Laba Bank Melejit, Efisiensi Kedodoran

Di tengah kinclongnya kinerja perbankan yang mampu meningkatkan laba 19,8% dari Rp 75,45 triliun (Juli 2010) menjadi Rp 90,4 triliun pada Juli 2011, kalangan perbankan masih didera biaya operasional yang belum efisien. Apalagi prestasi perolehan laba tersebut umumnya berasal dari pendapatan fee based income yang menjadi incaran banyak bank di negeri ini.

Berdasarkan data laporan keuangan per semester I/2012, terungkap rata-rata bank papan atas mengumumkan kenaikan laba bersih fantantis. Bank Mandiri menggaet laba Rp 7,1 triliun, BCA meraih Rp 5,29 triliun, BNI meraup keuntungan Rp 3,29 triliun dan BRI menggondol Rp 8,8 triliun. Total laba keempat bank terbesar itu sekitar Rp 24,5 triliun.

Pencapaian keempat bank ini meninggalkan jauh para pesaing mereka. Kompetitor terdekat, Bank Danamon dan Bank CIMB Niaga, hanya meraup laba di Rp 1,9 triliun - Rp 2 triliun. Sedangkan BII dan Bank Permata, yang sama-sama memiliki aset di atas Rp 100 triliun, hanya memperoleh laba di bawah Rp 1 triliun pada pertengahan tahun ini.

Penyaluran kredit BCA melonjak 41,5% menjadi Rp 226 triliun sedangkan kredit Mandiri tumbuh 26,6% menjadi Rp 350 triliun. BNI dan BRI hanya mencatatkan kenaikan kredit 17,4% dan 14%, jauh di bawah rata-rata pertumbuhan industri per Juni 2012 sebesar 28%.

Penopang kredit BCA tertolong oleh lonjakan kredit konsumer, terutama kredit pemilikan rumah (KPR). Promo bunga KPR rendah selama lima tahun pertama terbukti efektif mengerek tingkat permintaan konsumen. Ini terlihat dari angka kredit konsumer BCA tumbuh di atas 50% atau menjadi Rp 60 triliun. KPR berkontribusi Rp 36,5 triliun atau sekitar 60% dari total kredit konsumer. Kredit kendaraan dan kartu kredit masing-masing menyumbang Rp 18 triliun dan Rp 5 triliun.

Berbeda dengan BNI dan BCA, Bank Mandiri bertumpu pada kredit mikro dan UMKM. Kredit mikro tumbuh 77,2% menjadi Rp 15,1 triliun dan sektor kredit usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) tumbuh 33,6% menjadi Rp 47,6 triliun. Tentu porsi kredit segmen ini terlihat kecil dibandingkan total kredit yang mencapai Rp 350 triliun.

Di sisi lain, tingkat efisiensi perbankan nasional hingga kini masih kedodoran. Fakta menunjukkan rasio biaya operasional dibandingkan pendapatan operasional (BOPO) hingga semester I/2012 menunjukkan kisaran 80%-90%. Padahal menurut Bank Indonesia (BI), target BOPO yang ideal adalah sekitar 60%-70%.

"Tapi memang susah untuk capai target itu. BI perlu melihat kemampuan bank tahun ini dan apakah bisa mencapai target 80% an,” ujar Deputi Gubernur BI Halim Alamsyah di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Secara umum, pertumbuhan laba bank-bank ditopang kenaikan pendapatan bunga bersih, pendapatan nonbunga, efisiensi dan penurunan jumlah kredit bermasalah (NPL). Juga adanya perbaikan kualitas kredit mengurangi biaya pencadangan, sehingga laba meningkat.

Walau demikian, jika dibandingkan negara-negara di kawasan ASEAN, BOPO Indonesia masih terbilang tinggi, mengingat rata-rata efisiensi rasio tersebut di ASEAN berkisar 40%-60%. Tantangan ini harus menjadi kenyataan bagi perbankan nasional bila mau unggul dalam daya saing di pasar regional.

Karena itu, BI harus terus menerus mendorong bank nasional untuk lebih fokus pada peningkatan efisiensi biaya operasional. Antara lain perlunya keseragaman diantara bank-bank untuk tidak lagi jor-joran memberikan iming-iming hadiah dalam perebutan pangsa pasar dana masyarakat. Sehingga dapat tercipta suasana persaingan yang sehat antarbank di negeri ini.

BERITA TERKAIT

Muamalat Raih 3 Penghargaan Sebagai Bank Swasta Publik Terbaik

      NERACA   Jakarta - PT Bank Muamalat Indonesia Tbk meraih penghargaan dalam ajang Anugerah Perusahaan TBK Indonesia-V-2018.…

MUFG Bank Dinobatkan sebagai Best Internasional Bank

      NERACA   Jakarta - Entitas perbankan utama MUFG, MUFG Bank, Ltd. hari ini mengumumkan bahwa kantor cabangnya…

Bank Sumut Salurkan KUR Rp490 Miliar

    NERACA   Medan - Bank Sumut sudah menyalurkan dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Ro490 miliar dari target…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

Disharmoni Petinggi Negara

Belum lama ini ada perdebatan cukup keras yang mencuat ke publik, soal perlu tidaknya impor beras antara Menteri Perdagangan Enggartiasto…

Jerat Korupsi PLN

Ketika Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Eni Maulani Saragih bersaksi di KPK, terungkap bahwa Dirut PT Perusahaan Listrik Negara…

Pertumbuhan vs Stabilitas

Persoalan target pertumbuhan ekonomi dan menjaga stabilitas mata rupiah selalu menjadi pembahasan banyak pihak. Pasalnya, untuk menjaga stabilitas rupiah, BI…