eksploitasi sumber daya alam, negara harus mengutamakan kepentingan dalam negeri (domestik market obligation). Hal senada juga disampaikan Mantan Sekretaris Negara (Sesmen) BUMN Said Didu, negara tidak memiliki politik yang kuat terkait ini.

Menurutnya, selama ini pengusaha nasional berjuang sendirian kalau terjadi masalah. Hal ini berbeda sekali dengan kondisi di luar negeri, di mana bila terjadi masalah dengan pengusaha asing, negara sebagai pelindung kepentingan ikut campur tangan untuk mengambil solusi tepat, “Di kita semuanya sangat mandiri. Pengusaha harus menyelesaikan masalahnya sendiri,”ungkapnya.

Kata Said Didu, Indonesia memang membutuhkan investasi atau penanaman modal asing untuk pembangunan nasional. Namun jangan sampai mengorbankan kepentingan nasional untuk mendatangkan investasi asing tersebut. "Kelemahan kita dalam hal investasi adalah kita tidak memiliki technical politic dan technical financial yang kuat, sehingga asing dengan mudah mendikte kita,”tandasnya. (bani)

BERITA TERKAIT

Menteri Pertahanan RI - Industri Pertahanan Lokal Lakukan Terobosan Teknologi

Ryamizard Ryacudu  Menteri Pertahanan RI Industri Pertahanan Lokal Lakukan Terobosan Teknologi Jakarta - Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu menilai industri…

Jokowi: Ada 42 Ribu Aturan Hambat Investasi - KEBIJAKAN DESENTRALISASI DINILAI BERMASALAH

Jakarta-Presiden Jokowi mengungkapkan, masih ada peraturan di tingkat pusat hingga daerah yang menghambat investasi, bahkan jumlahnya mencapai 42.000 aturan. Sementara…

SMF Sebut Minat Investor Cukup Tinggi - Obligasi Kelebihan Permintaan

NERACA Jakarta - PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) menilai minat investor untuk berivestasi pada surat utang (obligasi) cukup tinggi seiring…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

TBIG Berikan Layanan Kesehatan di Jateng

Sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR), PT Tower Bersama InfrastructureTbk (TBIG) memberikan bantuan pangan dan…

BEI Perpanjang Suspensi GREN dan TRUB

Lantaran belum melakukan pembayaran denda, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memperpanjang penghentian sementara perdagangan efek PT Evergreen Invesco Tbk (GREN)…

Bukalapak dan JNE Hadirkan Layanan JTR

Sebagai bentuk komitmen Bukalapak untuk terus berusaha memberikan layanan terbaik dan mengoptimalkan jasa layanan pengiriman barang besar yang dapat mempermudah dan…