Tingkatkan Industri Tekstil, Pemerintah Gandeng Korea Selatan

NERACA

Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Korea International Cooperation Agency (Koica) melakukan kerja sama teknik untuk meningkatkan standar kualitas produk tekstil serta menjamin kualitas pengujian terhadap produk tekstil nasional.

“Total anggaran yang diperlukan mencapai US$1,6 juta untuk mengimplementasikan proyek dalam kerja sama teknik tersebut,” kata Resident Representative Korea International Cooperation Agency, Sungho Choi pada acara penandatanganan kerja sama dengan pihak Kemenperin di Jakarta, Kamis (2/8).

Choi menuturkan, Korea International Cooperation Agency akan mengalokasikan dana US$1,5 juta dalam bentuk bantuan peralatan uji laboratorium, bantuan asistensi tenaga ahli, dan bantuan pelatihan. Sedangkan pemerintah Indonesia mengalokasikan anggaran sebesar US$0,1 juta atau Rp950 juta pada Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) 2013.

“Kerja sama ini diwujudkan dalam record of discussion (RoD) tentang Technical Cooperation in International Textile Quality Standard and Textile Testing Quality Assurance yang akan berlangsung sampai akhir 2014,” ujarnya.

Choi mengatakan, kerja sama teknik tentang peningkatan standar pengujian kualitas produk tekstil ini merupakan realisasi dari usulan kegiatan yang diajukan Balai Besar Tekstil untuk dibiayai dari bantuan luar negeri (bluebook 2010—2014). Selanjutnya, Pemerintah Korea Selatan, dalam hal ini Korea International Cooperation Agency, menyatakan minatnya untuk membiayai proyek tersebut dengan skema hibah pada 2011.

“Tujuan dari proyek ini adalah untuk mengembangkan sumber daya manusia Balai Besar Tekstil dalam meningkatkan kualitas pelayanan dan meningkatkan kinerja balai tersebut melalui penyediaan peralatan. Melalui kerja sama ini, pihaknya berkomitmen untuk meningkatkan standar kualitas pengujian produk tekstil di balai tersebut sehingga mampu memenuhi standar kualitas pengujian yang diakui internasional,” paparnya.

Sedangkan Kepala Badan Pengkajian Kebijakan, Iklim, dan Mutu Industri (BPKIMI) Kemenperin, Arryanto Sagala mengatakan, Korea Selatan termasuk salah satu produsen tekstil yang berkualitas di dunia.

“Pada 2011, nilai ekspor tekstil negara tersebut mencapai US$15,7 miliar dan menduduki posisi ke-12 di antara negara di dunia. Sementara itu, Indonesia berada di peringkat 16 dengan nilai ekspor US$13,3 miliar pada tahun lalu dan kerja sama ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan daya saing produk tekstil dalam negeri,” katanya.

Sebelumnya Menteri Perindustrian, MS. Hidayat juga melakukan kerjasama dengan pemerintah republik Ceko untuk industri tekstil,mengingat Ceko merupakan pasar tekstil yang memiliki potensi yang sangat bagus. Sangat disayangkan jika tidak segera dilakukan kerjasama.

Tingkatkan Ekspor

Menurut Menperin, kerjasama ini bertujuan untuk meningkatkan ekspor bahan baku tekstil Indonesia yang kualitasnya dinilai lebih baik dibanding bahan baku impor. Selama ini, Indonesia cukup banyak melakukan ekspor bahan baku tekstil ke luar negeri, seperti India dan Cina. “Namun untuk saat ini, kita melihat pasar tekstil Ceko yang juga memiliki potensi yang sangat bagus sehingga sangat disayangkan jika tidak dilakukan kerjasama secepatnya,” ungkap Hidayat.

Hingga saat ini, rencana kerjasama tersebut belum sampai pada tahap membicarakan soal nilai investasinya. Ini, kata dia, karena masih harus dilaporkan kepada Presiden. "Kita akan lakukan ekspor ke Ceko, untuk saat ini kebanyakan produk tekstil. Kita harus cepat menggandeng Ceko sebelum direbut Cina. Kita bisa ambil peluang kerjasama dengan Ceko karena memiliki prospek pembangunan yang pesat," tambah Hidayat.

Hidayat menyampaikan, nilai ekspor Indonesia empat kali lipat lebih tinggi dibanding nilai ekspor Ceko. Dalam lima tahun terakhir, neraca perdagangan Indonesia-Ceko mencapai US$ 500 juta. Selain kerjasama dalam bidang tekstil, kerjasama juga dilakukan di bidang farmasi, dan pertahanan.

Sementara, menurut Presiden Ceko, Vaclav Klaus, hubungan dagang Indonesia dan Ceko sudah cukup erat. Namun nilai perdagangannya masih perlu ditingkatkan lagi. “Kami sangat tertarik kerjasama dengan Indonesia dalam bidang tekstil, karena industri tekstil Indonesia sangat maju,” ujarnya.

BERITA TERKAIT

Proyek Tol Bandung-Tasikmalaya Masih Tunggu Pemerintah Pusat

      NERACA   Bandung - Pemerintah Provinsi Jawa Barat menunggu aksi pemerintah pusat serta mendorong Kementerian Pekerjaan Umum…

IMF: Perang Dagang AS-China Tingkatkan Risiko - PENGUSAHA KHAWATIR PERLAMBATAN EKONOMI

Jakarta-Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund-IMF) mengingatkan, kebijakan Presiden AS Donald Trump yang menyatakan perang dagang dengan China dapat meningkatkan…

Kemenperin Usul Tambah Anggaran Rp 2,57 Triliun - Dukung Industri 4.0

  NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian mengusulkan tambahan anggaran pada tahun 2019 kepada DPR RI sebesar Rp2,57 triliun. Anggaran tersebut…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Ini Jurus Wujudkan Indonesia Jadi Kiblat Fesyen Muslim Dunia

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus berupaya mewujudkan visi Indonesia untuk menjadi kiblat fesyen muslim dunia pada tahun 2020. Peluang…

Laporan Keuangan - Satu Dekade, Kemenperin Raih Opini WTP Berturut

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian kembali meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk laporan keuangan…

Dukung Industri 4.0 - Kemenperin Usul Tambah Anggaran Rp 2,57 Triliun

  NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian mengusulkan tambahan anggaran pada tahun 2019 kepada DPR RI sebesar Rp2,57 triliun. Anggaran tersebut…