Minat Investasi Emas Meningkat - Menjelang Lebaran

Menyambut kemenangan selama satu bulan berpuasa dan menyambut fitri yang suci, banyak orang melakukan apa saja mulai dari membeli pakaian baru sampai belanja barang yang belum tentu dibutuhkan. Namun berbeda dengan membeli emas bukan hanya bisa dipakai sebagai perhiasan tetapi bisa untuk investasi ke depannya.

NERACA

Menjelang hari raya Idul Fitri minat masyarakat terhadap emas meningkat, ini dikarenakan banyak masyarakat yang membeli emas bukan hanya untuk investasi tetapi digunakan sebagai aksesoris pada hari raya Idul Fitri.

Sepanjang bulan Ramadan setiap tahunnya ada peningkatan pembelian emas di masyarakat. Ini bisa dilihat dari sepanjang bulan Ramadan penjualan di toko emas mengalami peningkatan sebesar 30% dibandingkan dengan hari biasa karena banyak warga yang membeli emas.

Menurut Direktur Bursa Berjangka Jakarta Roy Sembel adanya peningkatan pembelian oleh masyarakat ini salah satunya disinyalir karena mulai dekatnya bulan Ramadhan. Emas salah satu kelengkapan yang seolah harus dimiliki baik untuk dikenakan maupun sebagai barang investasi.

Emas terutama perhiasan bisa dipakai sebagai kebanggaan selama Ramadan. Tapi juga bisa dijual kembali ketika suatu saat membutuhkan dana, misalnya untuk Lebaran. Apalagi, harga emas sekarang relatif stabil mulai dari Rp 402.500/gram.

Sedangkan, pada musim liburan lalu dilanjut pendaftaran sekolah baru biasanya bisnis emas mengalami penurunan. Terutama, aksi pembelian oleh masyarakat karena dana diprioritaskan untuk biaya sekolah.

Menjelang idul idul fitri harga emas sudah mencapai kelonjakan harga, untuk emas perhiasan dengan kualitas 24 karat dibandrol Rp 450 ribu. Sementara itu, untuk emas 23 karat sudah mencapai Rp 375 ribu dan emas 22 karat dibandrol Rp 275 ribu.

“Harga emas di awal Ramadan ini cenderung stabil. Hanya ada kenaikan Rp 1.000 per gramnya untuk minggu ini," terang Putra, Manajer Toko Emas Intan Lestari, di Tanjung duren, Jakarta.

Menurut dia, stabilnya harga emas karena kebutuhan dan permintaan warga akan perhiasan emas belum meningkat. "Biasanya dua minggu sebelum Lebaran pemintaan akan meningkat. Harga emas pun akan ikut naik,"jelasnya

Prediksi tersebut dikarenakan masyarakat membeli emas untuk dipakai saat Lebaran atau bersilaturahmi ke tempat sanak saudara. Usai Lebaran, warga justru ramai-ramai menjual kembali. Hal tersebut sudah menjadi tren di masyarakat.

Kenaikan harga emas menjelang Idul Fitri nanti sudah biasa, sebab kebutuhan dan permintaan warga akan perhiasan emas memang meningkat dari hari biasanya.

"Idul Fitri tahun lalu harga emas bisa naik Rp 10 ribu per gramnya,"imbuhnya.

“Harga perhiasan emas ini selain dipengaruhi harga dollar Amerika, juga dikarenakan kebutuhan konsumen akan perhiasan menjelang hari raya. Lebih baik membeli sekarang dari pada, harga mas naik," tutupnya.

"Namun, sepertinya untuk tahun ini tidak terlihat ada penurunan penjualan. Justru, mengalami peningkatan meski dari aksi penjualan oleh masyarakat juga ada sedikit peningkatan," ujarnya.

Ia menuturkan, sekarang mulai banyak masyarakat berburu emas untuk investasi baik emas perhiasan, batangan, emas putih, maupun berlian. Harga emas yang cenderung naik meski sesekali turun menjadi daya tarik investasi dengan harapan meraih keuntungan berlipat.

Pada 2012 ini emas diperkirakan bakal naik cukup drastis. Hal yang sangat wajar mengingat ketidakmenentuan iklim ekonomi membuat banyak orang berfikir untuk berinvestasi dalam bentuk emas.

Dalam bisnis emas ini, semakin tinggi permintaan biasanya akan diikuti dengan semakin tinggi pula harganya. Contoh yang sudah-sudah bisa kita lihat ketika hari-hari menjelang Lebaran / Idul Fitri di mana permintaan terhadap perhiasan emas melonjak.

