Kadin Minta Daerah Diberi Izin Impor - Penuhi Kebutuhan Gula

NERACA

Jakarta - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia minta kepada pemerintah agar provinsi dan kabupaten yang sulit dijangkau distribusi gula dari Jawa produksi PT Perkebunan Nasional (PTPN) atau swasta agar bisa diberikan kesempatan mengimpor sendiri untuk memenuhi daerahnya seperti Kalimantan Barat, Sumatera Utara, Aceh, dan Riau.

“Kebijakan Menteri Perdagangan sudah tepat untuk memenuhi daerah yang sulit mendapat distribusi gula dari Jawa, daripada menyelundup gula untuk memenuhi kebutuhan gula di daerah tersebut dan tidak bayar pajak, lebih baik dilegalkan agar bayar pajak,” ujar Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perdagangan, Distribusi dan Logistik Natsir Mansyur melalui keterangan tertulis yang diterima Neraca, Rabu (1/8).

Menurut dia, perlu dipahami bahwa produksi gula hanya 2.1 juta ton per tahun jauh dari target produksi yang diharapkan bisa mencapai 3 juta ton per tahun. Kalau produksi hanya 2.1 juta ton per tahun, maka hanya dapat memenuhi konsumen gula di pulau Jawa dengan perhitungan komsumsi gula kristal putih (GKP) 12 kg per kapita setiap tahun, jadi kalo produksi gula kristal putih (GKP) hanya 2,1 ton per tahun, dibagi 200 juta penduduk indonesia yang mengkonsumsi gula komsumsi maka konsumen yang dapat distribusi gula hanya 60% dari 200 juta konsumen gula komsumsi.

“Berarti gula konsumsi produksi PTPN dan swasta hanya mampu memenuhi konsumen gula konsumsi di Jawa, pertanyaannya bagaimana konsumen gula konsumsi diluar jawa yang sebesar 40%, siapa bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan gula di daerah yang tidak mendapat distribusi gula dari Jawa,” kata Natsir.

Dia mengatakan, sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) seharusnya rakyat bisa mendapat perlakuan yang sama agar mendapat distribusi gula yang sama, harga tidak tinggi, mudah dan terjangkau. Oleh karenanya, pemangku kepentingan pergulaan perlu dipahami dan egoisme sektoral perlu dikesampingkan.

“Dari angka yang ada kenyataannya jelas permintaan besar, tapi produksi kecil. Jadi Kadin minta kepada pemerintah agar daerah yang tidak mendapat distribusi gula bisa diberikan kebijakan khusus, dalam rangka menjaga NKRI, dengan catatan perlu tetap diawasi, mulai dari pengadaan sampai siapa yang mengkonsumsi gula tersebut,” ujar Natsir.

Dongkrak Produksi

Menurut Natsir, walaupun berbagai upaya dilakukan untuk mendongkrak produksi gula konsumsi mulai dari program revitalisasi mesin pabrik gula yang sudah tua hingga perbaikan kebun tebu, namun masih jauh dari harapan untuk memenuhi kebutuhan gula konsumsi untuk konsumen Indonesia mulai dari sabang sampai merauke.

“Jadi wajarlah propinsi di luar Jawa tidak mendapat distribusi gula PTPN, sehingga selalu menimbulkan masalah harga yang tinggi, distribusi yang tidak merata dsb. Namun mau sampai kapan kondisi ini terus berulang?,” ungkapnya.

Karena permasalahan gula yang masih kusut, Kadin meminta Pemerintah bersama dunia usaha membuat roadmap manajemen pergulaan produksi, distribusi, perdagangan agar cepat dibuat. Sementara mengenai dualisme gula di Indonesia yaitu gula kristal putih untuk komsumsi dan gula kristal rafinasi untuk kebutuham industri makanan/minuman masih diperlukan hingga 5 tahun ke depan untuk melindungi petani. “Untuk Kawasan Timur dan Kalimantan, Kemenprin dan BKPM perlu membuka izin baru industri gula rafinasi agar dapat mendorong industri makanan dan minuman,” pungkas Natsir.

BERITA TERKAIT

Penuhi Modal, SNP Finance Rencanakan IPO

Perusahaan pembiayaan PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP Finance) berencana mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI), melalui mekanisme Initial Public…

Skema KPBU Perlu Dukungan Kepala Daerah

      NERACA   Lampung - Pemerintah tengah fokus dalam mempercepat pembangunan infrastruktur di berbagai daerah. Namun yang jadi…

Impor, Kenapa Takut?

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri   Jangan marah dulu dengan judul tulisan ini. Atau jangan buru-buru emosi…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Sepanjang Januari 2018 - Panen Belum Merata, Harga Gabah Kering dan Beras Tercatat Naik

NERACA Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya kenaikan harga gabah kering panen dan gabah kering giling selama Januari…

KLHK Optimistis Ekspor Produk Kayu 2018 Meningkat

NERACA Jakarta – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan optimistis ekspor produk kayu nasional pada 2018 akan meningkat dibandingkan…

Niaga Bilateral - Pakistan-Indonesia Realisasikan Kerjasama Impor Jeruk

NERACA Jakarta – Pakistan dan Indonesia merealisasikan kerja sama impor jeruk jenis kino sebanyak 1.500 kontainer atau 30.000 ton pada…