Ekonomi Indonesia Diambang Kebangkrutan - Defisit Perdagangan Global RI Makin Lebar

NERACA

Jakarta - Melebarnya defisit neraca perdagangan Indonesia (NPI) hingga mencapai US$1,32 miliar dalam lima tahun terakhir merupakan bahaya besar bagi perekonomian nasional. Data BPS menyebutkan perdagangan nonmigas RI terhadap China mengalami defisit sebesar US$ 4,04 miliar dan Jepang US$3,05 miliar. Bahkan bukan tidak mungkin Indonesia di ambang kebangkrutan.

“Jika hal ini terjadi dalam 5 tahun berturut-turut dan keadaannya semakin parah maka Indonesia bisa saja mengalami kebangkrutan. Semakin lama maka akan semakin bahaya,” kata Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEUI Eugenia Mardhanugraha kepada Neraca, Rabu (1/8).

Menurut Eugenia, terus meningkatkan arus impor, sementara nilai ekspornya makin menurun merupakan tanda-tanda adanya bahaya. Alasanya, Indonesia belum cukup kuat menghadapi persaingan perdagangan bebas. “Kalau Indonesia bersaing dengan produk China maka produk dalam negeri akan sulit bergerak,” tukasnya.

Oleh karena itu, lanjut Dosen FEUI ini, pemerintah perlu memperhatikan produk dalam negeri dan tidak serta merta membuka lebar pintu perdagangan dari China. “Jadi, pemerintah perlu menciptakan regulasi-regulasi agar persaingan pada perdagangan bebas bisa seimbang,” tegasnya.

Justru yang paling mengkhawatirkan dari perdagangan bebas ini, sambung Eugenia, adalah masalah tenaga kerja. Karena yang terserap malah sangatlah sedikit. “Jika tenaga kerja yang terserap sedikit maka angka pengangguran akan meningkat. Hal inilah yang nantinya menjadi beban bagi pemerintah,” lanjutnya.

Tak bisa dibantah, lanjut Eugenia, penyebab NPI adalah kualitas ekspor yang terus menurun. Sehingga menjadikan produksi dalam negeri menjadi turun. “Kalau kualitas stabil maka defisit perdagangan masih bisa diatasi,” ucapnya.

Yang jelas, imbuhnya, langkah mendesaknya, pemerintah perlu memperhatikan sektor pangan. Karena Indonesia kaya akan pangan. “Sektor pangan perlu diperhatikan dan dijaga, jangan sampai terganggu kestabilannya. Setelah pangan terjaga, baru menjaga sektor manufaktur,” tuturnya.

Tak beda jauh dengan dia, peneliti Indef, Ahmad Erani Yustika, NPI berada dalam status “lampu kuning”. Alasanya, selama Mei kembali terjadi defisit sebesar US$485,9 juta. Setelah April malah minus US$ 641,1 juta. “Defisit terjadi karena ekspor menurun akibat imbas krisis global dan penurunan harga komoditas ekspor, sementara impor justru melonjak,” ungkapnya.

Erani mengungkap, lonjakan impor itu karena industri nasional bergantung pada bahan baku impor dan barang modal. Sehingga impor terus melambung. Ditambah pelemahan nilai tukar rupiah. Sehingga harga barang impor semakin mahal.

Dia menegaskan, sudah saatnya pemerintah mempersiapkan industri manufaktur dasar secara besar-besaran agar bisa memenuhi kebutuhan barang modal dan pengolahan bahan baku. "Usulan kepada pemerintah untuk membangun industri manufaktur tersebut sudah kami sampaikan sejak dulu, tapi pemerintah lambat menanggapi," tegasnya

Sementara itu, Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi secara tidak langsung mengakui adanya bahaya ekonomi nasional. “Tantangan ekonomi Indonesia sepanjang 2012 akan lebih berat jika dibandingkan dengan tahun lalu,” ungkapnya kepada Neraca, Rabu (1/8).

Namun pemerintah, sambung Bayu, tidak tinggal diam. Maka untuk memperkuat dan memastikan kinerja ekonomi di 2012 tidak turun, tentu perlu menggenjot promosi dagang ke negara-negara dengan peluang pasar baru. “Dari kemarin pernah saya bilang, tidak heran ke depan neraca perdagangan masih akan defisit,” ujarnya.

Masalahnya, lanjut Bayu, Indonesia lebih banyak mengekspor bahan mentah dan primary industry (industri primer) yang berharga murah. Namun mengimpor produk secondary industry (industri sekunder) dan advance industry (industri maju) yang berlabel mahal. “Lama-lama kita akan sulit menyeimbangkan neraca dagang,” ucapnya

Bayu agak sedikit menghibur. Karena menurunnya ekspor ini bukan hanya dialami Indonesia. “Pelemahan kinerja ekspor ini kan bukan hanya Indonesia yang mengalami, pertumbuhan ekspor yang menurun ini dikarenakan dampak dari krisis ekonomi global yang dirasakan juga di beberapa negara. Di antaranya Jepang, Korea Selatan dan Brazil,” terangnya

Dia mengakui, tanda-tanda melemahnya ekspor sudah terlihat sejak Oktober 2011. Pada Januari lalu, ekspor nonmigas Indonesia ke China jatuh cukup jauh, dari 151% menjadi 17%. “Bahkan, ekspor ke Korea Selatan sampai negatif, yakni -17% dari 208%. Jadi memang tidak mudah, butuh waktu untuk mengembalikan neraca perdagangan kita lebih seimbang,”imbuhnya.

