Kekalahan di CAFTA Jangan Terulang di CEPA - Perdaganan Bebas

NERACA

Jakarta – Trauma atau pengalaman buruk akibat perjanjian perdagangan bebas, memberikan sikap pesimistis dikalangan pengusaha Indonesia untuk menjalin kerjasama dengan asing. Karena itu, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengingatkan perlunya Indonesia belajar dari pengalaman buruk dengan China - ASEAN Free Trade Agreement (CAFTA).

Perjanjian yang terlalu menitikberatkan pada akses pasar tersebut dirasakan banyak pihak sebagai penyebab membanjirnya produk China yang banyak memukul pengusaha dalam negeri. “Pengalaman dengan CAFTA, tidak boleh terulang lagi dalam Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) antara Indonesia dan Uni Eropa,” ujar Ketua Umum Apindo Sofjan Wanandi di Jakarta, Rabu (8/8).

Karenanya, dia menghimbau pengusaha untuk aktif memberikan masukan kepada pemerintah tentang hal-hal yang harus diperhatikan dalam negosiasi CEPA. Hanya dengan begitu, kepentingan pengusaha akan terakomodasi dalam CEPA antara kedua negara.

Tak kurang dari 35 perwakilan asosiasi industri barang dan jasa mendapat kesempatan berdialog langsung dengan perwakilan pemerintah Uni Eropa dan Indonesia tentang perjanjian ekonomi yang akan mulai dinegosiasikan kedua pihak November nanti.

“Masukan dari asosiasi-asosiasi industri akan dihimpun menjadi rekomendasi yang akan kami sampaikan kepada pemerintah sebagai bahan negosiasi CEPA antara Indonesia dan Uni Eropa. Negosiasi sendiri rencananya akan dimulai November mendatang ketika presiden kedua negara bertemu di Bali,” kata Sofjan.

Sementara, Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Brunei Darussalam, dan ASEAN Julian Wilson lebih banyak menyoroti tentang kondisi perdagangan dan investasi Indonesia-Uni Eropa yang sangat berpotensi untuk ditingkatkan. Uni Eropa, ungkap Julian, adalah mitra dagang terbesar ketiga bagi Indonesia. Meskipun Uni Eropa sedang dilanda krisis ekonomi, ekspor-impor antara Indonesia dengan Uni Eropa masih tumbuh.

Sekarang nilainya mencapai lebih dari US$ 30 miliar. Indonesia sendiri mengalami surplus perdagangan sebesar US$ 8 miliar per tahun. Meski demikian, nilai perdagangan ini masih lebih kecil dibanding Singapura (US$ 65 miliar), Malaysia (US$ 45 miliar), dan Thailand (US$ 40 miliar). Uni Eropa sendiri sedang melakukan diversifikasi ke pasar-pasar baru, tetapi menginginkan dijalinnya CEPA untuk mengamankan akses jangka panjang ke Uni Eropa.

Tingkatkan Investasi

Dalam hal investasi, Uni Eropa adalah sumber investasi terbesar kedua bagi Indonesia. Investasi Uni Eropa di Indonesia yang hanya EUR 800 juta pada 2006 kini meningkat menjadi sekitar EUR 2,8 miliar pada 2012. Satu juga orang Indonesia kini bekerja di lebih dari 1.000 perusahaan Uni Eropa di Indonesia. “Meski demikian, Indonesia baru memperoleh 1,6% dari investasi Uni Eropa di Asia. Investasi ini bisa diperbesar jika Indonesia dan Uni Eropa menjalin CEPA,” jelas Julian.

Beberapa sektor usaha Indonesia yang berpotensi memperoleh keuntungan dengan dijalinnya CEPA, di antaranya kelapa sawit; perkayuan; tekstil, garmen, dan alas kaki; produk perikanan dan makanan; dan otomotif. Minyak kelapa sawit adalah produk ekspor terbesar Indonesia ke Uni Eropa (EUR 1,6 miliar dari EUR 16 miliar). Uni Eropa sendiri adalah pengimpor minyak kelapa sawit terbesar ketiga di dunia, yaitu sebanyak 4,7 juta ton per tahun. Dengan dijalinnya CEPA, tarif impor minyak kelapa sawit dari Indonesia bisa dihapuskan (tarif sekarang yang 3.8%-12,8%). Selain itu, Uni Eropa juga dapat mendatangkan teknologi untuk membantu sektor kelapa sawit Indonesia go green.

