Kopi Indonesia Jadi Primadona Pasar Dunia - Kinerja Ekspor Melonjak 150%

NERACA

Jakarta - Ekspor kopi bubuk sepanjang semester pertama tahun 2012 melonjak tajam dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Menurut perhitungan Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI), kenaikan ekspor kopi bubuk pada semester pertama tahun ini mencapai 150%. Dengan begitu, kopi Indonesia semakin menadi primadona di pasar internasional.

Ketua Umum AEKI Suyanto Hussein mengatakan pada semester pertama tahun ini, volume ekspor kopi bubuk mencapai 20.000 ton. Sedangkan volume ekspor kopi bubuk pada semester pertama tahun lalu hanya sebesar 8.000 ton. "Volume ekspor kopi bubuk semester pertama ini cukup menggembirakan karena naik tajam dibandingkan dengan tahun lalu," kata Suyanto di Jakarta ,Senin (6/8).

Suyanto mengatakan, kenaikan ekspor kopi bubuk tersebut karena banyaknya permintaan kopi bubuk asal Indonesia. Menurutnya, kondisi ini cukup mengejutkan. Pasalnya pada tiga bulan pertama tahun ini, permintaan kopi bubuk dari luar negeri cukup lesu karena pengaruh dari pasar global.

Namun, permintaan kopi mulai menanjak pada April hingga Juni. "Permintaan pada bulan Agustus ini masih naik dibandingkan dengan Juni. Hingga akhir tahun, ekspor kopi bubuk akan terus meningkat dibandingkan dengan tahun lalu," kata Suyanto.

Produk kopi bubuk kopi Indonesia banyak dipasok ke berbagai negara mulai Asia hingga Timur Tengah. Di Asia, beberapa negara tujuan eksportir kopi adalah Vietnam, China, Jepang, Singapura, Korea Selatan dan Malaysia. Sedangkan tujuan ekspor kopi bubuk di Timur Tengah adalah Dubai.

Wakil Ketua Umum Bidang Industri dan Spesiality AEKI, Pranoto Soenarto mengatakan para eksportir kopi melakukan penetrasi pasar ke China dengan lemahnya pasar Amerika Serikat dan Eropa,. Pranoto mengatakan, China mulai lahir sebagai negara pecinta kopi. "Ini adalah peluang yang harus dimanfaatkan eksportir kopi nasional," kata Pranoto.

Kopi Luwak

Sementara itu, Sekjen Asosiasi Kopi Luwak Gayo Organik (AKLGO), Zam Zam Mubarak mengungkapkan, hasil produksi kopi luwak Gayo diperkirakan mencapai 24 ton per tahun, berdasarkan perhtungan pedagang pengumpul dan penampung. Biji kopi hasil kotoran musang itu, rata-rata antara satu sampai dua ton per bulan, dengan pasar, lokal, nasional maupun internasional.

Zam Zam mengatakan angka 24 ton/tahun biji hijau hasil produksi kopi luwak di di Aceh Tengah dan Bener Meriah, dilihat dari hasil pendapatan maupun yang dikumpulkan para member (anggota) asosiasi. “Kalau kita mau cari data riil berapa jumlah produksi kopi luwak di dua kabupaten ini, bisa dikatakan hampir tidak ada. Karena tidak ada data valid. Salah satu penyebabnya karena kopi luwak belum pernah ada diambil restribusinya,” ungkap Zam Zam.

Disampaikan, kendala lain dalam memasarkan kopi luwak karena belum ada sertifikasi untuk kopi hasil kotoran musang itu sehingga belum ada jaminan mutu dan keaslian. Namun demikian, permintaan pasar untuk kopi luwak saat ini masih baik.

“Kami juga sedang menyiapkan proses sertifikasi kopi luwak. Sedangkan proses pemasaran kopi luwak sebelumnya, hanya berdasarkan kepercayaan antara pemasok dengan para buyer. Sedangkan harga kopi luwak posisi green bean (kopi hijau) berkisar antara Rp 400 ribu hingga Rp 600 ribu/kg, jelasnya.

Lebih lanjut disampaikan, kopi luwak yang diminati pasar luar negeri merupakan dari hasil liar, bukan penangkaran. Secara kualitas, tambah Zam-Zam, kopi luwak liar lebih bagus dibandingkan dari penangkaran. Apalagi saat ini, populasi luwak atau musang, mulai berkurang di alam liar lantaran diburu untuk kepentingan penangkaran.

Salah satu solusinya, kata Zam-Zam, pihaknya juga mendorong pemerintah daerah untuk membuat salah satu taman luwak di kawasan daerah penghasil kopi ini. “Efek lain, jika ada taman luwak disamping untuk kepentingan kopi luwak itu, sendiri juga berkaitan dengan lingkungan dan dapat dijadikan kawasan wisata,” pungkas Zam-Zam.

BERITA TERKAIT

Fajar Surya Raup Penjualan Rp 7,33 Triliun - Ditopang Pasar Ekspor

NERACA Jakarta – Sepanjang tahun 2017 kemarin, emiten produsen kertas PT Fajar Surya Wisesa Tbk (FASW) membukukan kenaikan penjualan sebesar…

Banten Kaji Dua Lokasi Pembangunan Pasar Induk

Banten Kaji Dua Lokasi Pembangunan Pasar Induk NERACA Serang - Pemerintah Provinsi Banten sedang mengkaji salah satu dari dua lokasi…

Menperin Nilai Indonesia Siap ke Arah Industri Berbasis Digital - Sektor Riil

NERACA Jakarta – Pelaku industri nasional perlu memanfaatkan perkembangan bisnis dan teknologi dari era ekonomi digital saat ini, seperti yang…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Usaha Kecil - UMKM Diharapkan Punya Kreativitas E-commerce

NERACA Jakarta – Ketua Umum Indonesia E-Commerce Association (Idea) Aulia E Marinto mengatakan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) harus…

Ekspor Industri Alas Kaki Menapak Hingga US$4,7 Miliar

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian memprioritaskan pengembangan industri alas kaki nasional agar semakin produktif dan berdaya saing, terlebih lagi karena…

Genjot Investasi dan Ekspor, IKTA Dipacu Perdalam Struktur

NERACA Jakarta – Industri Kimia, Tektsil, dan Aneka (IKTA) merupakan kelompok sektor manufaktur yang berkontribusi signfikan terhadap Produk Domestik Bruto…