Laba Surya Semesta Tumbuh 180,5% di Semester Satu

NERACA

Jakarta - Emiten properti dan konstruksi, PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) mencatat kenaikan laba yang cukup signifikan pada semester I-2012 ini, yaitu naik 180,5% menjadi Rp 372 miliar dari Rp 132,6 miliar di periode yang sama tahun lalu.

Informasi tersebut disampaikan dalam siaran persnya di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (6/8). Disebutkan, kontribusi laba terbesar dihasilkan dari transaksi lahan industri yang mencapai Rp 558,4 miliar. Sementara, realisasi laba paruh pertama 2012 tercatat 67% dari target konsolidasi tahun 2012 sebesar Rp 550 miliar.

Dari sisi unit usaha industri, dijelaskan harga jual kawasan industri SSIA pada periode Januari-Juni 2012 mencapai US$ 89,6 per m2 atau total Rp 558,4 mliar. Hasil ini sedikit lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun lalu RP 553,8 miliar.

Meski hanya menjual lahan 67,2 ha, atau lebih kecil dari periode sebelumnya 166,4 ha, namun harga yang dipatok perseroan kepada pembeli naik dua kali lipat dari US$ 37,1 per m2 menjadi US$ 89,6 per m2. Kenaikan harga rata-rata penjualan kawasan industri inilah yang memicu kenaikan signifikan laba bersih konsolidasi SSIA di semester I-2012.

Secara keseluruhan nilai kontribusi unit usaha properti (kawasan industri dan sewa gedung) sebesar Rp 618,9 miliar, naik tipis dari sebelumnya Rp 601,4 miliar. Seedangkan usaha jasa konstruksi menghasilkan pendapatan Rp947,4 miliar, naik 31,5% dibandingkan sebelumnya Rp 720,2 miliar.

Contract on hand untuk unit usaha jasa konstruksi di akhir semester I sebesar Rp 1,665 triliun. Sedangkan kontrak baru pada semester I-2012 Rp 1,123 triliun, 50,9% dibandingkan sebelumnya Rp 744 miliar.

Unit usaha terakhir, perhotelan malah menurun dari Rp 220,6 miliar menjadi Rp 200,4 miliar, karena adanya renovasi besar Gran Melia Jakarta sejak Juni 2011. Kontribusi hotel di dapat dari Hotel Melia Nusa Dua Bali Rp 99 miliar, Gran Melia Jakarta Rp 51 miliar, Bayan Tree Ungasan Resort Bali Rp 49 miliar dan Plaza Hotel Glodok Rp 2 miliar.

Sementara itu, manajemen SSIA merubah target laba bersihnya menjadi Rp 650 miliar pada tahun 2012 ini. Sebelumnya, perseroan menetapkan target laba Rp 550 miliar. "Dengan melihat hasil semester I-2012 dan prospek usaha di semester kedua dari unit usaha SSIA, yaitu konstruksi, properti dan perhotelan, SSIA merevisi target laba bersihnya dari Rp 550 miliar menjadi Rp 650 miliar," jelas Sekretaris Perusahaan Surya Semesta Utari Sulistiowati.

Kinerja Kuartal I-2012

Sekedar perbandingan, kinerja SSIA pada kuartal I-2012 berhasil mencatatkan laba bersih senilai Rp 222,7 miliar atau melonjak 89,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 117,6 miliar. Utari pernah mengatakan raihan laba bersih ini telah mencapai 40% dari target laba bersih konsolidasi SSIA pada 2012."Kawasan industri memberikan kontribusi terbesar terhadap laba bersih setelah berhasil membukukan penjualan lahan industri seluas 43,5 hektare pada kuartal pertama 2012 dengan harga rata-rata penjualan senilai US$84,4 per meter persegi. Secara total membukukan penjualan lahan industri senilai Rp 335,9 miliar dibanding periode sebelumnya Rp 519,3 miliar," katanya.

Menurut Utari, meski jumlah luas penjualan lahan industri pada kuartal I-2012 sebesar 43,5 hektare atau lebih kecil dibandingkan jumlah luas penjualan lahan industri pada kuartal I-2011 seluas 158,5 hektare, namun harga rata-rata penjualan sebesar US$84,4 per meter persegi meningkat lebih dari dua kali lipat dibanding harga rata-rata penjualan periode yang sama tahun sebelumnya US$36,4 per meter persegi. "Kenaikan harga rata-rata penjualan kawasan industri inilah yang memacu kenaikan signifikan laba bersih konsolidasi perseroan," ujarnya.

Untuk unit usaha lain seperti usaha properti secara keseluruhan yang mencakup kawasan industri dan penyewaan gedung, hingga kuartal I-2012 membukukan pendapatan usaha sebesar Rp 369,4 miliar atau menurun dibandingkan periode sebelumnya senilai Rp 541,9 miliar.

Sedangkan unit usaha jasa konstruksi meraih pendapatan Rp 417,1 miliar atau naik 27,5% dibanding kuartal I-2011 sebesar Rp 327,1 miliar.

Sementara untuk unit usaha perhotelan mengalami penurunan pendapatan menjadi Rp 96,5 miliar dibanding kuartal I-2011 sebesar Rp 107,8 miliar karena sedang dilakukannya renovasi besar pada Gran Melia Jakarta sejak Juni 2011 tahun lalu.

Jadi, menurut Utari, secara keseluruhan pendapatan usaha konsolidasi perseroan tercatat mengalami penurunan 9,6% menjadi Rp 883 miliar dibanding periode yang sama 2011 sebesar Rp 976,8 miliar. (didi)

BERITA TERKAIT

PTBA Bidik Pendapatan Tumbuh 20% di 2018 - Garap Proyek PLTU Mulut Tambang

NERACA Jakarta – Optimisme membaiknya harga tambang batu bara di tahun depan, menjadi sentimen positif bagi emiten tambang untuk memacu…

Pasar Apartemen Tetap Tumbuh di Tahun Politik

NERACA Jakarta –Meskipun tahun depan dihantui sentimen politik, para pelaku properti menyakini industri properti masih tetap positif. Apalagi, properti masih…

Mandiri Investasi Bakal Rilis Tiga KIK EBA - Targetkan Dana Kelola Tumbuh 20%

NERACA Jakarta – Tahun depan, PT Mandiri Manajemen Investasi (Mandiri Investasi) menargetkan pertumbuhan total dana kelolaan atau asset under management…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pelindo III Cari Modal di Pasar US$ 1 Miliar

Guna mendanai ekspansi bisnisnya lebih agresif lagi, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III berencana menggalang dana dari pasar modal pada 2018…

Lagi, LPPF Buka Gerai Baru di Surabaya

Perluas penetrasi pasar, PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) membuka gerai baru berkonsep specialty store kedua di Pakuwon Mall Surabaya.…

Jasa Armada Pangkas Jumlah IPO Jadi 20%

Pilih cara aman atau konservatif agar saham IPO terserap di pasar, PT Jasa Armada Indonesia menurunkan jumlah saham yang di…