Indonesia mengekspor kertas dan paperboard, furnitur kayu, dan kayu lapis senilai US$ 1,2 miliar ke Uni Eropa. Indonesia dan Uni Eropa juga menjalin Voluntary Partnership Agreement (VPA) yang hanya mengizinkan kayu yang memenuhi undang-undang lingkungan Indonesia untuk diekspor ke Uni Eropa. Melalui CEPA, tarif Uni Eropa untuk produk kayu (sekarang 3,5% dengan sistem GSP dan 7% dengan MFN) dapat dihilangkan atau dikurangi. Sedangkan dalam bidang otomotif, dengan dijalinnya CEPA, produsen-produsen otomotif potensial dari Uni Eropa tertarik untuk menanamkan investasi lebih besar di Indonesia, misalnya untuk membuat mobil listrik dan hybrid dan mendorong produksi low-cost green car (LCGC) domestik.

CEPA akan menjadi perjanjian yang menguntungkan karena perdagangan Indonesia-Uni Eropa bersifat saling melengkapi, bukan persaingan langsung. CEPA juga akan menciptakan beberapa keuntungan langsung bagi Indonesia, antara lain terciptanya ekspor tambahan sebesar US$9 miliar, terutama untuk industri ringan dan perlengkapan transportasi, dan PDB tambahan sebesar US$ 6,3 miliar.

Dirjen Kerjasama Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Iman Pambagyo menyoroti perlunya memasukkan sektor jasa dalam perundingan CEPA Indonesia-Uni Eropa. Menurut Iman, Uni Eropa merupakan ekonomi yang memiliki sektor jasa dengan daya saing yang tinggi, sehingga berpotensi memberikan kontribusi bagi pengembangan investasi di sektor jasa Indonesia.

Butuh Persiapan

Iman menambahkan, kerja sama dengan Uni Eropa di sektor jasa juga dapat meningkatkan daya saing penyedia jasa di Indonesia. Selain itu, jasa juga merupakan “pelumas” bagi seluruh perekonomian nasional. Dia juga mengingatkan bahwa perundingan CEPA dapat berkembang menjadi kompleks dengan dimasukkannya isu-isu seperti tarif, sektor jasa dan investasi, belanja pemerintah, kebijakan persaingan, termasuk isu-isu sensitif seperti hak kekayaan intelektual, lingkungan, dan tenaga kerja.

Tanpa persiapan yang baik, menurut Iman, hasil perundingan akan bersifat asimetris. Dalam menyongsong CEPA, Iman Pambagyo berpendapat bahwa pengembangan kapasitas perlu dilakukan untuk menyiapkan dunia usaha nasional dalam menghadapi persaingan di pasar domestik dan memanfaatkan pembukaan akses pasar secara maksimal.

BERITA TERKAIT

Menteri Dalam Negeri - Jangan Ada Lobi-Lobiu Anggaran Dengan DPRD

Tjahjo Kumolo  Menteri Dalam Negeri Jangan Ada Lobi-Lobiu Anggaran Dengan DPRD Jakarta - Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo memperingatkan seluruh…

Ketua MPR RI - Jangan Kotak-Kotakkan Pancasila

Zulkifli Hasan  Ketua MPR RI Jangan Kotak-Kotakkan Pancasila Malang, Jatim - Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Zulkifli…

Sebelum Pembangunan Pasar Pelita Capai 20%, Pengembang Jangan Tarik Uang Dulu - Walikota Sukabumi M. Muraz

Sebelum Pembangunan Pasar Pelita Capai 20%, Pengembang Jangan Tarik Uang Dulu Walikota Sukabumi M. Muraz NERACA Sukabumi - Walikota Sukabumi…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Indonesia-Tanzania Tingkatkan Relasi Perdagangan

NERACA Jakarta – Dubes RI untuk Tanzania Ratlan Pardede melakukan pertemuan dengan Presiden Zanzibar Ali Mohamed Shein pada Jumat (24/11)…

Stabilitas Harga Kebutuhan Pokok Terus Dijaga

NERACA Jakarta – Kementerian Perdagangan berupaya menjaga stabilitas harga dan pasokan barang kebutuhan pokok (Bapok) menghadapi Hari Besar Keagamaam Nasional…

Dunia Usaha - HIMKI Tentang Wacana Dibukanya Kran Ekspor Log dan Bahan Baku Rotan

NERACA Jakarta - Ketua Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Soenoto mengatakan sampai saat ini masih ada pihak-pihak yang…