Penjualan Mamin Impor Diperkirakan Naik Hingga 20% - Sepanjang Puasa dan Lebaran

NERACA

Jakarta - Pemerintah harus segera mengambil langkah konkret sebelum pasar habis tergerus, seiring dengan pemberlakuan liberalisasi perdagangan di ASEAN. Lonjakan produk makanan dan minuman impor terjadi, karena produsen domestik tak mampu penuhi permintaan pasar menjelang Lebaran nanti. Para importir makanan dan minuman tak mau kalah momentum dengan menyerbu Indonesia, penjualan makanan impor mulai mengalami peningkatan saat memasuki puasa lalu hingga Lebaran mendatang.

Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Franky Sibarani mengatakan bahwa penjualan produk makanan dan minuman (mamin) impor di bulan puasa dan Lebaran tahun ini bakal meningkat 15%-20%. "Setiap ada peningkatan konsumsi di dalam negeri pasti memberikan peluang bagi makanan dan minuman impor masuk ke pasar lokal," katanya, di Jakarta, kemarin.

Lonjakan penjualan makanan impor karena tidak terpenuhinya permintaan beberapa jenis produk makanan oleh produsen domestik. Misalnya, produk olahan berbahan baku daging dan ikan. Makanan berbahan baku terigu dan minuman siap saji bisa pebisnis lokal penuhi. Menurut Franky, lonjakan impor makanan mulai terjadi sejak Mei lalu. Secara tradisi, impor makanan meningkat dua bulan sebelum puasa. Saat mendekati puasa, status makanan impor ini sudah masuk tahap distribusi dan siap dipasok ke berbagai daerah, termasuk ke luar Jawa.

Pertumbuhan Pasar

Pertumbuhan penjualan makanan dan minuman di pasar dalam negeri yang selalu di atas 10% saban tahunnya, menjadi peluang bagi produsen makanan impor. Apalagi adanya keterbatasan pasokan untuk produk tertentu, seperti yang berbahan baku daging dan ikan. Dengan demikian, peningkatan penjualan produk makanan impor jelang Lebaran nanti pun bakal berkontribusi di semester kedua ini.

Franky memprediksi penjualan produk makanan impor di semester kedua tahun ini bisa tumbuh 10%-12% dari periode yang sama tahun lalu. Alhasil, impor produk makanan sepanjang tahun ini diprediksi bakal melonjak 10% dibanding tahun lalu. Kalau tahun lalu nilai impor makanan dan minuman sebesar Rp33 triliun, maka tahun ini diprediksi bakal menyentuh angka Rp36 triliun.

Produk makanan asal Malaysia diprediksi masih menyumbang kue pasar makanan impor yang terbesar. Tahun lalu, pangsa pasar produk makanan asal negeri Jiran mencapai 23,69%. Lantas diikuti makanan asal China sebanyak 14,22%, makanan Thailand sebesar 9,79% dan Singapura mencapai 8,48%.

Meski terjadi lonjakan, tapi pangsa pasar produk makanan impor tidak lebih dari 5% dari total pangsa pasar makanan domestik. Pasalnya, permintaan makanan lokal diprediksi melonjak hingga 30% jelang Lebaran.

BERITA TERKAIT

Sektor Teknologi dan Manajemen Risiko

  Oleh: Achmad Deni Daruri President Director Center for Banking Crisis     Korporasi Alibaba segera akan mengganti para akuntannya…

AdhiKarya dan PPD Integrasikan Sistem Transportasi - Kawasan LRT City

      NERACA   Jakarta - PT AdhiKarya (Persero) Tbk, melalui Departemen Transit Oriented Development (TOD) & Hotel menawarkan…

Dianggap Rugikan Pihak Ketiga yang Bukan Debitur dalam Eksekusi - Dirut BRI dan Kurator Dipolisikan

Dianggap Rugikan Pihak Ketiga yang Bukan Debitur dalam Eksekusi Dirut BRI dan Kurator Dipolisikan NERACA Jakarta - Direktur Utama Bank…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Indonesia-Tanzania Tingkatkan Relasi Perdagangan

NERACA Jakarta – Dubes RI untuk Tanzania Ratlan Pardede melakukan pertemuan dengan Presiden Zanzibar Ali Mohamed Shein pada Jumat (24/11)…

Stabilitas Harga Kebutuhan Pokok Terus Dijaga

NERACA Jakarta – Kementerian Perdagangan berupaya menjaga stabilitas harga dan pasokan barang kebutuhan pokok (Bapok) menghadapi Hari Besar Keagamaam Nasional…

Dunia Usaha - HIMKI Tentang Wacana Dibukanya Kran Ekspor Log dan Bahan Baku Rotan

NERACA Jakarta - Ketua Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Soenoto mengatakan sampai saat ini masih ada pihak-pihak yang…