Pasar Lesu, Adaro Pangkas Target Produksi 2012

NERACA

Jakarta – Demam krisis ekonomi dunia semakin menjalar ke industri tambang di Indonesia. PT Adaro Energy Tbk, salah satu perusahaan tambang batubara terkemuka di Indonesia, memangkas target produksi hingga akhir 2012 menjadi 48 juta ton. Awalnya perseroan memasang target produksi 2012 sebesar 53 juta ton.

Corporate Secretary Adaro Devindra Ratzarwin mengatakan, revisi target tersebut dikarenakan kondisi pasar yang semakin sulit akibat imbas dari krisis Eropa. Lebih jauh dia mengatakan, turunnya harga batu bara saat ini dikarenakan kurangnya permintaan. "Ketersediaan batu bara di dunia lebih dari cukup makanya harganya turun," ujarnya.

Di samping itu, realisasi produksi batu bara perseroan hingga semester I-2012 sudah sekira 50% dari target. "Hingga semster I-2012, produksi batu bara Adaro sudah mencapai 23 juta ton," kata dia di Jakarta, kemarin.

Yang jelas, lanut dia, seluruh volume penjualan Adaro telah dikontrak dan sebagian besar merupakan kontrak dengan harga yang telah ditetapkan berdasarkan harga tetap dan terkait dengan indeks. Dia menegaskan, tidak ada batu bara Adaro yang dijual di pasar spot.

Devindra juga mengatakan, jumlah permintaan batu bara di seluruh dunia menurutnya memang mengalqami peningkatan khususnya permintaan yang paling besar adalah China dan India. Dia mengatakan, batubara yang berasal dari Indonesia sangat kompetitif.

Menurut dia, hal tersebut dikarenakan Indonesia merupakan penghasil batu bara semua jenis, khususnya untuk yang berperingkat rendah dan diproduksi dengan biaya yang rendah. Selanjutnya, dia berharap harga batubara tidak turun lagi, dan bisa rebound. Adapun harga batubara saat ini menurutnya memang tercatat lebih rendah dibanding dengan kurun waktu tiga tahun sebelumnya.

Tidak hanya soal produksi, krisis Eropa juga mempengaruhi rencana akuisisi sebuah perusahaan pertambangan batu bara PT Bhakti Energi Persada (BEP). Devindra Ratzarwin menyatakan, karena krisis di Eropa belum berakhir, maka akuisis bukan menjadi prioritasnya. Pada kesempatan itu, Devindra memastikan belum ada perkembangan baru dari hasil rencana tersebut. "Dengan kondisi saat ini, perusahaan fokus hanya di pertambangan yang sudah jalan," terangnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Adaro telah menyepakati perjanjian opsi berjangka waktu tiga tahun untuk mengakuisisi kepemilikan pengendali atas BEP. Perseroan sebelumnya memang telah menandatangani surat perjanjian untuk hak untuk memperoleh saham BEP di atas 51% melalui konversi pinjaman yang akan diberikan sebesar US$500 juta dalam waktu tiga tahun.

Lewat anak usahanya PT Alam Tri Abadi, Adaro memiliki pilihan untuk membeli saham di BEP yang dimiliki oleh lima pihak yang disebut penjual. Kelima pihak itu adalah PT Triputra Investindo, PT Persada Capital, PT Arieska Lianawati, Konar Suhananto, Andrianto Oetomo, dan Arianto Oetomo. Total jumlah saham lima pihak tersebut sekitar 79,8%. Sementara BEP, perusahaan yang didirikan pada 2002 ini memegang tujuh konsesi (IUP) batubara termal rendah kalori di Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.

BERITA TERKAIT

VIVA Percepat Lunasi Utang US$ 252 Juta - Pangkas Beban Utang

NERACA Jakarta – Menjaga pertumbuhan kinerja keuangan yang positif, VIVA Group berambisi memangkas beban utang. Teranyar, perseroan telah melakukan percepatan…

MNC Leasing Bidik Pasar Pembiayaan Alkes

NERACA Jakarta – Besarnya potensi pasar industri alat kesehatan (Alkes) di Indonesia, menjadi ceruk pasar yang cukup menjanjikan. Oleh karena…

Pelaku Pasar Butuh Kepastian Hukum - Berpotensi Merugikan Investor

NERACA Jakarta – Kepastian hukum bagi pelaku usaha merupakan hal yang penting dalam keberlangsungan usaha dan begitu juga halnya dengan…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Penanaman Modal di Sektor Riil - Indonesia Pacu Tiga Sektor Manufaktur Jepang Tambah Investasi

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian fokus mendorong para pelaku industri Jepang skala menengah untuk terus berinvestasi di Indonesia. Terdapat tiga…

Mencari Alternatif Langkah Penyelamatan Perusahaan Negara

NERACA Jakarta - Rencana pemerintah membentuk induk perusahaan (holding) Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terus mendapat kritik dari sejumlah akademisi…

Industri Kecil dan Menengah - Pemerintah Gencarkan Implementasi Program e-Smart IKM

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Industri Kecil dan Menengah (IKM) kembali menggelar Workshop e-Smart IKM…