Penderita ADHD Dengan Kocek Rp 35,7 Trilyun - Founder dan CEO Virgin Companies Group : Richard Branson

NERACA

Miniti tangga kesuksesan memang berpangkal dari kerjakeras dan semangat pantang menyerah, inilah yang dibuktikan Sir Richard Branson, entrepreneur asal Inggris yang mampu mengkontruksikan kejayaan pelbagai bisnisnya melalui Virgin Group dan meraup omset hingga Rp 35,7 triyun.

Dalam biografinya berjudul, Losing My Virginity yang diterbitkan Tahun 1998, Branson bahkan mengaku tidak bisa membaca dan berdiam diri, ia harus banyak belajar dan mendengar. Kepandaiannya memancing orang bercerita membuat dirinya baru dapat memahami sesuatu. Yup Branson memang penderita ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) atau disleksia, sebuah kelainan dalam otak manusia.

Disleksia adalah penyakit yang menyebabkan penderita sulit membaca, nilai pun selalu buruk. Karena itu mereka tak berprestasi di sekolah. Dan uniknya, 1 dari 3 pengusaha di Amerika Serikat adalah penderita disleksia. Wow.

Tengok saja Albert Einstein, Thomas Alva Edison (General Electric), Ted Turner (CNN), John D. Rockefeller (Standard Oil), Bill Gates (Microsoft), Henry Ford, Malcolm Forbes, atau William Randolph Hearst, adalah pengusaha yang juga penderita ADHD. Mereka tak sukses dibangku pendidikan, karena mereka tidak dapat belajar dengan cara yang diterapkan di sekolah biasa alhasil umumnya mereka drop out dari sekolah.

Seperti halnya Branson, yang tidak dapat belajar dengan duduk manis seharian. Ia terus bergerak dan bereksperimen. Penderita ADHD dapat menjadi super fokus jika menemukan sebuah kegiatan yang mereka sangat sukai, bahkan terbilang rajin dan bersemangat mengerjakan eksperimen atau kegiatan outdoor yang menarik bagi mereka.

Di usia 16 tahun, pria dengan nama lengkap, Sir Richard Charles Nicholas Branson ini sudah bereksperimen dengan menerbitkan sebuah majalah bernama Student, lalu berkembang menjadi bisnis audio record mail-order pada tahun 1970.

Sambutan yang hangat dari sejumlah rekan dan koleganya, ia pun membuka ritel toko kaset, Virgin Records tahun 1972, yang kemudian menjadi Virgin Megastores. Disinilah artis pertama perusahaan berlabel Virgin Music menelurkan Mike Oldfield dan merekam Tubular Bells.

Album pun meledak hingga terjual 5 juta kopi. Sejak itu, banyak nama populer, termasuk Belinda Carlisle, Genesis, Phil Collins, Janet Jackson, dan The Rolling Stones mendongkrak kepopuleran Virgin Music sebagai salah satu di antara enam perusahaan rekaman terbesar dunia.

Sayap ekspansi bisnis Branson melalui Virgin Music mulai mengembang dan mengepak hingga pelbagai sektor usaha. Mulai dari megastore musik internasional, maskapai penerbangan (Virgin Atlantic Airways dan Air Asia), hingga bisnis dalam bidang seluler, otomotif, keuangan, eceran, internet, stasiun radio, buku, minuman, kereta api, hotel, dan tempat pelancongan, lebih dari 400 perusahaan berkibar di 30 negara, semua berada dibawah bendera Virgin Corp.

Ketika Virgin Group memulai bisnis pertamanya, kata Branson, kami selalu menyewa orang pintar yang sudah tahu akan seluk beluk industri penerbangan beserta resiko yang ada di dalamnya.

“Seorang entrepreneur,” jelas Branson, harus tahu kapan untuk meninggalkan posisinya sebagai pucuk pimpinan atau CEO dan menyerahkannya kepada manager yang tidak kalah hebatnya. “TIdak mudah memang, tapi hal ini harus dilakukan untuk membangun sebuah group korporasi yang lebih besar lagi,” ujarnya.

