Bandara Karawang Solusi Kepadatan Soetta

NERACA

Jakarta---Pemerintah mengusulkan pembangunan bandara di Karawang sebagai solusi mengurangi kepadatan penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta). Tawaran itu berlaku apabila pembebasan lahan sulit dilakukan dan mahal untuk pembangunan Terminal 4. “Apabila sampai dengan 2013 tanah itu sulit dibebaskan dan mahal, maka kita cari alternatif yakni bandara baru di Karawang," kata Direktur Bandara Kementerian Perhubungan Bambang Cahyono di Jakarta, Kamis.

Lebih jauh kata Bambang, ada dua opsi pembangunan Terminal 4, antara lain skema "paralel close" di lahan seluas 140 hektar. Untuk itu, ada sekitar 2.000 rumah yang akan direlokasikan dan diperkirakan dana relokasi mencapai Rp850 miliar. "Bila berhasil dibangun, maka kapasitas penumpang bisa naik menjadi 75 juta orang pada 2022," ungkapnya.

Sementara "independent terminal" dibutuhkan lahan seluas 830 hektar dan akan merelokasikan 9.400 rumah. Dana relokasi ini diproyeksikan sebesar Rp4,6 triliun. "Proyek ini kapasitasnya nanti menjadi 90-100 juta orang dan mulai beroperasi 2026 mendatang. Nantinya akan ada empat landasan di Terminal 4 tersebut," tuturnya.

Saat ini, pemancangan tiang pertama (ground breaking) Terminal 3 telah dilakukan Kamis. Sebelum dilakukannya "ground breaking" ini, PT Angkasa Pura II Persero telah melakukan pelebaran akses jalan utama P1 dan P2, melakukan perluasan apron dan membuat "high speed rapid exit taxiway" untuk meningkatkan kapasitas pergerakan pesawat, menambah kapasitas "boarding lounge" di Terminal 1 dan 2.

Untuk mempercepat proses pembangunan hingga mencapai kapasitas "ultimate" bandara sebanyak 62 juta pergerakan penumpang per tahun, perseroan akan menerapkan pola "design and build".

Adapun "grand design" Bandara Soetta, antara lain pertama adalah optimalisasi "runway" (landas pacu) untuk meningkatkan kapasitas pergerakan pesawat pada landasan pacu 1 dan 2. Kedua, melakukan pengembangan Terminal 3 serta revitalisasi Teminal 1 dan 2 untuk menambah pergerakan penumpang.

Sedangkan agenda ketiga adalah melakukan pembangunan terminal kargo, dan agenda keempat adalah melakukan pengembangan fasilitas penunjang aksesibilitas dan fasilitas lain, seperti area bisnis dan komersial. Untuk agenda kelima adalah membangun "integrated building", yakni bangunan penghubung antar T1 dan T2 yang multifungsi dan berkonsep "one stop services".

Sementara itu, Direktur Utama PT Angkasa Pura II Tri S Sunoko mengatakan rancangan besar ("grand design") Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta akan menjadi solusi peningkatan kapasitas untuk mengantisipasi melonjaknya jumlah penumpang dan pesawat hingga jangka waktu 20 tahun mendatang. "'Grand design' Bandara Soekarno-Hatta diharapkan akan menjadi solusi untuk mengantisipasi perkembangan bandar udara selama kurun waktu 20 tahun ke depan," ujarnya

Lebih jauh Tri memaparkan, rancangan besar Bandara Soekarno-Hatta merupakan konsep besar yang berfungsi sebagai pedoman dalam pembuatan perancangan dan pengembangan yang mengacu kepada Rencana Induk Bandar Udara Soekarno-Hatta sebagaimana ditetapkan dalam keputusan Menteri Perhubungan No KM 48 Tahun 2008.

Menurut Tri, rancangan besar dibuat dengan pendekatan komprehensif untuk memberikan solusi terutama terhadap nasalah kapasitas, aksesibilitas, konektivitas, intermoda, dan aspek lingkungan. Berdasarkan data Dewan Bandara Internasional (ACI) tahun 2012, Bandara Soekarno-Hatta merupakan bandara tersibuk ke-12 di dunia dengan jumlah penumpang mencapai 52 juta orang. Sedangkan diproyeksikan pada tahun 2020-2030, lalu lintas penumpang dan pesawat di kawasan Asia Pasifik diprediksi akan mengalahkan kawasan Eropa dan Amerika dengan jumlah pergerakan mencapai lebih dari 2,3 miliar penumpang per tahun. **bari/cahyo

BERITA TERKAIT

Manhattan Associates Hadirkan WMS - Solusi Pengelolaan Gudang

NERACA Jakarta - Manhattan Associates Inc.mengumumkan penyempurnaan yang signifikan terhadap solusi pengelolaan gudang andalannya, Warehouse Management Solution (WMS). Penyempurnaan WMS…

Penundaan Proyek Bukan Solusi Atasi Rupiah

    NERACA   Jakarta - Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) menilai langkah pemerintah melakukan penundaan sejumlah proyek infrastruktur kelistrikan bukanlah…

DPR: Ganjil-Genap Margonda Depok Solusi Jangka Pendek

DPR: Ganjil-Genap Margonda Depok Solusi Jangka Pendek NERACA Depok - Anggota Komisi V DPR RI (Dapil Depok-Bekasi) Intan Fitriana Fauzi…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Kementan, Kemendag atau Bulog Yang Dievaluasi - Impor Beras

  NERACA   Jakarta – Persoalan impor beras mengemuka saat perseteruan antara Dirut Perum Bulog Budi Waseso dan Menteri Perdagangan.…

Kemenkeu Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2018 Capai 5,2%

  NERACA   Jakarta - Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Suahasil Nazara memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2018…

Harapan DPR Kepada Pemimpin Bekasi

      NERACA   Jakarta – Pasca dilantiknya Walikota Bekasi Rahmat Efendi dan Wakil Walikota Tri Adhiyanto, Anggota DPR…