Pada saat-saat seperti itu harga emas cenderung naik. Hal itu pula yang kemungkinan besar terjadi ketika perekonomian dunia memburuk dan banyak orang yang mengincar emas untuk berinvestasi. Alhasil potensi kenaikan harga emas sangat tinggi karena semakin banyak orang yang menginginkannya.

Mengalami Peningkatan

PT Bursa Berjangka Jakarta (Jakarta Futures Exchange) melaporkan bahwa volume transaksi multilateral pada Mei 2012 mengalami kenaikkan sebesar 17.648 lot atau 3,8%. Kenaikkan ini dipicu oleh meningkatnya transaksi kontrak emas dengan total lonjakan sebanyak 22% menjadi 11.305 lot, dari April 2012 yang hanya 9.264 lot.

Menurut Roy, kontrak berjangka emas yang diperdagangkan terdiri dari enam jenis seperti kontrak emas satu kilogram (GOL), kontrak emas 250 gram (GOL 250), kontrak gulir emas (rupiah dan dolar AS), kontrak indeks emas (KIE), kontrak gulir emas dolar AS (GU1H10) serta kontrak gulir mini emas dolar AS (GU1TF).

“Sepertinya emas mulai diminati kembali sama investor sebagai sarana berinvestasi. Apalagi, dari keenam jenis kontrak emas ini, kontrak gulir dolar dan kontrak gulir mini emas naik cukup tinggi, masing-masing sebesar 420 kali dan 80 kali dari April 2012,” tuturnya.

Harga penyelesaian atau settlement price kontrak gulir emas (KGE) di Bursa Berjangka Jakarta menurun pada penutupan 31 Mei 2012, yaitu sebesar Rp473,717 per gram jika dibandingkan dengan settlement price pada 30 April 2012 yang senilai Rp491.842 per gram.

Kendati demikian, guru besar FE Universitas Kristen Indonesia ini meyakini bahwa harga emas akan kembali bergerak naik atau bullish dalam beberapa bulan ke depan. Sehingga Bursa Berjangka Jakarta terus meningkatkan volume transaksi multilateral.

Dia juga optimis bahwa target transaksi multilateral hingga akhir 2012 akan menembus angka lima persen dari keseluruhan volume transaksi.

Varian baru “Salah satu langkah meningkat multilateral adalah menciptakan kontrak baru yang diminati pasar, yakni varian baru kontrak berjangka emas. Itu akan kita keluarkan dalam waktu dekat. Yang disasar nasabah ritel (individu) yang memiliki potensi besar dalam bertransaksi multilateral karena selama ini pasar itu belum digarap,” tegas Roy.

Selain itu, lanjut dia, peningkatan volume transaksi tinggi juga terjadi pada transaksi bilateral. Total volume transaksi bilateral Mei 2012 mencapai 666.305 lot, naik 18,5% dari April 2012 yang hanya 562,507 lot. Hal ini diklaim Roy sebagai transaksi bilateral tertinggi sepanjang lima bulan pertama tahun ini.

“Dengan terbitnya UU PBK No.10/2011 yang baru, di mana produk bilateral telah diakui secara sah keberadaannya, tentu kami tidak akan mengabaikan kontrak bilateral tersebut. Jadi ke depan, kami akan mengembangkan produk bilateral sesuai keinginan pasar,” tambahnya.

BERITA TERKAIT

Produktivitas Tenaga Kerja Diklaim Meningkat

  NERACA   Jakarta - Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri mengatakan produktivitas tenaga kerja nasional terus mengalami peningkatan dan pada…

Investasi Tempat Persemaian Bagi Pertumbuhan Ekonomi

Pemerhati Ekonomi dan Industri, Fauzi Aziz   Ekonomi suatu bangsa akan tumbuh bilamana kegiatan investasinya juga tumbuh. Pembentukan investasi yang…

Sequis Life Ingatkan Pentingnya Investasi Sejak Dini - Gelar Edukasi Keuangan Milenial

NERACA Jakarta - Sequis, perusahaan asuransi yang mendukung literasi keuangan terutama bagi generasi muda, belum lama ini menyelenggarakan Sequis Talk untuk…

BERITA LAINNYA DI KEUANGAN

Mengajari Anak Menabung, Berbelanja, dan Berbagi

Oleh: Yulius Ardi Head, Managed Investment Product Standard Chartered Bank   Akhir musim sekolah telah diambang pintu dan anak-anak akan…

Sukuk Bisa Sebagai Alternatif Pembiayaan Daerah

Direktur Pembiayaan Syariah Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Suminto mengatakan penerbitan obligasi berbasis syariah atau sukuk bisa…

Keuangan Syariah: - Akan Stagnan Atau Butuh Terobosan

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Muliaman Hadad meminta inovasi dan terobosan pelaku industri untuk mengembangkan keuangan syariah, karena tanpa…