Antam Berharap Harga Nikel Membaik di Semester II-2012

NERACA

Jakarta – Merosotnya harga nikel di pasar global tidak membuat PT Aneka Tambang Tbk (Antam) lantas menurunkan target produksinya di tahun 2012. Direktur Utama Antam, Alwin Syah Lubis mengatakan, Antam tetap menargetkan penjualan ferronickel di 2012 sebesar 18.000 ton.

“Sampai Semester I-2012 kita sudah mengapalkan 51% dari target penjualan ferronickel tahun ini,” ujarnya kepada wartawan di Jakarta, Selasa (7/8).

Alwin mengakui, turunnya harga ferronikel sepanjang enam bulan pertama 2012, merupakan akibat krisis ekonomi global khususnya di Eropa yang belum pulih. Bahkan belakangan ini China juga sedikit terimbas oleh krisis global tersebut.

Meski demikian, imbuh Alwin, permintaan tidak turun. Maka dari itu, ia berharap ada kenaikan harga ferronickel pada Semester II-2012 guna memenuhi target penerimaan.

“Harga ferronickel sejak Semester I-2012 sampai hari ini berkisar US$ 7 per pound atau US$ 14.500 per ton. Idealnya harga ferronickel adalah US$ 9 per pound atau US$ 20.000 per ton,” jelas Alwin. Harga sebesar US$ 9 per pound merupakan ambang psikologis harga ferronickel. Mengingat biaya produksinya rata-rata US$ 8 per pound. “Di China, kalau harga ferronickel US$ 8 per pound saja, sudah langsung berhenti berproduksi smelternya,” tambah Direktur Keuangan Antam, Jaya Tambunan.

Jaya mengakui, penjualan emas berhasil menutupi kekurangan penerimaan Antam. Sepanjang Semester I-2012 hingga saat ini, harga emas rata-rata berada di kisaran US$ 1.600 per troy onces. Lebih rendah dari 2011 yang pernah mencapai di atas USD 1.600 per troy ons. Sejauh ini hasil penjualan emas berhasil menutupi hingga 51% penerimaan Antam.

“Namun kita tidak bisa seenaknya menaikkan produksi emas, karena biaya produksi juga pasti naik. Terlebih tambang emas kita di Pongkor – Jawa Barat dan Cibaliung – Banten adalah tambang bawah tanah, yang secara teknis sulit dilakukan peningkatan produksi dalam waktu cepat. Target produksi emas Antam sendiri di 2012 sebesar 3,1 ton,” jelas Jaya.

Terkait kompleksitas kondisi tersebut, menurut Alwin yang paling memungkinkan dilakukan guna mengantisipasi turunnya penerimaan akibat tak kunjung naiknya harga ferronickel, ialah menaikkan produksi dan penjualan bijih (ore) nikel. Menggenjot produksi nikel lebih mudah karena tambangnya open pit (terbuka). “Kita berharap bisa menaikkan produksi dan penjualan nikel hingga 8 juta ton pada 2012,” kata Alwin lagi.

Maka dari itu, Alwin berharap krisis ekonomi global khususnya di Eropa bisa berangsur pulih pada Semester II-2012. Atau paling tidak krisis itu tidak meluas. “Kalau China dan Korea Selatan tidak terkena krisis atau krisisnya tidak terlalu parah pada Semester II-2012, mungkin kita bisa menggenjot penerimaan. Tetapi kalau tidak, ya terpaksa kita harus mengoreksi target penerimaan di 2012,” tandasnya.

BERITA TERKAIT

UKM Berharap Ada Aturan Baku e-Commerce

Sejumlah pelaku usaha mikro kecil dan menengah berharap pemerintah segera membuat aturan baku perdagangan barang/jasa secara elektronik (sistem daring) demi…

Harga Saham Telkomunikasi "Berguguran" - Aksi Ambil Untung Investor

NERACA Jakarta – Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Kamis (12/10) di warnai aksi jual investor asing untuk melakukan…

Antam Kuras Kocek Rp 1,32 Miliar - Ekplorasi Tiga Komoditas

NERACA Jakarta - Selain melakukan eksplorasi nikel dan emas,  PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) juga berniat menambang komoditas bauksit. Dalam…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Produksi Lele Bioflok Sokong Suplai Pangan Berbasis Ikan

NERACA Sleman- Menteri Kelautan dan Perikanan yang diwakili Sekjen KKP, Rifky E Hardijanto melakukan panen perdana budidaya lele sisitem bioflok…

Industri Transportasi - Revolusi Media Digital Untuk Layanan Kereta Api

NERACA Jakarta - Saat ini DKI Jakarta dan sekitarnya sedang menggalakkan pembangunan infrastruktur untuk memenuhi kebutuhan transportasi umum di dalam…

Kemitraan Indonesia-Uni Eropa Didorong Lebih Seimbang

NERACA Jakarta – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mendorong perundingan dari Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia dan Uni Eropa (IEU CEPA)…