Pemerintah Minta Bank Genjot DPK - Demi Investasi

NERACA

Jakarta - Pemerintah mendesak kalangan perbankan nasional untuk terus meningkatkan Dana Pihak Ketiga (DPK). Alasanya besarnya DPK bisa mengurangi ketergantungan terhadap pinjaman dalam berinvestasi. Hingga kini besar DPK perbankan baru mencapai 32% dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB). "Saving kita itu 32 % dari GDP Sangat rendah, padahal kita memerlukan investasi yang besar," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa di Jakarta,8/8

Menurut Hatta, bila dana tersebut tidak ditingkatkan maka sulit untuk tidak bergantung dari dana pinjaman untuk berinvestasi. "Kalau ketersediaan dari saving ini rendah, itu bisa tidak ketersediaan dana mengakibatkan selalu dana pinjaman yang kita pakai. Jadi saving harus ditingkatkan," paparnya.

Di sisi lain, ia menilai, perbankan jangan hanya menikmati keuntungan dari margin bunga bersih (NIM) yang tinggi. "Harus menjaga juga agar pembiayaan untuk investasi itu tetap terjaga, dengan bunga yang kompetitif, karena kita juga bersaing," ujarnya.

Ditempat terpisah, Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara memperingatkan gap kredit dan dana pihak ketiga atau penghimpunan dana perbankan di Sulut yang makin besar. "Ini harus diseriusi, terutama masyarakat harus terus ditumbuhkan untuk punya sifat suka menabung, tetapi juga jadi pekerja keras dan punya komitmen. Dengan demikian, pada akhirnya berpotensi mendorong penghimpunan dana di perbankan," kata Kepala Perwakilan BI Provinsi Sulut, Suhaedi, di Manado, Rabu.

Menurut Suhaedi, Kredit perbankan Sulut per Juni 2012 tercatat sebesar Rp17,5 triliun. Sebaliknya, penghimpunan dana masyarakat atau dana pihak ketiga (DPK) Rp15,37 triliun. Laju pertumbuhan penghimpunan dana yang cenderung tumbuh lebih rendah ketimbang ekspansi kredit harus mendapat perhatian lebih serius oleh berbagai pihak, termasuk kalangan perbankan itu sendiri.

Guna mendorong masyarakat semakin rajin menabung di bank. Namun, hal ini tergantung dari masyarakat itu sendiri. Bila mereka rajin menabung dan komitmen pada pekerjaan, berarti mereka akan mendapat pendapatan yang akan menjadi investasi jangka panjang.

Menabung, kata Suhaedi, merupakan investasi yang masih diabaikan masyarakat, padahal manfaatnya sangat besar. Bukan hanya dana tersebut untuk disalurkan dalam bentuk kredit ke usaha produktif, melainkan juga meningkatkan kapasitas ekonomi masyarakat itu sendiri sehingga semakin tangguh. "Perlu penerapan teori sepeda, yakni pertumbuhan ekonomi itu harus dengan kecepatan minimum dan harus ada keseimbangan seluruh tubuh. Kalau tidak, sepeda itu akan jatuh," kata Suhaedi. **ria/cahyo

BERITA TERKAIT

Toyota Akan Gelontorkan Investasi Baru Untuk Mobil Listrik

Toyota melalui PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) siap menggelontorkan untuk pengembangan mobil listrik di dalam negeri, yang ditargetkan pemerintah…

Pemerintah Segera Berlakukan Tarif Pajak 0,5 Persen Untuk UMKM

Penurunan tarif pajak penghasilan (PPh) final untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang beromzet di bawah Rp 4,8 miliar…

DPR Minta KPK Tak Buka Perseteruan Kelembagaan

DPR Minta KPK Tak Buka Perseteruan Kelembagaan NERACA Jakarta - Anggota Komisi III DPR RI Arsul Sani mempersilakan Komisi Pemberantasan…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Perbankan Berlomba Tawarkan Layanan dan Produk Digital

      NERACA   Jakarta - Laporan Maverick Banking Media Performance Report Q1-2018 menyebutkan bahwa industri perbankan semakin beradaptasi…

Dukung Transaksi Non Tunai, Bank DKI Raih Penghargaan

      NERACA   Jakarta - Bank DKI meraih penghargaan The 1st Trendsetter e-Money dan peringkat II E-banking kategori…

Allianz Indonesia Formulasikan Strategi Life Changer

      NERACA   Jakarta - Country Manager dan Presiden Direktur Allianz Life Indonesia Joos Lowerier mengatakan saat ini,…