Ditempat terpisah, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Sofjan Wanandi mendesak pemerintah harus aware dengan kondisi yang bisa mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Karena harapan untuk bisa menaikkan ekspor sangat kecil sekali. “Mungkin sampai setahun ini akan terus mengalami penurunan,” ujarnya.

Mau tak mau, papar Sofyan, pemerintah harus berani membatasi impor. Karena saat ini semua negara membatasi impor dan menggenjot produksi dalam negeri. “Kita jangan terlalu melebarkan impor karena itu artinya kita terkena dua kali kerugian. Penyebabnya dampak perdagangan bebas sehingga mengakibatkan over product, dan seharusnya dapat dibatasi,” ungkapnya.

Sofyan tak membantah turunnya komoditas ekspor karena krisis ekonomi global. Beberapa negara, seperti China, India tidak lagi menunjukkan minat belinya terhadap barang-barang dari luar. “Mereka mengandalkan stock dalam negerinya sendiri,” tuturnya.

Menurut Sofyan, selain mengoptimalkan pasar domestik. Maka pemerintah perlu mempercepat pembangunan infrastruktur guna menunjang kinerja dan keberlangsungan industri dalam negeri.

Sementara anggota Komisi VI DPR F-Partai Golkar, Lili Asjudiredja meminta pemerintah semestinya memberlakukan insentif dan proteksi kepada produk ekspor seperti yang dilakukan pemerintah Cina. Dimana Cina memberikan insentif kemudian proteksi terhadap produk ekspornya

Lili mengaku prihatin melihat impor produk pertanian yang semakin besar. Ini karena ketergantungan impor pertanian semakin tinggi. Sehingga mengakibatkan produktifitas pertanian dalam negeri menjadi rendah. “Produktifitas pertanian dalam negeri sangat rendah, jadi tak memenuhi target. Buntutnya, menimbulkan permintaan impor yang semakin tinggi,” ujarnya.

Bahkan Lili agak heran anggaran yang pertanian sudah besar. Tapi dalam kenyataan hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. “Target pemenuhan produksi dalam negeri yang tidak tercapai mengakibatkan impor dari luar negeri menjadi merajalela,” ungkapnya.

Dia menambahkan barang-barang impor sangat mudah sekali masuk ke dalam negeri. Ini dikarenakan pangsa pasar di Indonesia sangat besar. Misalkan saja, Cina tidak akan melakukan impor dari Eropa. Karenakan masih dilanda krisis. “Seharusnya pemerintah kita memberlakukan proteksi bea masuk terhadap impor yang masuk ke Indonesia,” jelasnya.

Lili menuturkan apabila tingkat ekspor Indonesia rendah dibandingkan impor maka neraca perdagangan Indonesia akan defisit. Oleh karenanya, pemerintah harus berupaya mengatasi tingginya impor yang semakin tinggi yang akan bisa mengakibatkan perekonomian Indonesia menurun. “Perlu kebijakan dari pemerintah yang ketat dalam masuknya produk impor ke Indonesia,” katanya.

BERITA TERKAIT

Indomilk Bantu Sarana Inspirasi di 50 Sekolah - Ajak Anak Indonesia Berprestasi

Menggali potensi yang dimiliki para siswa berprestasi di Indonesia agar bisa unjuk gigi di mata dunia, PT Indolakto, anak perusahaan…

Menkeu Harap Swasta Makin Banyak Terlibat di Infrastruktur

      NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani berharap makin banyak pihak swasta yang terlibat dalam pembangunan…

BEI Suspensi Perdagangan Saham MNCN

Mengendus adanya transaksi yang mencurigakan melalui Nomura Sekuritas Indonesia, PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) mengajukan penghentian sementara (suspensi) perdagangan…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Akuisisi Fintech Pembayaran Harus Lapor BI

NERACA Jakarta-Bank Indonesia menerbitkan peraturan baru untuk melindungi konsumen khususnya terkait dengan sistem pembayaran dan ekonomi digital. Ini sehubungan dengan…

WASPADAI IMPOR BARANG KONSUMSI TERUS MENINGKAT - Bappenas: Transaksi Belanja Online Mulai Serius

  Jakarta-Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Prof. Dr. Bambang Brodjonegoro menilai pergeseran belanja masyarakat dari ritel konvensional ke online…

Skema Lelang Gula Rafinasi Dinilai Tidak Efektif

  NERACA Jakarta – Lembaga Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menyatakan distribusi gula rafinasi melalui mekanisme lelang dinilai tidak…