Lampu Hemat Energi, Kurangi Emisi CO2

Sabtu, 01/09/2012

NERACA

Penciptaan produklampu hemat energimenjadi salah satu langkah nyata untuk mengurangi penggunaan daya listrik, sehinggadunia akan mampu menghemat biaya sekaligus mengurangi emisi CO2 yang memicu perubahan iklim dan pemanasan global.

Jika dibandingkan dengan negara-negara tetangganya di ASEAN, Indonesia merupakan negara yang paling boros dalam pemakaian listrik. Menurut data ASEAN Centre for Energy (ACE) disebutkan, Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi paling besar untuk melakukan penghematan tenaga listrik akibat tingkat pemborosan energi listrik yang relatif tinggi selama ini. Pasokan listrik di Indonesia sendiri kini dalam status siaga karena cadangan yang tersisa tidak banyak tersedia.

Dalam seminar mengenai strategi berhemat energi di Jakarta, Dicky Edwin Indarto dari Forum Komunikasi Masyarakat Hemat Energi menuturkan, tingkat pemborosan energi yang tinggi ini memperparah pasokan tenaga listrik di Tanah Air yang kritis.

“Khususnya untuk pasokan di Pulau Jawa-Bali dan Madura, di mana kapasitas cadangan listrik yang tersisa hanya 330 megawatt,” katanya.

Penghematan energi sangat bergantung pada perilaku dan kesadaran manusia. Sekitar 80 % keberhasilan kegiatan konservasi energi ditentukan oleh faktor manusia, sedangkan 20 % lagi bergantung pada teknologi dan peralatan.

Dicky mengatakan bahwa, gerakan penghematan energi secara konsisten telah dilakukan dineagara-negara ASEAN, dimana setiap individu maupun lembaga sudah memiliki komitmen untuk melakukan penghematan pada penggunaan listrik.

Sedangkan di Indonesia, lalnjut dia, gerakan hemat energi di Indonesia masih sulit diterapkan karena kesadaran yang rendah dan tidak ada peraturan yang menghukum orang yang memboroskan listrik.

Contoh pemborosan terbesar di perkantoran atau bangunan publik adalah penggunaan mesin penyejuk udara (AC) dan lampu yang tetap dihidupkan meski tak diperlukan lagi. Padahal, porsi konsumsi listrik AC dan lampu relatif besar, yakni di atas 45 % dan 30 %.

Oleh karena itu, peranan perusahaan-perusahaan elektronik dalam mensosialisasikan gerakan hemat energi mutlak diperlukan. Seperti visi yang dimiliki perusahaan agar dapat menciptakan suatu solusi yang memiliki dampak positif terhadap lingkungan dan operasi bisnisnya.

Desa Eco Ideas

Tekad untuk berkontribusi kepada dunia melalui bisnis yang ramah lingkungan, sadar kesehatan, berfokus pada produk hemat energi dan juga mengembangkan produk penghasil energi.

Seperti yang dilakukan Panasonic Gobel Indonesia. Bekerja sama dengan Electronic City, Panasonic mendonasikan 1.000 lampu hemat energi dalam upaya membentuk Desa Eco Ideas di Warung Kadu, Purwakarta, Jawa Barat.

Berdasarkan hasil penelitian terbaru Program Lingkungan PBB (UNEP), denganberalih ke sistem penerangan yang lebih efisien, dunia akan mampu menghemat biaya sekaligus mengurangi emisi CO2 yang memicu perubahan iklim dan pemanasan global.

Ronny Heribertus, Product Manager Air Conditioner Panasonic Gobel Indonesiamenuturkan kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibilty/CSR) tersebut dilakukan untuk mengedukasi masyarakat agar hemat energi dan mengurangi emisi CO2 yang bisa meningkatkan pemanasan global.

Konsumsi listrik global juga bisa dihemat hingga 5%, dengan nilai penghematan lebih dari US$110 miliar setiap tahun. Manfaat ini setara dengan menutup lebih dari 250 pembangkit listrik tenaga batu bara, menghemat biaya investasi sebesar US$210 miliar. Jumlah emisi CO2 yang bisa dikurangi mencapai 490 megaton (Mt) per tahun atau setara dengan emisi lebih dari 122 juta mobil berukuran sedang.

Bohlam yang akan didonasikan adalah lampu tipe eco spiral 11 watt yang mampu menghemat listrik hingga 80% dengan pemakaian hingga 10.000 jam, 4 jam sehari.Bohlam tersebut, tegasnya, dapat menghemat 72 KWh per tahun.

Ronny menuturkan, 1.000 lampu tersebut akan dibagikan kepada 651 kepala keluarga di daerah tersebut.

"Satu kepala keluarga akan menerima 3 buah bohlam," ujarnya di sela-sela media gathering Desa Eco Ideas di Electronic City, Jakarta.

Ronny menjelaskan teknologi yang diterapkan pada produk ini juga telah disempurnakan, salah satunya menggunakan lapisan antidebu pada setiap lampu yang mampu mencegah bertumpuknya kotoran agar proses penerangan tidak dilakukan secara berlebih.

Panasonic, katanya, berencana melakukan perluasan program Desa Eco Ideas ke beberapa desa lainnya demi melanjutkan komitmen untuk berbisnis ramah lingkungan.

Kota Terang Hemat Energi

Tidak mau ketinggalan dengan pesaingnya, Philips melalui akun resmi Facebook-nya “Philips Berbagi Terang” saat ini sedang mengundang orang-orang yang peduli lingkungan untuk mendukung aksi penghematan energi.

Melalui aplikasi Facebook “Philips LED MyVision”, pengunjung akun facebook bisa menguji wawasan kepedulian lingkungan dengan menjawab tiga pertanyaan dalam tiga menit. Semakin cepat menjawab maka semakin tinggi skor yang di peroleh.

Setiap bulan, Philips akan memilih enam pemenang yang akan memperoleh lampu Philips LED MyVision dangoodie bagmenarik. Di akhir periode kuis, satu pemenang utama dengan testimonial terbaik akan memperoleh televisi Philips 32” LCD.

Secara global, pencahayaan mengkomsumsi lebih dari 15% dari total konsumsi energi.“Kota dan pemerintah perkotaan menghadapi berbagai tantangan seperti meningkatnya angka urbanisasi serta krisis energi,dan pada saat bersamaan juga dituntut untuk mampu berhubungan dengan masyarakat penghuni kota sekaligus dapat meningkatkan perekonomian. Itu salah satu alasan pentingnya kesadaran pemerintah perkotaan akan kebutuhan untuk meningkatkan kualitas perkotaan dengan solusi yang maju dan berkelanjutan,” jelasJimmy Juwana, seorang pakar dalam bidang pengembangan berkelanjutan di Universitas Trisakti.

Dengan teknologi pencahayaan berbasis LED (Light Emitting Diode) kita bisa menghemat hingga 50% dari total konsumsi energi tersebut; dimana jumlahnya adalah sama dengan menghemat EUR 106 Milyar per tahun; atau 555 juta ton karbon dioksida (CO2) per tahunnya, Selain itu, solusi pencahayaan berbasis LED juga lebih tahan lama dengan 15-20 tahun usia pemakaian, dan ramah lingkungan.

“Philips meyakini bahwa pencahayaan memiliki berbagai potensi. MelaluiKota Terang Hemat Energi, kami mentransformasi lingkungan berbagai sektor, baik itu perumahan, kantor, maupun industri, untuk menciptakan pengalaman dan membantu membentuk identitas perkotaan. Melalui pencahayaan, kami ingin membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” kata President Director, PT. Philips Indonesia Robert Fletcher.