Awal Pekan Penguatan IHSG Masih Tertahan

NERACA

Jakarta – Pada akhir pekan kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat tipis 6,701 poin (0,16%) ke level 4.099,813. Sementara Indeks LQ45 ditutup menguat tipis 1,652 poin (0,23%) ke level 703,756. Bergerak fluktuatif membawa indeks harus puas di level 4.099 dan gagal balik arah ke level 4.100.

Analis Panin Sekuritas Purwoko Sartono mengatakan, IHSG pada perdagangan akhir pekan ini ditutup menguat tipis setelah tertekan sepanjang sesi perdagangan. “Menguatnya indeks BEI didukung oleh kembali menguatnya pembukaan bursa Eropa," katanya di Jakarta, Jum’at akhir pekan kemarin.

Dia menambahkan, menguatnya indeks BEI menyusul ekspektasi positif dari data tenaga kerja Amerika Serikat yang diprediksi akan membaik. Berikutnya, dia memproyeksikan indeks BEI Senin awal pekan akan bergerak mudah berubah dengan kecenderungan melemah.

Menurutnya, berakhirnya euforia laporan keuangan emiten serta beberapa data makro ekonomi dari Eropa maupun China dan Jepang dalam dua pekan terakhir menunjukkan untuk sementara waktu pasar masih akan dibayangi oleh kekhawatiran akan melambatnya perekonomian global.

Transaksi investor asing tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 306,766 miliar di seluruh pasar. Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi mencapai 93.244 kali pada volume 4,604 juta lot saham senilai Rp 3,46 triliun. Sebanyak 166 saham naik, sisanya 199 saham turun, dan 110 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia mengakhiri perdagangan akhir pekan dengan bervariasi. Dua pasar saham berhasil menguat, yaitu China dan Singapura. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya United Tractor (UNTR) naik Rp 900 ke Rp 21.300, Mayora (MYOR) naik Rp 850 ke Rp 21.700, Sarana Menara (TOWR) naik Rp 400 ke Rp 17.600, dan Hexindo (HEXA) naik Rp 400 ke Rp 7.350.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Delta Jakarta (DLTA) turun Rp 500 ke Rp 190.000, Multi Prima (LPIN) turun Rp 475 ke Rp 3.725, Astra Agro (AALI) turun Rp 400 ke Rp 22.350, dan Indocement (INTP) turun Rp 250 ke Rp 20.000.

Menutup perdagangan sesi I, indeks BEI ditutup terkoreksi 19,524 poin (0,48%) ke level 4.073,588. Sementara Indeks LQ45 turun 3,330 poin (0,48%) ke level 698,774. Seluruh indeks sektoral di lantai bursa terpangkas cukup dalam sehingga kompak melemah. Koreksi paling dalam diderita sektor properti. Saham unggulan dan lapis dua paling banyak dilepas.

Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi mencapai 44.254 kali pada volume 2,317 juta lot saham senilai Rp 1,366 triliun. Sebanyak 66 saham naik, sisanya 172 saham turun, dan 73 saham stagnan. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Unilever (UNVR) naik Rp 200 ke Rp 24.800, XL Axiata (EXCL) naik Rp 150 ke Rp 6.400, United Tractor (UNTR) naik Rp 150 ke Rp 20.550, dan Indosiar (IDKM) naik Rp 150 ke Rp 5.850.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 1.550 ke Rp 49.300, HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 500 ke Rp 51.000, Multi Prima (LPIN) turun Rp 400 ke Rp 3.800, Bukit Asam (PTBA) turun Rp 350 ke Rp 14.950.

Pada awal perdagangan, indeks BEI juga dibuka turun 16,50 poin atau 0,40% ke posisi 4.076,61, sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 4,20 poin (0,60%) ke level 697,91, “Mayoritas bursa Asia dibuka tertekan memfaktorkan sentimen negatif dari bursa global," kata analis Samuel Sekuritas Christine Salim.

Dia mengemukakan, langkah ECB telah mengecewakan pasar sehingga bursa Eropa terkoreksi signifikan seiring pernyataan presiden ECB yang belum akan melakukan langkah konkrIt untuk masuk ke pasar obligasi.

Sebelumnya, Purwoko Sartono menambahkan, pelaku pasar kembali mengambil posisi 'profit taking' sehingga menekan IHSG. Pelemahan indeks BEI juga seiring dengan melemahnya bursa regional.

Dia mengatakan, tidak adanya pengumuman stimulus dari bank sentral Eropa (ECB), kembali menekan saham berbasis komoditas seiring dengan pelemahan yang terjadi pada harga komoditas global.

Meski demikian, dikatakan dia, pihaknya masih melihat ada peluang untuk melakukan perdagangan saham pada saham lapis dua dan tiga ditengah lesunya pergerakan indeks. Bursa regional diantaranya indeks Hang Seng melemah 167,53 poin (0,85%) ke level 19.522,67, indeks Nikkei-225 turun 139,98 poin (1,62%) ke level 8.513,20 dan Straits Times melemah 11,01 poin (0,36%) ke level 3.025,18. (bani)

BERITA TERKAIT

BI : Kredit Baru Masih Melambat

NERACA Jakarta - Bank Indonesia melalui survei perbankan melihat pertumbuhan kredit baru perbankan pada triwulan III 2017 masih melambat, terutama…

Penguatan Karakter Tak Melulu Soal Akademis

      Usai ujian akhir semester, Martin seorang guru mata pelajaran sibuk menyiapkan nilai para siswanya. Selain nilai akademis,…

Stabilitas Ekonomi Menopang Laju IHSG

NERACA Jakarta – Mengakhiri perdagangan Kamis  (12/10), indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat 43,41…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pendapatan BTEL Susut Jadi Rp 1,51 Miliar

Bisnis telekomunikasi milik PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) terus menyusut. Tengok saja, hingga periode 30 Juni 2017 meraih pendapatan sebesar…

Saham IPO ZINC Oversubscribed 500 Kali

Kantungi dana segar hasil peawaran umum saham perdan atau initial public offering (IPO), PT Kapuas Prima Coal Tbk (ZINC) menyiapkan…

Hotel dan Residensial Beri Kontribusi - Penjualan PP Properti Proyeksikan Tumbuh 60%

NERACA Jakarta – Jelang tutup tahun yang tinggal dua bulan lagi, PT PP Properti Tbk (PPRO) terus bergerilya untuk memenuhi…