Masalah Hard Infrastructure Harus Cepat Diselesaikan

NERACA

Jakarta—Persoalan "hard infrastructure" menjadi prioritas untuk diselesaikan demi mempertahankan kinerja ekonomi saat ini. Adapun hard infrastructure itu , seperti jalan, jembatan, pelabuhan dan listrik serta "soft structure" berupa birokrasi, perizinan, regulasi dan ICT. “Ini menjadi prioritas untuk diselesaikan,” kata Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi dan Pembangunan Prof Firmanzah di Jakarta,2/8

Pada saat yang sama, kata Mantan Dekan FEUI ini, keinginan sejumlah investor baik dalam negeri maupun asing berinvestasi di sektor manufaktur harus sepenuhnya didukung oleh sumber daya manusia yang kompetitif. “Untuk itu optimalisasi lembaga-lembaga penelitian dan riset nasional perlu diintensifkan untuk menunjang proses industrialisasi nasional,” tambahnya.

Disisi lain, Firmanzah memandang peluang memperkuat industri domestik Indonesia masih terbuka lebar, karena pertumbuhan investasi baik PMA maupun PMDN, terus meningkat signifikan. "Tingginya investasi baik PMN maupun PMDN mengindikasikan mulai meningkatnya kembali peran industri nasional," ujarnya.

Firmanzah mengatakan, realisasi investasi Indonesia selama semester I-2012 mencapai Rp148,1 triliun dengan PMDN sebesar Rp40,5 triliun atau naik 22,7 % dari periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara PMA sebesar Rp107,6 triliun atau naik sekitar 30,4 % dari periode yang sama tahun sebelumnya. “Realisasi investasi tersebut, menurut Firmanzah, ekuivalen dengan 52 % dari target 2012 sebesar Rp76,7 triliun untuk PMDN dan Rp206,8 triliun untuk PMA,” tegasnya.

Guru Besar Fakultas Ekonomi UI itu menjelaskan pertumbuhan industri pengolahan non-migas telah melampaui pertumbuhan nasional, yaitu sebesar 6,83 % dengan nilai ekspor industri non-migas berjumlah 122,18 miliar dolar AS atau 60 % dari total ekspor nasional. "Pada akhir 2012, pertumbuhan industri pengolahan non-migas diharapkan bisa mencapai 7,05 % dan pada 2013 tumbuh sebesar 8,02 %," tegasnya

Menurut Firmanzah, kontribusi sektor industri terhadap PDB Indonesia pada 2011 sebesar 24,28 %. Industri kecil masih mendominasi sebanyak 3,8 juta unit dan industri besar berjumlah 24.232 unit dengan total serapan tenaga kerja sebesar 14,54 juta orang.

Dikatakan Firmanzah, perkembangan industri pengolahan non-migas diarahkan untuk membangun basis industri hilir, khususnya dalam meningkatkan nilai tambah industri. "Peningkatan nilai tambah pengolahan barang mineral seperti bauksit, nikel, bijih besi dan tembaga perlu terus dilakukan," ujarnya.

Begitu pula program hilirisasi untuk pengolahan hasil perkebunan seperti CPO, karet, cokelat, hasil pertanian, peternakan dan perikanan, menjadi keniscayaan untuk membangun struktur industri berbasis unggulan komparatif.

Ia juga memandang perlunya proporsi ekspor barang mentah Indonesia terus dikurangi agar mendapat nilai tambah, tenaga kerja dan lapangan usaha baru terus berkembang dalam sistem rantai nilai produksi.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi menegaskan Indonesia harus dapat memanfaatkan langkah China untuk merelokasi sejumlah industri padat karya ke Tanah Air. "Peluang kerja sama Indonesia dengan China harus dimanfaatkan betul setelah mereka merelokasi industri padat karya yang bahan bakunya tersedia di Indonesia. sehingga kita tidak lagi mengekspor bahan baku ke mereka seperti rotan, kelapa sawit, dan kakao. Selain pengusaha, kita juga harus mengajak pemerintah China agar mendukung relokasi bisnis tersebut," imbuhnya. **cahyo

BERITA TERKAIT

Proyek Kereta Cepat Diperkirakan Rampung 2020

      NERACA   Jakarta - Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan pembangunan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung membutuhkan waktu pengerjaan…

Literasi Investasi Mahasiswa Harus Ditingkatkan

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kantor perwakilan Surakarta menyatakan, literasi keuangan dan investasi di kalangan mahasiswa harus ditingkatkan karena sektor…

Luhut: Dubes Harus Mampu Berikir “Out of The Box” - EKSPOR MOBIL RI KE VIETNAM MULAI TERANCAM

Jakarta-Menko bidang Kemaritiman Luhut B. Pandjaitan menilai, Indonesia harus menjalankan politik luar negeri yang lebih ofensif, dengan tetap mengedepankan kepentingan…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Utang Luar Negeri Indonesia Naik 10,1%

      NERACA   Jakarta - Jumlah utang luar negeri Indonesia di akhir 2017 meningkat 10,1 persen (tahun ke…

Muliaman Hadad Ditunjuk jadi Dubes RI untuk Swiss

    NERACA   Jakarta-Mantan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman Darmansyah Hadad resmi ditunjuk menjadi Duta Besar…

Tiga Tahun Jokowi Diklaim Berhasil Turunkan Inflasi

      NERACA   Padang - Pejabat Kantor Staf Presiden (KSP) memaparkan dalam tiga tahun perjalanan pemerintahan Presiden Jokowi…