Mengelola Keuangan Pasca Hari Raya - Manajemen Keuangan :

Meski bukan hal mendadak, menjelang hari raya, banyak pengeluaran tak terduga. Merancang keuangan keluarga pun patut diperhatikan. Maka indahnya hari raya akan kian dirasa.

NERACA

Semua manusia di berikan otak untuk berpikir yang positif untuk mencari nikmat dan menghindari sengsara. Maka dari itu yang nikmat selalu dijalankan dan yang sengsara di hindari. Begitu juga hidup manusia dalam mengatur keuangan dalam hidup harus di desain atau di tata dengan baik agar keuangan dapat di atur secara baik.

Namun, kebiasaan manusia membelanjakan gaji bulanannya hanya untuk membeli barang-barang yang tidak penting karena kurangnya kepuasan manusia dalam hidup. Contohnya seperti, membeli sepasang sepatu terbaru, padahal Anda sudah banyak sepatu tetapi tetap membelinya karena kurangnya kepuasan manusia, sehingga setiap Anda mempunyai uang maka Anda akan membelinya.

Untuk menggelolah keuangan memang susah-susah gampang. Dengan penghasilan yang berbeda-beda dan kebutuhan yang begitu bermacam-macam membuat urusan mengatur keuangan menjadi hal yang penting dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, bila dibiasakan, hal ini akan menjadi sesuatu yang mudah dan biasa. Terutama Selama bulan Ramadhan seharusnya bisa menjadi lebih mudah. Karena di bulan ramadan seharusnya bisa menahan hawa nafsu bukan hanya nafsu makan saja. Namun, bisa menahan nafsu dari pengeluaran uang.

Di bulan ramadan memang harga kebutuhan pokok meningkat, ini yang menjadi tantangan kita agar bisa mengatur pengeluaran kita tidak berlebihan. Seharusnya kita sudah bisa menyiasati kenaikan harga barang dan bahan pokok menjelang Bulan Ramadan, bila benar maka akan ada uang berlebih dan kita akan bisa menabung.

Kenyataan berkata lain, dengan berpuasa seakan-akan kebutuhan kita begitu banyak. Membeli bahan makanan yang segar menjadi berlebihan. Membeli makanan berbuka begitu banyak karena ingin mencoba ini-itu dan sebagainya, padahal ketika berbuka kita hanya sanggup makan dua potong kue.

Mengantur angaran keuangan ketika menerima penghasilan, baik itu sebelum Bulan Ramadan atau penghasilan yang diterima pada saat Bulan Ramadan.

Pakar ekonomi syariah Dr.H.Muhammad Syafii Antonio mengatakan, pada saat bulan ramadan menggatur keuangan memang sangat sulit karena kebutuhan untuk lebaran sangat meningkat.

Ia mengatakan, pada bulan ramadan pendapatan kita meningkat bukan hanya mendapatkan gaji saja tetapi kita juga mendapatkan Tunjangan Hari Raya (THR).

Masyarakat jika menerima penghasilan yang lebih besar, porsi konsumsi juga lebih besar, di karenakan kebanyakan orang jika menerima penghasilan yang lebih besar biasanya keinginannya untuk membeli sesuatu lebih meningkat.

THR terlihat seperti uang berlebih dan biasanya diterima menjelang hari raya.Jangan pernah menganggap THR adalah uang berlebih, tetapi THR adalah dana untuk bisa sedekah dan berinvestasi. Maka kita harus mengatur THR agar lebih efisien, tuturnya.

Masalah Keuangan Keluarga Muda

Ahli Perencanan Keuangan Ligwina Hananto mengatakan, masalah keuangan yang di alami bagi keluarga muda memang sangat sulit untuk keluarga muda apa lagi baru menikah biasanya ibu-ibu muda tidak bisa menahan kontrol keuangan dalam berumah tangga.

“Seringkali masalahnya bukan terletak pada penghasilan yang kurang, tapi kebiasaan yang salah dalam mengelola uang.” Ternyata, dalam kenyataan, seorang ayah yang berpenghasilan ratusan juta rupiah bisa mengalami shock ketika menemukan uangnya tinggal Rp. 500.000,00 sebelum akhir bulan.

Susun rencana keuangan atau anggaran. Rencana keuangan yang realistis membantu Anda bersikap obyektif soal pengeluaran yang berlebihan. Tak perlu terlalu ideal, sehingga lupa kebutuhan diri sendiri.

