Tingkatkan Investor Ritel, Saatnya Perbanyak Stock Split - Tingkatkan Likuiditas

NERACA

Jakarta – Mengantisipasi buruknya pergerakan harga saham seiring dengan dampak krisis eropa, maka emiten bisa mensiasatinya dengan melakukan pemecahan nilai nominal saham (stock split). Pasalnya, cara tersebut dinilai lebih banyak manfaat karena bisa meningkatkan likuiditas dan juga keterjangkauan investor ritel terhadap emiten yang harga sahamnya sudah mahal.

Hal tersebut disampaikan Presiden Direktur PT Schroder Invesmnet Management Michael Tjoajadi di Jakarta, Kamis (2/8), “Stock split itu bagus karena bisa bikin likuid," katanya.

Selain meningkatkan likuiditas, Michael mengatakan, pengurangan harga saham juga memberi kesempatan kepada investor ritel untuk untuk membeli saham bernilai besar dengan harga terjangkau. Hal ini tentu saja dapat meningkatkan jumlah investor ritel.

Stock split adalah aksi korporasi yang kerap dilakukan emiten di saat harga sahamnya terlalu mahal. Dengan memecah nilai nominal, maka harga saham emiten akan menjadi murah. Dampaknya, bisa terjangkau oleh investor ritel.

Sebagai informasi, PT Surya Toto Indonesia Tbk (TOTO) efektif melakukan stock split dari Rp1.000 per lembar saham menjadi Rp100 per lembar saham pada 9 Agustus mendatang.Sebelumnya juga ada PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) dan PT Indosiar Karya Mandiri Tbk (IDKM) yang berencana melakukan stock split atau pemecahan nilai nominal saham dengan rasio 1:5. Sejumlah emiten besar, seperti PT Astra International Tbk (ASII) dan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) juga telah melakukan stock split.

Selain itu, Michael Tjoajadi juga mengungkapkan, lesunya pasar keuangan global dan regional menjadi peluang pasar modal Indonesia guna menyambut masuknya aliran dana asing ke Bursa Efek Indonesia (BEI). Alasannya, negara berkembang akan menjadi pilihan investor global, “Indonesia yang dikategorikan negara berkembang akan memiliki pertumbuhan yang lebih baik ketimbang negara maju,"ungkapnya.

Dia menambahkan, pertumbuhan tersebut ditopang besarnya pasar domestik. Dengan tidak terlalu bergantung pada ekspor, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih yang lebih tinggi dibanding negara lainnya.

Meski begitu Michael menambahkan, pasar modal Indonesia harus mempersiapkan sebagai antisipasi masuknya arus asing ke bursa domestik. Beberapa hal yang harus dilakukan menurut Michael, adalah peningkatan likuiditas dan penyempurnaan regulasi. Caranya, bisa memperbanyak perusahaan melakukan Initial Public Offering (IPO), penerbitan saham baru (rights issue), atau peningkatan porsi pemegang saham publik.

Michael menuturkan, masih prospektifnya Indonesia di tengah krisis global adalah utang ekonomi di negara berkembang, termasuk Indonesia maish lebih kecil dibanding negara maju. "Negara berkembang ekonominya lebih sehat. Ini membuat Indonesia menuju trend yang positif,” ujarnya. (bani)

BERITA TERKAIT

Aksi Beli Investor Bawa IHSG Menguat - Sentimen Perang Dagang Mereda

NERACA Jakarta  - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (20/9) ditutup menguat sebesar 57,66 poin…

Pelaku Pasar Usulkan Porsi Investor Ritel 10% - Skema Penjatahan Saham IPO

NERACA Jakarta – Menyadari pentingnya keberadaan investor ritel di pasar modal, pelaku pasar menyabut baik rencana Otoritas Jasa Keuangan (OJK)…

Likuiditas Global Ibarat Pesawat Komersial

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri Negara-negara di dunia, seperti negara emerging market sebenarnya hanya menjadi "mainan" likuiditas global,…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Transaksi Saham di NTB Tetap Tumbuh

Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Mataram, Nusa Tenggara Barat, I Gusti Bagus Ngurah Putra Sandiana menyatakan, transaksi pembelian saham…

Tawarkan Harga Rp 190-230 Persaham - HK Metals Bidik Dana IPO Rp 337,33 Miliar

NERACA Jakarta -PT HK Metals Utama menawarkan harga saham perdana antara Rp 190-230 per saham. Nantinya, dana  hasil IPO akan…

Siapkan Sanksi Tegas - BEI Ingatkan Soal Aturan Free Float Saham

NERACA Jakarta - Meskipun meleset dari target, pihak PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali mengingatkan emiten untuk memenuhi kewajiban aturan…