“Bangunlah manajemen yang mantap dan dapat bekerja secara profesional tanpa campur tangan Anda lagi. Sebagai pemilik bisnis, Anda tinggal mengawasi dan turun tangan kalau ada hal yang perlu Anda lakukan,” ungkapnya memberi kiat.

Membuat kesalahan adalah lumrah, kata Branson, namun bertindak cepat memperbaikinya adalah lebih penting daripada membiarkan kesalahan tersebut terus menggerogoti bisnis Anda. Menurut dia, masalah utama para pendiri bisnis adalah kemampuan memetakan ke mana mereka akan pergi ke depannya.

“Ketika Anda melihat sebuah peluang yang tidak terpikirkan oleh orang lain,” jelas Branson, Anda mungkin mulai merumuskan rencana bisnis yang inovatif, mencari pendanaan, memperkerjakan orang yang tepat, “Namun apakah semua itu sudah cukup membuat bisnis Anda berjalan lancar?,” ungkapnya mempertanyakan

Hal yang patut diperhatikan, lanjut dia, adalah menjaga pengeluaran perusahaan tetap di bawah kendali Anda, “Singkirkan pengeluaran yang tidak penting, seperti mengejar gaya hidup. Ingat, tujuan utama bisnis adalah menghasilkan uang, bukan mengeluarkan uang,” ucapnya berpesan.

Penampilan Branson, memang senantiasa terkesan berpakaian seenaknya, bahkan terkesan urakan. Namun menurut dia, pakaian yang ia kenakan tidak akan mempengaruhi kualitas dan kapasitasnya sebagai seorang pelaku bisnis.

“Saat mengenakan baju tidur kapasitas dan kemampuan saya tidak berkurang, begitu juga sebaliknya mengenakan jas dan setelan resmi tidak dapat meningkatkan kapasitas saya sebagai seorang pebisnis,” ungkapnya berprinsip melabrak kaidah dan teori ala buku ekonomi, tentu saja dengan kocek melimpah ruah hingga Rp 35,7 trilyun.

BERITA TERKAIT

Infiniti Perkenalkan All New QX50 Dengan Mesin Baru

Infiniti memperkenalkan medium sport utility vehicle (SUV) kelas premium, All New QX50, yang menggunakan mesin bensin terbaru VC Turbo dengan…

Mengenal Penyakit Endometriosis dan Fibroid

Zaskia Sungkar baru saja menjalani operasi endometriosis dan fibroid di Kuala Lumpur, Malaysia. Sebenarnya apa itu endometriosis dan fibroid? Endometriosis…

Telkomsel Bantu 5000 Anak Yatim Piatu di 4 Kota - Berbagi Kasih dan Sukacita Sambut Natal

Berbagi kebahagian dan kecerian dalam rangka menyambut hari raya Natal 2017, Telkomsel menggelar rangkaian kegiatan kepedulian sosial dengan tema “Saatnya…

BERITA LAINNYA DI PROFIL

Proses Belajar Tak Mengenal Batas - Diding Sudirdja Anwar, Presdir Perum Jamkrindo

“Jangan pernah berpikir untuk berhenti belajar. Meski sudah berada di posisi puncak sebuah perusahaan, jangan pernah berpuas diri. Teruslah belajar,…

Tanto Darmawan Sutjipto Pemilik, PT Metro Taruna Agency - Menuai Sukses Dimulai Dari Tukang Antar Koran

Sejatinya hiruk pikuk dan branding sebuah media tidak lepas dari jasa para pengecer, loper, hingga agen sebuah surat kabar. Oleh…

Ade Sudrajat Usman, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) - Industri Tekstil Siap Bersaing di Pasar Global

Industri tekstil mengaku yang paling siap menyongsong Indonesia kembali bergabung dalam perdagangan bebas Trans Pacific Partnership (TPP). Namun, ada beberapa…