Tambah Armada, Garuda Ngutang US$ 200 Juta

NERACA

Jakarta – Ketatnya persaingan industri penerbangan memaksa PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) untuk terus meningkatkan kinerja dan pelayanan pada konsumen. Maka dalam mendukung kinerja, perseroan akan mengambil utang sekitar US$75 juta pada tahap awal dari pinjaman sebesar US$200 juta.

Direktur Keuangan PT Garuda Indonesia Tbk Handrito Hardjono mengatakan, pihaknya mendapatkan pinjaman sebesar US$200 juta. “Pinjaman tersebut diharapkan keluar pada Agustus ini untuk tahap awal sekitar US$75 juta dan kami akan mencairkan pinjaman sebesar US$125 juta pada Oktober 2012," katanya di Jakarta, Rabu (1/8).

Dia menuturkan, pinjaman tersebut berasal sindikasi 5-6 bank asing yang dipimpin oleh Citibank. Jangka pinjaman tersebut antara 5-6 tahun. Saat ini pinjaman perseroan mencapai sekitar US$422 juta. Pinjaman tersebut didominasi oleh pinjaman jangka panjang. Pihaknya telah membayar pinjaman sekitar US$35 juta pada semester pertama 2012. Pinjaman tersebut akan digunakan untuk modal kerja pada 2012.

Selain itu, perseroan akan mendatangkan 20 pesawat pada 2012 dan hingga kini perseroan telah mendatangkan 10 pesawat. Nantinya hingga tahun 2012, perseroan akan memiliki total 105 pesawat. Perseroan juga telah merealisasikan belanja modal hingga semester pertama 2012 sebesar US$ 241 juta. Sebagian besar belanja modal tersebut telah digunakan untuk pengadaan pesawat.

Maka seiring dengan bertambahnya armada pesawat, Garuda optimis dapat mencatatkan pertumbuhan kinerja sebesar 20% pada 2012. Dimana pertumbuhan kinerja ini akan didorong anak usahanya Citilink.

Targetkan Tumbuh 21%

Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar mengatakan, akhir tahun ini diprediksikan pertumbuhan sekitar 20%-21% dan termasuk capacity growth, “Target ini akan diandalkan dari anak usaha Citilink, karena sebagai maskapai penerbangan low cost carrier akan diperbesar. Selain itu, strategi Garuda tetap full service dan middle up market,”ungkapnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia meski dikoreksi menjadi 6,5% pada 2012 namun tetap menunjukkan pertumbuhan ekonomi cukup baik. Hal itu juga berdampak terhadap bisnis penerbangan. Jumlah penumpang dan industri penerbangan diprediksikan tumbuh baik pada 2012.

Sementara itu, Direktur Utama Citilink, M. Arif Wibowo menuturkan, pihaknya menargetkan jumlah penumpang Citilink sebesar 4 juta penumpang pada 2012. Hingga kini passanger capacity telah mencapai 1,184 juta penumpang.

Selain itu, saat ini perseroan telah memiliki 15 pesawat dari 8 pesawat pada 2011. Pendapatan perseroan pun diprediksikan telah mendekati Rp1 triliun hingga kini. PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) selama semester pertama 2012 mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 18% YoY.

Kendati mengalami kemajuan, namun bottom line masih tercatat rugi sebesar US$2 juta. Pendapatan perseroan naik 18% menjadi US$1,51 miliar dari semester pertama 2011 sebesar US$1,28 miliar.

Laba usaha perseroan mencapai US$10,79 juta pada paruh pertama 2012 yoy dari rugi sebesar US$34,75 juta. Sedangkan rugi periode berjalan menjadi US$2,02 juta hingga semester pertama 2012 dari semester pertama 2011 sebesar US$22,33 juta. Kendati laba usaha positif, biaya pajak yang lebih besar menggerus kinerja perseroan menjadi rugi bersih.

Bersaing Ketat

Kata Emirsyah, PT Garuda Indonesia Tbk, melalui anak usahanya Citilink mengaku tidak khawatir dengan adanya penerbangan low cost carrier (LCC) seperti AirAsia yang masuk ke Indonesia."Citilink adalah penerbangan LCC yang akan menjadi besar dan menjadi pendukung kinerja Garuda ke depan. Kita akan lihat konsolidasi yang terjadi dan yang bertahan memiliki economic of scale,"ungkapnya.

Dia juga optimistis jika Citilink mampu menarik perhatian. Hal tersebut terbukti jika Citilink cukup dikenal oleh kaum muda. Karena itu, pihaknya tidak khawatir dengan persaingan yang ada saat ini. Pasalnya, jika melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia, diprediksi akan terus tumbuh.

Meskipun ada revisi, menurutnya tidak akan terlalu besar."Kita lihat Indonesia perekonomiannya akan tumbuh terus. Karena pertumbuhan penumpang juga melihat pertumbuhan ekonomi," tuturnya. (bani)

BERITA TERKAIT

Produk Otomotif China Tambah Pilihan Bagi Konsumen

Dua industri otomotif asal Tiongkok yakni PT SGMW Motor Indonesia (Wuling Motors) dan PT Sokonindo Automobile tahun ini resmi memasuki…

PT Inalum Investasikan Dana US$ 60 Juta - Kembangkan Pelabuhan

NERACA Kuala Tanjung – Perusahaan holding BUMN Tambang, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) Persero siap mengembangkan pelabuhan di Kuala Tanjung…

UNIC Siapkan Capex US$ 2 Juta di 2018 - Ganti Mesin Baru

NERACA Jakarta – Tahun depan, PT Unggul Indah Cahaya Tbk (UNIC) menganggarkan belanja modal atau capital expenditure (capex) berkisar US$…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

BEI Buka Kantor Perwakilan di Mataram

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) membuka kantor perwakilan di Mataram, Nusa Tenggara Barat untuk memudahkan penyebarluasan informasi dan edukasi mengenai…

Bank Jateng Terbitkan MTN Rp 1 Triliun

Perkuat likuiditas guna mendanai ekspansi bisnis di tahun depan, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah alias Bank Jateng menerbitkan surat…

LPKR Bidik Dana Rights Issue Rp 600 Miliar

Butuh modal untuk mendanai ekspansi bisnis di 2018, PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) berencana menerbitkan saham baru (rights issue) pada…