Tak jarang kita membelanjakan uang untuk hal yang tak terlalu penting atau hanya didorong keinginan, bukan kebutuhan yang sangat penting. Yang harus di perhatikan dalam hal ini adalah.

Hindari hutang. Hawa nafsu manusia memang sangat besar apa lagi hawa nafsu untuk berbelanja. Namun, bukan berati kita dengan mudah mengeluarkan uang begitu saja harus ada perencanaan yang matang. Tumbuhkan kebiasaan keuangan yang sehat dimulai dari yang sederhana, seperti tak memiliki hutang konsumtif.

Meminimalkan belanja konsumtif memang harus dilakukan agar pengeluaran ini dapat digunakan untuk menabung atau memenuhi kebutuhan lainnya.

Ubah kebiasaan dan pola pikir ketika menerima gaji anda agar dapat menyisikan uang gaji anda untuk menabung.

Sedangkan, untuk mengatur keuangan pribadi jika kita kurang bijaksana dalam mengatur, hasil kerja yang berupa gaji bisa habis sebelum pada waktunya, ini dikarenakan tidak adanya manajemen keuangan yang dilakukan dengan baik.

Berapapun penghasilan yang didapat seseorang baik besar atau kecil uang yang diperoleh dalam satu bulan, ketika pendapatan atau laba perusahaan tidak menjadi ukuran dalam suksesnya mengatur keuangan. Yang berpendapatan kecil tetap masih bisa menyisihkan uang setiap bulan untuk ditabungkan.

Yang berpenghasilan besar juga tidak membelanjakan secara berlebihan sehingga uang yang disisihkan semakin banyak untuk mengembangkan usahanya.

Mengelola Keuangan Pribadi

Untuk pengelolaan keuangan ada tiga jenis biaya yang perlu ditangani dengan baik, yakni biaya bulanan, tahunan, dan tidak terduga. Biaya ini yang harus diperhatikan oleh setiap orang, agar bisa mengantisipasi hal-hal yang akan terjadi nantinya.

Sedangkan, mengelola keuangan pribadi itu seperti mengevaluasi keuangan suatu perusahaan, biaya rutin pribadi yang sifatnya bulanan dalam istilah perbankan disebut overhead cost. Biaya itu misalnya biaya makan, minum, transportasi, listrik, dan telepon, yang mutlak dikeluarkan setiap bulannya.

Sedangkan biaya-biaya yang masuk kategori harus dibayarkan setiap tahun misalnya premi asuransi jiwa, biaya perbaikan kendaraan, dan biaya perbaikan rumah. Walaupun dibayarkan secara tahunan, pengumpulan dana untuk pembayaran biaya tahunan harus disisihkan secara bertahap.

Perlu alokasi dana untuk biaya-biaya tidak terduga. Setiap orang, tidak bisa menduga kapan akan jatuh sakit, atau keluarga yang mengalami musibah.

BERITA TERKAIT

CPPD Sukabumi Berhasil Tarik PKB Sebesar Rp 104.578.000 - Lakukan Opgab Tiga Hari

CPPD Sukabumi Berhasil Tarik PKB Sebesar Rp 104.578.000 Lakukan Opgab Tiga Hari NERACA Sukabumi - Cabang Pelayanan Pendapatan Daerah (CPPD)…

Ancaman Serangan Siber ke Industri Keuangan Meningkat

    NERACA   Jakarta - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso mengingatkan ancaman serangan siber terhadap sistem…

70% Masyarakat Cari Informasi Keuangan Lewat Internet

  NERACA   Jakarta - Google merilis hasil riset terbaru tentang industri keuangan Indonesia dan cara nasabah mencari dan memilih…

BERITA LAINNYA DI KEUANGAN

Mengajari Anak Menabung, Berbelanja, dan Berbagi

Oleh: Yulius Ardi Head, Managed Investment Product Standard Chartered Bank   Akhir musim sekolah telah diambang pintu dan anak-anak akan…

Sukuk Bisa Sebagai Alternatif Pembiayaan Daerah

Direktur Pembiayaan Syariah Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Suminto mengatakan penerbitan obligasi berbasis syariah atau sukuk bisa…

Keuangan Syariah: - Akan Stagnan Atau Butuh Terobosan

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Muliaman Hadad meminta inovasi dan terobosan pelaku industri untuk mengembangkan keuangan syariah, karena tanpa…