Bank DKI Raup DPK Hingga Rp 20,35 Triliun

NERACA

Jakarta – PT Bank DKI berhasil meraup Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp 20,35 triliun di semester pertama 2012. Ini naik 43,11% dari periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 14,22 triliun. “Sedangkan sampai akhir tahun ini, kita menargetkan DPK sebesar Rp 22 triliun, sekarang sudah terlampaui, karena kita sudah menghasilkan Rp 22,3 triliun. Kita tidak ada revisi target, karena jika ada kelebihan yang didapat itu bonus,” kata Direktur Utama PT Bank DKI, Eko Budiwiyono di Jakarta

Menurut Eko, pertumbuhan DPK tersebut paling besar dipengaruhi oleh pertumbuhan dana simpanan berjangka, giro dan tabungan. Pada semester pertama 2012 ini, simpanan berjangka tumbuh sebesar 56,10% dari periode sama tahun lalu yang senilai Rp 5,8 triliun menjadi Rp 9,1 triliun pada tahun ini. Kemudian giro meningkat 34,83% menjadi Rp 7,3 triliun, dari Rp 5,4 triliun pada periode sama tahun lalu. Dan tabungan menjadi sebesar Rp 3,2 triliun, naik 30,7%, dari Rp 2,5 triliun pada tahun 2011. “Komposisi deposito memang masih tinggi. Komposisi kami juga akan terus diseimbangkan dengan memperbesar dana murah yang berasal dari giro dan tabungan,” tambahnya

Selain DPK, Bank DKI juga mengalami peningkatan dalam penyaluran kredit. Sampai akhir Juni 2012, penyaluran kredit Bank DKI mencapai Rp 12,84 triliun, tumbuh 37,27%, dari periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 9,36 triliun. “Sampai akhir tahun ini, target penyaluran kredit kami senilai Rp 15,1 triliun. Jadi kami harus ekspansi lagi hingga Rp 2,3 triliun untuk mencapai target itu,” ujar Eko.

Komposisi penyaluran kredit Bank DKI adalah kredit konsumtif sebesar 55%, dan kredit produktif 45%. Kredit konsumtif ini kebanyakan dinikmati oleh para pegawai Pemda DKI. Sedangkan kredit produktif terbagi lagi atas beberapa segmen yaitu retail, mikro, komersial, dan korporasi. “Arah (penyaluran kredit) kita ke depan yaitu akan menjadi 50:50 untuk kredit produktif dan konsumtif. Jadi produktifnya tumbuh lebih cepat, dan konsumtifnya tetap tumbuh. Karena konsumtif itu kita pakai sebagai engine of profitability, supaya margin kita tetap stabil. Yang produktif, kita pakai sebagai engine of growth, maka pertumbuhan kita juga cepat,” pungkasnya. **ria

BERITA TERKAIT

BI : Dolar Tekan Rupiah Hingga Akhir 2018

      NERACA   Jakarta - Keperkasaan dolar AS terus menekan nilai tukar Rupiah dan mata uang negara lain…

Bank Panin Rilis Obligasi Rp 1,4 Triliun

Pacu pertumbuhan kredit lebih agresif lagi, PT Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN) bakal menerbitkan obligasi dan obligasi subordinasi dengan total…

Bank SulutGo Ajukan Izin Terbitkan Kartu Debit

  NERACA   Manado - PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sulawesi Utara dan Gorontalo (SulutGo) mengajukan permohonan izin kepada Bank…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Bank SulutGo Ajukan Izin Terbitkan Kartu Debit

  NERACA   Manado - PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sulawesi Utara dan Gorontalo (SulutGo) mengajukan permohonan izin kepada Bank…

Rasio Kredit Macet Di Sulteng Aman

    NERACA   Palu - Kepala kantor perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tengah Miyono mengatakan rasio kredit macet atau…

Sinergi Pesantren dengan Pembiayaan Ultra Mikro

      NERACA   Jakarta - Pemerintah mendorong sinergi pondok pesantren dengan program pembiayaan Ultra Mikro yang diyakini dapat…