Antisipasi Krisis Ekonomi Global

Peringatan Bank Dunia beberapa waktu lalu yang menyatakan adanya ancaman gejolak krisis ekonomi global sepertinya mulai jadi kenyataan di negeri ini. "Indonesia tidak dapat menghindar dari dampak penurunan ekonomi global," kata Kepala Perwakilan Bank Dunia Stefan Koeberie di Jakarta (12 /7).

Tentu yang harus menjadi perhatian pemerintah saat ini adalah volatilitas harga komoditas dunia, terutama harga-harga komoditas ekspor yang terus mengalami penurunan. Beberapa komoditas ekspor seperti batu bara, karet, minyak sawit, dan tembaga mengalami penurunaan hampir 20%. Ini penyumbang melemahnya kinerja ekspor, dan bergeraknya neraca ke arah defisit perdagangan.

Kenyataan ini diperkuat lagi oleh data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mengungkapkan, neraca perdagangan komoditas nonmigas Indonesia dengan negara ASEAN selama semester I/2012 mengalami defisit US$727 juta. Padahal pasar ASEAN merupakan tujuan utama ekspor Indonesia.

Namun demikian, Bank Dunia mengapresiasi langkah antisipatif yang dilakukan pemerintah. Salah satunya mempersiapkan protokol manajemen krisis (crisis management protocol-CMP). Selain itu, langkah menyiapkan pinjaman siaga juga dinilai sangat baik, khususnya dalam mengantisipasi gejolak saat ini.

Meski demikian, ini bukan berarti ancaman krisis akan berkurang. Pemerintah masih memiliki pekerjaan rumah (PR) mempersiapkan rencana kebijakan fiskal yang baik. Pemerintah harus lebih efisien dalam belanja guna mendukung kinerja ekonomi dan melindungi masyarakat miskin.

Mau tidak mau, sejumlah langkah itu harus segera dilakukan, sehingga jika krisis menjalar, pemerintah masih memiliki kepercayaan investor sehingga pertumbuhan investasi masih bisa diakselerasi tetap tumbuh positif.

Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini mencapai 6,4%. Apabila krisis ekonomi global terus memburuk, pertumbuhan diperkirakan bisa tertekan hingga 4%.

Dari gambaran tersebut, kondisi saat ini Indonesia menghadapi tantangan ganda, yaitu kesiapan mengantisipasi krisis, dan menghadapi guncangan jangka pendek. Kemudian, pada saat bersamaan pemerintah harus terus mendukung pertumbuhan ekonomi jangka menengah. Itu sebabnya, peningkatan kepercayaan investor memiliki peranan strategis.

Kita melihat situasi perlambatan ekonomi global saat ini diperkirakan masih akan terus berlanjut dalam jangka panjang. Untuk mengantisipasinya, pengeluaran pemerintah (belanja negara) seharusnya diprioritaskan untuk kegiatan yang produktif seperti pembangunan infrastruktur.

Selain itu, pemerintah harus fokus pada progran pengentasan kemiskinan. Penajaman kebijakan bukan hanya secara global tetapi lebih pada tindakan langsung yang dapat menyelesaikan permasalahan itu. Arah kebijakan pemerintah dalam melakukan kegiatan ekonomi sejatinya dapat meningkatkan lapangan pekerjaan, karena hasilnya dapat mengakselerasi pertumbuhan ekonomi.

Lingkungan usaha yang belum kondusif juga sering dikaitkan dengan kualitas birokrasi yang tidak efisien, ketersediaan infrastruktur yang tidak memadai, tingginya tingkat korupsi, kesulitan dalam akses permodalan, kebijakan pemerintah yang tidak konsisten, isu tenaga kerja dan perburuhan, tata ruang yang tidak jelas dan orientasi hingga kebijakan ekonomi daerah yang masih belum berpihak kepada sektor riil. Ini semua menjadi tanggung jawab pemerintah.

BERITA TERKAIT

Kemenkeu Kejar Utang 22 Obligor BLBI - GLOBAL BOND JAGA ARUS KAS PEMERINTAH

Jakarta-Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kemenkeu terus mengejar 22 obligor penerima Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang hingga kini belum…

Ekonomi Banten Triwulan-III Tumbuh 5,62 Persen

Ekonomi Banten Triwulan-III Tumbuh 5,62 Persen NERACA Serang - Ekonomi Provinsi Banten triwulan III/2017 tumbuh 5,62 persen (yoy), lebih tinggi…

Istri Nelayan Diberdayakan Lewat Edukasi Keuangan - Tingkatkan Kesejahteraan Ekonomi Keluarga

Sebagai bagian dari komitmen untuk mendukung perluasan literasi dan inklusi keuangan masyarakat, HSBC bekerja sama dengan Putera Sampoerna Foundation (PSF)…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

Perketat Dana Desa

Desa yang bakal kebanjiran anggaran negara pada hakikatnya bertujuan mulia, yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Namun pada kenyataannya, banyak…

BUMN Tersandera Proyek

Menurut analisis makro ekonomi yang dilakukan LPEM FEB-UI bertema Indonesia Economic Outlook 2018 yang diuraikan mengenai keberhasilan proyek infrastruktur. Bahkan…

Dilema Bank Lokal

Tantangan perbankan sebagai motor pembangunan melalui penyaluran kredit saat ini semakin kompleks. Hingga Oktober 2017, kredit perbankan nasional hanya tumbuh…