Multifinance Syariah Bakal Tumbuh 5 Kali Lipat - Dampak Aturan Soal DP

NERACA

Jakarta – Sejak diberlakukannya aturan batasan uang muka atau down payment (DP) oleh Bank Indonesia (BI), mulai marak multifinance menawarkan pembiayaan syariah karena tidak dikenakan aturan tersebut.

Oleh karena itu, menurut pengamat keuangan syariah Adiwarman Azwar Karim, kondisi ini membuat industri pembiayaan syariah bakal mengalami peningkatan empat sampai lima kali lipat dibandingkan sebelum adanya aturan tersebut,”Aturan soal DP akal menaikkan permintaan pembiayaan syariah mencapai 4-5 kali lipat, hal itu karena tidak berlakunya aturan kenaikan batas minimal untuk DP kendaraan dalam pembiayaan syariah,”katanya kepada Neraca di Jakarta, kemarin

Meskipun demikian, menurut dia, sebelum adanya aturan soal batasan DP kendaraan motor diberlakukan, batas DP kredit kendaraan bermotor pada perbankan konvensional hanya 5%, sedangkan perbankan syariah sudah 10-15%. Artinya, sebelum adanya aturan ini, DP di multifinance syariah sudah mencapai 15%, dan angka kredit bermasalah (NPL) hanya sebesar 1%.

Kata Adiwarman, selain mengurangi risiko kredit bermasalah, peningkatan multifinance dengan pembiayaan syariah disebabkan dalam pembiayaan syariah memberikan kepastian cicilan. Hal ini berbeda dengan konvensional yang bisa berubah-ubah mengikuti tingkat suku bunga bank.

Oleh karena itu, dirinya menyakini, akan terjadi penambahan pembiayaan industri keuangan syariah sampai dengan Rp15 triliun hingga akhir tahun ini. Padahal sebelumnya, pembiayaan otomotif berbasis syariah diproyeksikan hanya akan mengalami peningkatan sekitar Rp3-5 triliun.

Menurut Adiwarman, pembiayaan syariah ini memberikan kontribusi yang signifikan pada tiga sektor, yaitu multifinance syariah, asuransi syariah, dan bank syariah. Dalam perjalanannya, Adiwarman mengakui, ada perusahaan multifinance dengan pembiayaan syariah yang keluar dari standarisasi syariah. Hal itu kemungkinan sebagai cara untuk menarik konsumen, padahal dalam praktiknya belum sepenuhnya mengacu pada standarisasi pembiayaan syariah. “Jika dikatakan taat asas, ya, mereka taat asas, tapi ada saja yang menyimpang dari standar syariah,”ungkapnya

Karena itu, lanjutnya, bagaimanapun pembiayaan syariah ini juga perlu diatur dan perlu diperketat audit serta pengawasan terhadap multifinance yang menggunakan pembiayaan syariah. Paling tidak nantinya, down payment untuk kredit automotif pada pembiayaan syariah sekitar 15%. Dimana angka tersebut dinilai bisa memberikan keleluasaan terhadap konsumen dan menghindari terjadinya kredit bermasalah.

Sebelumnya, ekonom syariah Agustianto mengatakan, dari total 190 perusahaan multifinance, sepertiganya akan menjadi syariah lantaran banyak multifinance memanfaatkan kelonggaran aturan BI soal DP yang tidak memberlakukan untuk multifinance syariah sehingga membutuhkan dewan pengawas syariah.

Dirinyapun mendukung langkah multifinance hijrah ke bisnis syariah. Pasalnya, hal ini dapat memperbesar industri keuangan syariah ke depannya. “Saya lihat ini good opportunity dan bukan hanya sekedar aji mumpung untuk meminimalisasi kerugian,”tandasnya. (lia)

BERITA TERKAIT

BTPN Syariah Bakal Lepas Saham 10% - Gelar IPO di Kuartal Tiga 2018

NERACA Jakarta – Perkuat likuiditas dalam mendanai ekspansi bisnisnya, PT BTPN Syariah dalam waktu bakal melakukan penawaran saham perdana alias…

Bank Panin Tambah Porsi Saham Jadi 42,54% - Rights Issue Panin Dubai Syariah

NERACA Jakarta - Jelang rencana penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) alias rights issue, PT Bank Panin…

LABA BERSIH BANK BJB TUMBUH

Komisaris Utama Bank BJB Klemi Subiyantoro (ketiga kiri) berbincang dengan Direktur Utama Ahmad Irfan (kedua kiri), Direktur Komersial merangkap Direktur…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Presdir Hero Supermarket Mengundurkan Diri

Presiden Direktur Stephane Deutsch PT Hero Supermarket Tbk (HERO) mengundurkan diri. Pengumuman pengunduran diri tersebut disampaikan HERO dalam siaran persnya…

Tunas Baru Lampung Rilis Obligasi Rp 1 Triliun

Lunasi utang, PT Tunas Baru Lampung (TBLA) akan menerbitkan obligasi berkelanjutan I Tunas Baru Lampung tahap I tahun 2018 dengan…

Jakarta Garden City Raih PMSEA 2018

NERACA Jakarta -- Perumahan skala kota (township) Jakarta Garden City (JGC) seluas 370 hektar, yang dikembangkan PT Mitra Sindo Sukses,…