Bakrieland Development Catatkan Rugi Rp 34,59 Miliar - Kinerja Semester I-2012

NERACA

Jakarta – Bisnis usaha Bakrie sedang terpukul PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) mencatatkan rugi yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp34,59 miliar pada semester I-2012. Padahal pada periode yang sama tahun sebelumnya, perseroan mencatatkan laba sebesar Rp126,13 miliar.

Presiden Direktur Ambono Januarto mengatakan, penghasilan usaha bersih perseroan menjadi Rp962,9 miliar dari sebelumnya Rp1,04 triliun. Tapi, laba kotor perseroan tercatat naik menjadi Rp453,22 miliar dari sebelumnya Rp394,39 miliar.

Informasi tersebut disampaikan dalam siaran persnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, kemarin. Meskipun rugi, beban penjualan perseroan mengalami peningkatan peningkatan jadi Rp52,17 miliar dari sebelumnya Rp34,29 miliar. Beban umum dan administrasi juga naik sampai Rp275,7 miliar dari sebelumnya Rp195,87 miliar.

Sementara rugi kurs perseroan tercatat meningkat menjadi Rp40,09 miliar dari sebelumnya yang membukukan gain Rp39,27 miliar. Tak hanya itu, beban bunga dan keuangan perseroan juga naik menjadi Rp145,56 miliar dari sebelumnya Rp41,08 miliar.

Alhasil, perseroan mencatat rugi sebelum taksiran beban pajak menjadi Rp39,6 miliar, di mana pada sebelumnya Rp164,36 miliar. Jumlah aset perseroan tercatat naik menjadi Rp17,8 triliun dari sebelumnya Rp17,7 triliun. Kas dan setara kas akhir tahun anjlok Rp249,7 miliar dari sebelumnya Rp863,5 miliar.

Sementara anak usaha Grup Bakrie lainnya PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) juga mengalami kondisi yang sama dan bahkan guna meningkatkan kinerjanya, terus mencari utang. Teranyar, BTEL kantongi dana segar senilai Rp150 miliar atau sekitar 27% dari total senilai Rp754 miliar yang berasal dari penerbitan saham tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD).

"Sekitar 27% atau senilai Rp150 miliar dari non prempetive right sudah masuk ke kas perusahaan. Fokus dana digunakan untuk kebutuhan pengembangan operasi, selain itu juga untuk modal kerja,"kata Presiden Direktur BTEL, Anindya Bakrie.

Sebagaimana diketahui, perseroan menerbitkan saham tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) sebesar 10% atau 2.848.241.000 dengan harga rata-rata 25 hari senilai Rp265 per saham. Adapun jumlah saham yang ada senilai 28.482.507.579. Total dana yang diraih senilai Rp754 miliar dari non premvetive rights issue tersebut.

Selain untuk mempercepat pembayaran utang dari non premvetive rights issue, dana tersebut juga digunakan untuk membiayai akuisisi 35% saham Sampoerna Telekomunikasi Indonesia. (bani)

BERITA TERKAIT

Sriboga Raturaya Bidik Dana US$ 150 Juta - Gelar IPO di Semester Satu 2018

NERACA Jakarta - Minat perusahaan untuk mencatatkan sahamnya di pasar modal cukup besar, kali ini datang dari pengelola jaringan resto…

Sequis Mencatat Kinerja Keuangan Positif di Kuartal III/2017

  NERACA   Jakarta - Director & Chief Agency Officer PT Asuransi Jiwa Sequis Life Edisjah menjelaskan, Sequis Life kembali…

LPKR Bidik Dana Rights Issue Rp 600 Miliar

Butuh modal untuk mendanai ekspansi bisnis di 2018, PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) berencana menerbitkan saham baru (rights issue) pada…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

MCAS Bukukan Penjualan Rp 1,1 Triliun

PT M Cash Integrasi Tbk (MCAS) sepanjang sebelas bulan pertama tahun ini mengantongi angka penjualan sebesar Rp1,1 triliun atau meningkat…

Generali Meriahkan Insurance Festival 2017

Sebagai wujud dukungan terhadap program pemerintah dalam meningkatkan literasi dan inkluasi keuangan, Generali Indonesia turut meramaikan Insurance Festival 2017 yang…

WTON Targetkan Pendapatan Tumbuh 20%

Optimisme tahun depan akan jauh lebih baik kondisi perekonomian dalam negeri, memacu PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) menargetkan pertumbuhan…