Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Diprediksi Turun 0,1%

NERACA

Jakarta-- Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II diprediksi akan turun sekitar 0,1 % dari 6,3 % pada kuartal I menjadi 6,2 %. Masalahnya beberapa bulan ini mengalami deficit. “Adanya defisit dalam dua bulan terakhir yang dapat menimbulkan dinamika ekonomi karena tren impor yang cenderung jauh menguat dibanding ekspor," kata Pengamat ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Latif Adam di Jakarta, Rabu.

Latif menjelaskan tidak ada elemen ekonomi yang dapat menetralisasi penurunan ekspor, termasuk APBN. "Realisasi APBN untuk tahun ini cenderung lambat dibanding tahun lalu," tegasnya.

Dikatakan Latif, investasi cenderung meredam pada kuartal II meski statistik menunjukkan adanya peningkatan. "Investasi pada sektor industri baru memasuki tahap perizinan belum mencapai realisasinya dan proses membutuhkan waktu yang cukup lama," terangnya

Dia menjelaskan pemerintah masih mengandalkan produk impor, terutama untuk bahan baku dan barang modal. Masalahnya Indonesia masih belum mampu memproduksi barang modal seperti mesin produksi.

Namun, dirinya optimistis bahan baku dapat diproduksi dalam negeri, seperti kedelai. "Pemerintah seharusnya bisa mengoptimalkan produksi dalam negeri untuk mengutupi defisit sehingga pertumbuhan ekonomi dapat meningkat," ujarnya

Menurut Latif, perkiraan penurunan pertumbuhan ekonomi patut diwaspadai meski laju pertumbuhan Indonesia masih dinilai lebih baik dibanding beberapa negara akibat krisis Eropa. "Hal tersebut bertujuan agar Indonesia bisa sejajar dengan negara-negara pesaing yang saat ini menunjukkan laju pertumbuhan positif, seperti India, Malaysia, Singapura dan China," ucapnya

Bahkan Latif memperkirakan konsumsi rumah tangga masih menyumbang kontribusi terbesar dari sisi pengeluaran, yakni sekitar 52 %. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pertumbuhan ekonomi pada kuartal I, konsumsi rumah tangga menempati urutan pertama dari sisi pengeluaran yakni 55 % sedangkan konsumsi pemerintah menyumbang 7 %, Pembentukan Modal Tetap Bruto 31,8 %, ekspor 24,8 %, dan impor 24,8 % dari total PDB.

Ditempat terpisah, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suryamin mengumumkan neraca perdagangan komoditas nonmigas Indonesia dengan negara anggota ASEAN selama semester pertama 2012 tercatat mengalami defisit sebesar 727 juta dolar AS. "Nilai ekspor nonmigas Indonesia ke ASEAN pada semester pertama tercatat sebesar 15,46 miliar dolar AS sementara impornya mencapai 16,18 miliar dolar AS, jadi neraca perdagangan kita dengan ASEAN defisit," ungkapnya

Suryamin menjelaskan, berdasarkan neraca perdagangan nonmigas sebelumnya, maka selama semester pertama 2012 ekspor Indonesia ke Perhimpunan Bangsa Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) itu mengalami penurunan sekitar 7,5 % dari 16,71 miliar dolar pada periode sama tahun lalu, sementara impor justru mengalami peningkatan 11,34 % dari sebesar 14,54 miliar dolar. "ASEAN tercatat sebagai tujuan ekspor Indonesia dengan pangsa pasar 20,12 % dari keseluruhan total ekspor nonmigas, sementara untuk impor negara-negara ASEAN menguasai 21,59 % pangsa pasar domestik," tukasnya

Tiga negara mitra perdagangan utama Indonesia di ASEAN yang menjadi negara asal impor terbesar adalah Singapura (5,45 miliar dolar), Thailand (5,76 miliar dolar), dan Malaysia (3,19 miliar dolar), sementara negara ASEAN lainnya tercatat mengekspor komoditas nonmigas ke Indonesia dengan nilai 1,78 miliar dolar.

Untuk ekspor nonmigas, ketiga negara tersebut masih menjadi tujuan utama ekspor Indonesia di ASEAN dengan rincian yaitu Singapura sebesar 5,05 miliar dolar, Malaysia 4,47 miliar dolar, dan Thailand 2,69 miliar dolar. **bari/novi

BERITA TERKAIT

Laba Bayu Buaya Tumbuh 17% di 2017 - Berkah Pertumbuhan Pariwisata

NERACA Jakarta – Melesatnya pertumbuhan industri pariwisata di dalam negeri sepanjang 2017 kemarin,  memberikan dampak positif terhadap kinerja PT Bayu…

Ekonomi Digital Wujudkan Kemandirian Perekonomian Nasional

Oleh: Muhammad Razi Rahman Tahukah Anda istilah "Third Wave Economy" (Ekonomi Gelombang Ketiga)? Menurut futurolog AS, Alvin Toffler, dalam "Third…

CEPA Jangan Batasi Kebijakan Pemerintah Kelola Ekonomi

    NERACA   Jakarta - Perjanjian Kemitraan Komprehensif yang sedang dibahas antara Republik Indonesia dan Uni Eropa, yang kerap…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Utang Luar Negeri Indonesia Naik 10,1%

      NERACA   Jakarta - Jumlah utang luar negeri Indonesia di akhir 2017 meningkat 10,1 persen (tahun ke…

Muliaman Hadad Ditunjuk jadi Dubes RI untuk Swiss

    NERACA   Jakarta-Mantan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman Darmansyah Hadad resmi ditunjuk menjadi Duta Besar…

Tiga Tahun Jokowi Diklaim Berhasil Turunkan Inflasi

      NERACA   Padang - Pejabat Kantor Staf Presiden (KSP) memaparkan dalam tiga tahun perjalanan pemerintahan Presiden Jokowi…