Bank Asing Dibatasi Suku Bunga Bisa Mahal

NERACA

Jakarta – Bank Indonesia mengungkapkan takkan mempermudah perizinan bank asing beroperasi di Indonesia. Alasanya sesuai aturan PBI asing boleh menguasai saham lebih dari 40% asal memenuhi ketentuan. “Jadi asing masuk ke Indonesia tidak semudah itu, ada syarat-syarat yang harus mereka penuhi,” kata Kepala Grup Humas Bank Indonesia, Difi A Johansyah kepada Neraca,1/8

Menurut Difi, keberadaan bank asing di Indonesia tentu untuk jangka panjang. Karena itu harus ada komitmen yang jelas terhadap perekonomian negara. “Mereka masuk ke sini pasti untuk long term, bukannya masuk terus kabur (dengan membawa uang dari nasabah kita). BI meminta komitmen dan rencana bank-bank asing terhadap perekonomian nasional, jadi (masuk ke sini) bukan hanya dagang,” tuturnya.

Dikatakan Difi, salah satu fungsi bank adalah sebagai lembaga perantara penyaluran kredit. “Kalau sebagian besar pendapatan perusahaan hanya untuk membayar bunga maka perusahaan itu tak akan menjadi besar. Cost structure mereka habis untuk membayar bunga dari bank-bank lokal. Pengusaha lokal “menjerit” karena ini,” ujarnya.

Diakui Difi, sebenarnya LDR bank-bank besar di Indonesia itu kecil. Karena hanya mengandalkan kredit. Kemudian bunganya tinggi, sehingga tidak efisien. “Bunga sudah diminta diturunkan. Namun bank tidak melakukannya. Ini susah mengawasinya. Yang bisa menembus adalah bank-bank asing karena yang bisa menawarkan suku bunga murah. Nah, kalau (bank-bank) asing dibatasi, maka nasabah kita akan dihadapkan pada suku bunga yang mahal,” ujarnya

Menurut Difi, bank-bank besar seperti BCA dan Bank Mandiri sebenarnya bisa menawarkan suku bunga murah tapi tidak melakukannya. “Sebenarnya akhir-akhir ini tren suku bunga menurun karena digeret oleh bank-bank besar. Di Singapura dan Malaysia saja suku bunga bisa 1%, maksimal paling 4%. Salah satunya infrastruktur kita susah maju gara-gara ini (suku bunga kredit yang tinggi). Kita bisa kasih suku bunga murah, tapi di lapangan ada permainan,” paparnya.

Lebih lanjut kata Difi, Indonesia memang membutuhkan kehadiran bank-bank asing. “Kita butuh kehadiran bank-bank asing untuk trade financing ekspor impor. Ini butuh keahlian tersendiri dan butuh pengetahuan soal jaringannya,” tukasnya.

Karena itu, katanya lagi, perbankan asing jangan dibatasi. Sebab bisa menimbulkan dampak negative bagi perdagangan. “Kalau bank-bank asing dibatasi dan dilarang, maka pengusaha kita akan lari ke Singapura. Misalnya pelayanan ekspor impor dari Bank Mandiri masih begitu-begitu saja, yang agak bagus cuma BNI,” jelasnya.

Hanya saja, kata Difi, bank-bank yang boleh diambil asing adalah bank-bank yang sekarat (atau dalam arti GCG-nya di bawah 2). “ Waktu ini (rencana akuisisi DBS) pertama kali muncul, kita tidak masalah. Kita suka kalau Danamon diakuisisi DBS, karena itu bank juga, daripada Temasek yang bukan bank. Karena akan lebih mudah mengawasinya. Kita bisa berkoordinasi dengan pihak (bank sentral) Singapura,” pungkasnya. **ria

BERITA TERKAIT

Dandim 0607/Kota Sukabumi Coffee Morning Bersama Pimpinan Bank

Dandim 0607/Kota Sukabumi Coffee Morning Bersama Pimpinan Bank NERACA Sukabumi - Komandan Distrik Militer (Dandim) 0607/Kota Sukabumi Letkol Mahfud As'ad,…

Auditor BPKP Tentang Aliran Kas APBD Kota Depok - Transfer Non Tunai Tidak Harus Lewat Bank BJB

Auditor BPKP Tentang Aliran Kas APBD Kota Depok Transfer Non Tunai Tidak Harus Lewat Bank BJB NERACA Depok - ‎Adanya…

Bank Ganesha Raih Laba Rp51,1 miliar

    NERACA   Jakarta - PT Bank Ganesha Tbk meraup laba bersih setelah pajak (audited) sebesar Rp51,1 miliar sepanjang…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Suku Bunga Acuan Diprediksi Naik Kuartal IV

      NERACA   Jakarta - Chief Economist PT Bank UOB Indonesia Enrico Tanuwidjaja memprediksi suku bunga acuan atau…

AAJI Dorong Asuransi Manfaatkan Aplikasi Digital

      NERACA   Bali - Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mendorong anggotanya untuk mengoptimalkan pemanfaatan aplikasi teknologi digital…

Bank Mandiri Bidik Pertumbuhan KPR 15%

    NERACA   Jakarta - PT Bank Mandiri Persero Tbk membidik pertumbuhan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dapat mencapai 15…