Neraca Perdagangan Terancam Defisit - Sepanjang 2012

NERACA

Jakarta - Neraca perdagangan Indonesia sejak bulan April hingga Juni terus mengalami defisit, pertumbuhan impor diprediksi akan terus menanjak pada angka double digit, sedangkan ekspor justru mendatar, bahkan cenderung melandai. Director Head of Global Markets Tha Hongkong and Shanghai Banking Corporation (HSBC) Ali Setiawan mengungkapkan, melalui indikator tersebut, maka neraca perdagangan Indonesia pada akhir tahun ini berpotensi mengalami defisit.

“Ada potensi negatif. Saat ini tren impor akan semakin kencang. Sementara ekspor, kalau nilainya sama dengan tahun lalu saja sudah bagus,” katanya pada acara HSBC Meetings, Selasa malam. Pesimisme nilai ekspor tersebut, menurut dia, seiring dengan terus merosotnya ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT), yang sebagian besar pasarnya membidik Eropa. Di sisi lain, harga batubara dan karet yang menjadi komoditas unggulan ekspor Indonesia juga terus terkoreksi.

“Saat ini kementerian sedang menjaga agar defisit tidak lebih rendah dari minus 2%. Angka psikologis defisit neraca perdagangan Indonesia berada pada minus 3%,” ujar Ali. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada periode Januari-Mei 2012, impor nonmigas Indonesia tumbuh 17,39% dari US$52,51 miliar pada periode yang sama 2011 menjadi US$61,65 miliar. Sementara ekspor nonmigas hanya tumbuh 0,04% dari US$61,69 miliar pada periode yang sama 2011 menjadi US$64,26 miliar.

Akan tetapi, walaupun tren impor terus menanjak dengan pertumbuhan jauh di atas ekspor, tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Pasalnya, komoditas yang diimpor Indonesia adalah barang modal, seperti mesin, dan lain-lain, yang peruntukannya untuk mendongkrak produktivitas industri nasional. “Ekspor Indonesia melandai karena komoditas andalannya, TPT, sebagian besar dipasarkan ke eropa. Akan tetapi, ekspor produk pertanian sejauh ini masih positif,” kata Ali.

Untuk kembali mendongkrak ekspor, menurut dia, Indonesia harus segera merambah pasar baru, seperti Amerika Lain, Timur Tengah, Afrika Selatan, dll. Selama ini, transaksi perdagangan Indonesia masih didominasi Asia Tenggara, Cina, dan Jepang, dengan kontribusi hampir 65%. Kendati stabilitas neraca perdagangan Indonesia mulai terusik, namun menurut Nirmala, perekonomian Indonesia cukup tangguh di tengah ancaman dampak krisis Eropa dan belum benar-benar pulihnya ekonomi Amerika Serikat.

Konsumsi Domestik

Pasalnya, sebagian besar perekonomian Indonesia, 60%-65% dikuasai konsumsi domestik. “Ekspornya hanya 20%. Akan tetapi, bukan berarti Indonesia kebal krisis,” terang Ali. Dia menambahkan dengan tingginya kontribusi konsumsi domestik, membuat ketahanan Indonesia dalam menghadapi dampak krisis Eropa jauh lebih baik dibandingkan Singapura dan Malaysia. Dalam kondisi terburuk, menurut dia, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bisa bertahan pada angka 4%.

“Akan tetapi, dari sisi pasar modal dampaknya pasti besar karena selama ini didominasi asing. Obligasi 30% dikuasai asing. Kalau Amerika Serikat dan Eropa anjlok, dana asing pasti akan ditarik. Sebagai gambaran, pada 2008 dana yang keluar dari obligasi hampir Rp 40 triliun dan daham terkoreksi hingga 70%,” jelas Ali.

Dia juga memperkirakan defisit neraca perdagangan yang cukup besar tersebut akan berpengaruh besar terhadap gerak rupiah terhadap dollar AS. "Kita melihat, kenaikan indeks di pasar saham dan pasar obligasi, kini tidak serta merta mengangkat rupiah signifikan," ujarnya. Ali menilai, defisit neraca perdagangan akan berpengaruh terhadap likuiditas dollar AS yang mengering di pasar. Semakin tinggi defisit, semakin sulit orang mencari dollar AS di Indonesia. Ini mengakibatkan harga dollar semakin mahal bila dikonversi ke mata uang rupiah.

"Terlebih setiap akhir bulan, korporasi berlomba-lomba mencari dollar AS untuk penyelesaian kewajiban pembayaran impor," jelasnya. Namun sampai akhir tahun, Ali percaya bahwa Bank Indonesia (BI) akan menjaga rupiah di level Rp 9.300-Rp 9.500 terhadap dollar AS sampai akhir tahun nanti. "Level Rp 9.500 adalah level psikologis rupiah," pungkasnya.

BERITA TERKAIT

Luhut: Dubes Harus Mampu Berikir “Out of The Box” - EKSPOR MOBIL RI KE VIETNAM MULAI TERANCAM

Jakarta-Menko bidang Kemaritiman Luhut B. Pandjaitan menilai, Indonesia harus menjalankan politik luar negeri yang lebih ofensif, dengan tetap mengedepankan kepentingan…

Defisit Transaksi Berjalan Turun

  NERACA Jakarta - Bank Indonesia mencatat defisit transaksi berjalan sepanjang 2017 sebesar 17,3 miliar dolar AS yang berarti 1,7…

Defisit BPJS Kesehatan Jangan Sampai Hentikan Layanan Kesehatan

  NERACA   Jakarta - Defisit yang dialami oleh program BPJS Kesehatan jangan sampai menghentikan layanan tersebut karena merupakan hal…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Genjot Investasi dan Ekspor, IKTA Dipacu Perdalam Struktur

NERACA Jakarta – Industri Kimia, Tektsil, dan Aneka (IKTA) merupakan kelompok sektor manufaktur yang berkontribusi signfikan terhadap Produk Domestik Bruto…

Sepanjang Januari 2018 - Panen Belum Merata, Harga Gabah Kering dan Beras Tercatat Naik

NERACA Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya kenaikan harga gabah kering panen dan gabah kering giling selama Januari…

KLHK Optimistis Ekspor Produk Kayu 2018 Meningkat

NERACA Jakarta – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan optimistis ekspor produk kayu nasional pada 2018 akan meningkat dibandingkan…