Pertumbuhan Ekonomi Hanya Dinikmati Kelas Atas

Pertumbuhan Ekonomi Hanya Dinikmati Kelas Atas

Jakarta--Pendapatan per kapita Indonesia sebesar 3.000 dolar AS tidak menjamin kesejahteraan untuk semua lapisan masyarakat. Bahkan dalam empat tahun terakhir terjadi ketimpangan ekonomi semakin melebar akibat penguasaan aset oleh masyarakat kelas atas. “Sebagai negara yang diakui memiliki pertumbuhan ekonomi yang tinggi di kawasan ASEAN, ternyata ketimpangan itu semakin melebar. Ini berarti pertumbuhan ekonomi yang dicapai beberapa tahun ini hanya dinikmati golongan atas,” kata Direktur International Center for Applied Finance and Economics (InterCAFE) IPB Iman Sugema di Jakarta, Selasa.

Menurut pengamat IPB, ketimpangan kesejahteraan masih belum bisa diatasi dengan baik. Masih ada 15,3 % penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan dan 20 % penduduk hampir miskin. “Pemerintah harus mengatasi masalah kemiskinan di dalam negeri. Dengan pendapatan per kapita sebesar 3.000 dolar AS, seharusnya penduduk miskin bisa berkurang,” paparnya.

Sedangkan pengamat ekonomi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Latief Adam mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tinggi tidak terkait langsung dengan kesejahteraan masyarakat. Itu tercermin dengan membesarnya kesenjangan antara kemiskinan dan pengangguran. “Jika dilihat dari selisih pesentase penurunan kemiskinan dengan pengangguran, terlihat jelas jumlah orang yang bekerja namun berkategori miskin masih cukup besar,” ujar Latif.

Mala Latief menambahkan, terjadi deviasi yang cukup besar antara penciptaan lapangan kerja dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Idealnya, seperti di negara lain, pengurangan pengangguran sudah otomatis menekan kemiskinan. Penyebabnya paradigma kebijakan ekonomi pemerintah yang keliru dalam mendorong pertumbuhan ekonomi melalui investasi. “Dari tahun ke tahun memang investasi di Tanah Air meningkat, tetapi lebih banyak masuk ke sektor usaha yang rendah penciptaan lapangan kerjanya,” tandasnya.

Ditempat terpisah, Dosen FEUI, Lana Soelistianigsih mengungkapkan pertumbuhan ekonomi semester II diperkirakan sebesar 6,3-6,4 % karena belum naiknya harga komoditas ekspor seperti kelapa sawit, karet, tembaga, dan batu bara yang disebabkan belum pulihnya perekonomian global. "Karena perekonomian global belum pulih, maka menyebabkan harga komoditas turun. Kemungkinan akan ada perlambatan ekspor terutama China dan India," ujarnya

Kepala Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia Lana Soelistianingsih ini memperkirakan pertumbuhan ekonomi triwulan III sebesar 6,5 % karena ada faktor musiman seperi Lebaran dimana dorongan permintaan cukup besar, sedangkan di kuartal IV mungkin akan turun sekitar 6,2 % karena belum membaiknya harga komoditas. "Jadi rata-rata pertumbuhan ekonomi di akhir tahun atau Semester II 2012 sebesar 6,3-6,4 %," kata Lana.

Menurut Lana, kalau dilihat dari sisi sektor pertumbuhan ekonomi, faktor utama penyumbang pertumbuhan ekonomi 6,3-6,4 % itu masih di sektor perdagangan, hotel dan restoran serta pengangkutan dan komunikasi.

Sedangkan, lanjut Lana, makin terus membaiknya sisi permintaan dan realisasi investasi cukup besar yang mengarah ke basis pasar domestik seperti investasi di sektor obat-obatan menyebabkan pasar domestik semakin kuat sehingga berperan besar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. "Karena penduduk kita 240 juta dan pasti ada yang sakit maka membutuhkan obat yang tidak sedikit," ujar Lana.

Sementara itu, Lana mengingatkan seluruh pihak harus hati-hati dengan adanya kekhawatiran pertumbuhan ekonomi nasional melebihi kapasitas (overheating) karena semakin tingginya impor. "Sektor-sektor berbasis domestik luar biasa tinggi di Triwulan II dimana ekonomi RI tumbuh 6,4 %," ujar Lana. **bari/cahyo

BERITA TERKAIT

Pemerintah Diminta Waspadai Ketidakpastian 2018 - MESKI PERTUMBUHAN EKONOMI 3 TAHUN TERAKHIR POSITIF

Jakarta-Meski pertumbuhan ekonomi dalam tiga tahun terakhir menunjukkan tren cukup positif, pemerintahan Jokowi-JK tetap harus fokus terus membenahi masalah ketimpangan…

Negara Berkembang Paling Pesat Pertumbuhan Belanja Online

    NERACA   Jakarta - Survei terbaru Mastercard menyebutkan, pertumbuhan aktivitas belanja melalui gawai (smartphone) atau "mobile shopping" berkembang…

Nilai Tambah dalam Ekonomi dan Industri

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri   Lama sudah kita menenggelamkan diri dalam persoalan ekonomi. Kegiatan dan proses…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Tarif Cukai Rokok Naik 10% di 2018

      NERACA   Jakarta - Pemerintah secara resmi akan menaikkan tarif cukai rokok rata-rata sebesar 10,04 persen mulai…

Menyampaikan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika Lewat Kesenian

    NERACA   Jakarta – Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) Yudi Latief menyampaikan bahwa pendiri bangsa…

Grand Eschol Residences & Aston Karawaci Hotel Kembali Dibangun - Sempat Tertunda

    NERACA   Jakarta - PT Mahakarya Agung Putera, pengembang Grand Eschol Residence & Aston Karawaci City Hotel, menegaskan…